Selasa, 24 Juli 2018

Jaga Virgin Sampe Kawin


   Hayo, siapa di antara kamu yang cewek yang masih virgin? Oppss.. sori, nanyanya sensanif, eh sensitif banget ya? Ehm.. maklumlah, jaman kiwari soal virginitas kayaknya makin murah aja. Kesannya gampangan untuk diobral atau malah cuci gudang, gitu deh. Nggak percaya? Banyak kasus kok kalo kamu mau jeli melihat dan merasakan bahwa hubungan cowok-cewek di kalangan remaja udah sampe batas yang mengkhawatirkan banget. Mau bukti? Coba deh baca aja koran, majalah, tabloid, atau nonton berita di televisi dan surfing di internet.

   Sekadar contoh nih, Hasil survei yang dilakukan oleh Annisa Fondation cukup mengejutkan karena 42,3% pelajar perempuan telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Siaran pers lembaga independen yang bergerak di bidang kemanusian dan kesejahteraan gender ini, menerangkan sebanyak 42,3 persen pelajar di Cianjur sudah hilang keperawanannya saat duduk di bangku sekolah. Parahnya, mereka yang terlibat kegiatan seks bebas itu bukan berarti karena tidak mengerti atau tidak paham nilai agama atau budi pekerti. Sebab hampir 90 persen dari mereka mengaku praktik hubungan seksual di luar nikah merupakan perbuatan dosa yang seharusnya dihindari. (Hidayatullah.com, 12/02/2007), Nah lho, ini sekadar satu contoh, dulu di tahun 2002 sempat heboh juga saat penelitian yang dilakukan Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah. 

   Bro, emang sih dalam setiap penelitian bisa berbeda metode dan analisis datanya, itu sebabnya, banyak orang yang juga meragukan beberapa hasil penelitian. Sebabnya, mungkin saja orang bisa berbohong dengan statistik. Okelah, untuk kasus seks bebas yang salah satu dampaknya adalah harga keperawanan jadi begitu murah (backsound: dan ini berbanding terbalik dengan harga sembako untuk saat ini), sebenarnya tanpa memperhatikan hasil survei dan penelitian dari lembaga manapun, faktanya memang bisa dengan mudah kita saksikan via media massa atau dalam kehidupan sehari-hari. Lagian, survei kan ‘sekadar’ ingin mengetahui level positif atau negatif dari sebuah obyek survei/penelitian dalam bentuk angka atau prosentasi jumlah. Itu sebabnya, jika ada dua orang saja yang melakukan perbuatan seks bebas, artinya tetap harus menjadi perhatian dan dicari solusinya. Tul nggak sih?

Hati-hati dengan kelaminmu! 
     Sobat, pernah nggak beli barang tertentu dan nggak boleh coba-coba sebelum kita pasti akan membelinya? Ada banyak penjual barang tertentu yang sama sekali tidak membolehkan barang yang hendak dijualnya itu dijajal terlebih dahulu oleh calon pembelinya tanpa pasti akan membeli tuh barang. Memang tidak semua barang, tapi ada barang tertentu. Pengalaman saya sih, beberapa kali membeli ponsel untuk sendiri, istri dan nganter teman, tuh barang hanya boleh dilihat-lihat saja brosurnya, atau modelnya (replika) saja. Sementara barang aslinya tetap ada di kardusnya dan disegel. Baru deh ketika kita hendak membelinya dengan pasti, kardusnya dibuka, ponselnya dikeluarin dan bisa langsung digunakan. Uangnya tentu saja kita berikan karena udah jadi beli. 

   Tapi banyak juga barang yang dijual bebas dan pembeli bisa leluasa mencoba bin menjajalnya tak perlu khawatir ada kewajiban harus membelinya. Artinya, bebas mencoba dan kalo nggak cocok nggak akan dibeli. Misalnya, beli sepatu. Pengalaman sih begitu. Tapi mungkin saja kalo beli sepatunya merek terkenal dan harganya cukup mahal bisa saja sang penjual menerapkan kebijakan tanpa mencoba, pembeli hanya diperbolehkan melihat replikanya dan menyesuaikan ukurannya saja. Jika cocok dan hendak membeli maka tuh barang akan dikeluarkan dari wadahnya. 

Bro, untuk jualan dan membeli barang saja betapa telitinya kita, betapa ketatnya menjaga kualitas,  dan amat memperhatikan kesempurnaan. Dan, untuk semua itu, ada kompensasi harga yang nggak sedikit. Nah, tentu saja logikanya, untuk harga sebuah virginitas atau keperawanan ini, sangatlah mahal. Persoalannya bukan lagi menyangkut persepsi orang lain terhadap kita, tapi lebih dari itu adalah penilaian Allah Swt. terhadap ketakwaan kita. Sebab, sebagai seorang muslim, perbuatan kita senantiasa akan dipantau dan dinilai oleh Allah Swt. 

Oke, itu sebabnya kita nggak boleh lho mengobral kelamin kita begitu murahnya, bahkan tak berharga. Jangan sampe kamu bertekuk lutut dan berbuka paha di hadapan cowok yang belum sah jadi suami kamu. Meskipun itu pacarmu, tapi tetap saja pacarmu bukan suamimu, toh? Ibarat kendaraan bermotor, kamu belum punya BPKB alias Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor. Boleh dibilang kamu “memilikinya” dengan cara ilegal (hati-hati kena tilang lho!). Iya dong, gimana bisa disebut legal, wong bukti kepemilikan aja kita nggak punya. Nah, sama dengan pacaran. Pacaran itu kan ‘HTI’ alias hubungan tanpa ikatan. Benar kan? Coba, memangnya kalo pacaran ada tanda bukti tertulis tentang sebuah ikatan dan perjanjian seperti halnya dalam buku nikah? Nggak ada kan? (semoga tidak ada yang nekat merencanakan bikin buku legalitas sebagai bukti pengesahan atas aktivitas pacaran. Hmm...) 

 ketika kamu pacaran, kamu cuma boleh bilang, dan memang cuma bisa bilang ke teman-teman kamu bahwa yang kamu gandeng ke tempat kondangan itu adalah sebagai pacarmu, bukan suamimu. Dari definisi ini saja sudah jelas bahwa pacar emang beda dengan pengertian istri atau suami. Itu artinya, tidak ada hak dan kewajiban sebagaimana yang ada dalam hubungan suamiistri. Dengan kata lain, karena statusnya sebagai pacar, maka tidak bisa (dan memang tidak boleh en nggak berhak) melakukan kegiatan layaknya mereka yang sudah terikat pernikahan. Meski kamu dalam pacaran nekat memanggil pasangan dengan “mama-papa”, tapi bukan berarti boleh juga melakukan “kegiatan mama-papa” seperti dalam ikatan pernikahan. Karena memang akan dinilai berbeda dan jelas definisi dari kegiatannya pun akan berbeda, gitu lho. 

Misalnya, kalo kamu menggandeng tangan pacarmu dengan mesra, maka kemesraan kalian berdua justru dilarang oleh Allah Swt. Kenapa? Karena bermesraan dengan orang yang belum halal menjadi pasanganmu adalah berdosa. Tapi kalo sudah resmi menjadi suamiistri, jangankan sekadar menggandeng tangan, menciumi dan berpelukan mesra, bahkan berhubungan seksual pun halal dilakukan. Jadi intinya, kalo pas pacaran kegiatan seperti itu dinilai dosa, maka setelah menikah bernilai pahala. Jelas beda banget kan?

Kendalikan nafsumu! 
     Memang, kalo menurut PNdK alias Penelusuran Nafsu dan Kekuatan, sangat boleh jadi mereka yang pacaran sangat memenuhi kriteria ini. Maklum, soal nafsu dan kekuatan emang bisa mengalahkan akal sehat dan juga keimanan. Sebab, ketika keimanan yang cuma nyangkut di KTP itu, setan pun getol bergerilya dan menaburkan jerat-jerat dan mengobarkan hawa nafsu kepada mereka yang imannya kendor. Kalo udah gitu, setan tinggal jejingkrakan sambil diriingi irama kesesatan karena udah berhasil menjerumuskan manusia ke jurang nista karena akal sehat dan imannya terkubur hawa nafsu. 

Benar adanya firman Allah Swt.: 
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jaatsiyah [45]: 23)

Sobat, dalam kamus virgin itu bermakna keperawanan. Artinya, tak pernah melakukan seks. Dalam Encarta Dictionary Tools misalnya, virgin diartikan sebagai: somebody, especially a woman, who has never had sexual intercourse . Sementara pengertian perawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni (tt anak perempuan). (KBBI, 2003, hlm. 855).

Boys and gals , dari pengertian menurut kamus tersebut, tentunya kita harus berhatihati dengan kelamin kita. Nggak boleh diobral dan dijajal or diujicoba sebelum waktunya, yakni sebelum menikah. Pemuasan hawa nafsu melalui kelamin masing-masing hanya halal setelah adanya pernikahan di antara kalian. Kalo belum terikat pernikahan? Itu namanya perzinaan. Dosa besar dalam ajaran agama kita. Dalam sebagian jalan (riwayat) hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari , bahwa Nabi saw. bersabda: “Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik keatas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.

Nah, itulah hukuman di akhirat nanti yang bakal dijalani oleh para pezina. Jadi, kalo sekarang ada teman-teman kamu yang merasa aman-aman saja karena nggak dapat hukuman di dunia—karena nggak diterapkan aturan Islam—siap-siaplah karena Allah akan memberi adzab yang pedih dan berat di akhirat kelak. Firman Allah Swt.: “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan kedalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “ Rasakanlah azab yang membakar ini”. (QS al-Hajj [22]: 22) 

Lalu, bagi yang menjaga diri dari perbuatan tersebut? Allah akan memberikan pahala dan tempat yang baik di surga. Abu Hurairah dan Ibnu Abbas r.a. berkata: “Rasulullah Saw. berkhutbah sebelum wafatnya, yang di antaranya beliau bersabda: “ Barang siapa mampu bersetubuh dengan wanita atau gadis secara haram, lalu dia meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah menjaganya pada hari yang penuh ketakutan yang besar (kiamat), diharamkannya masuk neraka dan memasukkannya ke dalam surga.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin). 

Hmm.. adil banget. Untuk yang maksiat, ganjarannya neraka, dan untuk yang beramal shalih, ganjarannya surga. Ayo, pilih mana? Orang cerdas dan takwa, pasti pilih surga . So , buat kamu para cewek, kendalikan nafsumu: jaga virgin sampe kawin! Gimana, setuju kan? 





Senin, 23 Juli 2018

Balada Para Game-Mania


Yang namanya permainan emang nggak ada matinya. Inget jadul – jaman dulu – kita suka maen gobag sodor, kelereng, layangan, dll. Biasanya hampir nggak inget waktu. Main dari dluhur sampe ampir maghrib. Sholat aja bisa keliwat, bro! Nah, berhubung ini jaman udah canggih, dolanan anak sekarang juga ikutan canggih; video game. Tengok aja di tempat kamu tinggal. Ampir tiap gang ada rental PS 2. Belum lagi yang rental-rental komputer en warnet nggak cuma nyediain jasa pengetikan, tapi juga penyewaan game. Dengan teknologi on line orang bisa main game rame-rame. Nggak cuma itu, dengan ditemukannya dunia maya, kini game juga bisa dimainkan lintas kota malah lintas benua. Banyak temen-temen kamu yang sering main game on line bareng dengan gamer dari berbagai lokasi. Tapi buat kamu yang udah menyandang sebutan gamer, nyadar nggak sih sebetulnya video game itu juga menyimpan efek negatif? Nah, kalo belum tahu itu yang mau kita omongin di artikel kali ini.

Hukum main video game 
     Yang namanya permainan pastinya diciptakan untuk menghibur. Ya, kalo pikiran udah mampet, badan terasa letih, manusia manapun pastinya butuh hiburan. Baik untuk mengalihkan kesibukan atau melepaskan ketegangan. Itulah tujuan permainan, ajang relaksasi/istirahat bagi kita. Nah, soal menghibur diri, sudah diberikan aturannya oleh agama. Mencari hiburan buat seorang muslim adalah boleh/mubah selama dengan yang halal. Tapi kalau sudah menghibur diri dengan yang haram ya jelas haram dong. Ada kisah yang menarik ketika seorang sahabat yang bernama Handhalah al Asidi ra. berdialog dengan Nabi Muhammad saw. Suatu ketika ia mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Handhalah telah berbuat nifak, duhai Rasulullah.” “Apa gerangan yang menimpamu?” tanya Beliau saw. “Duhai Rasulullah, kami saat bersamamu diingatkan tentang neraka dan surga sehingga kami seolah-olah menyaksikannya dengan mata kepala kami sendiri, tetapi jika kami telah pergi darimu dan menjumpai istri-istri dan anak-anak kami, kami banyak lupa dan lalai.” Rasulullah saw. berkata, 
“Demi jiwaku yang berada di genggamanNya, sesungguhnya jika kalian tetap berada pada apa yang ada di sisiku, dan berzikir, niscaya para malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan di jalanjalanmu, akan tetapi duhai Handlalah sesaat, sesaat, sesaat” (HR Bukhari).

     Ya, kalo hidup ini diisi dengan keseriusan melulu, atau malah ibadah melulu, kalbu manusia bisa mencapai titik jenuh. Lama-lama orang bisa stres. Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah berkata, “Hiburlah hatimu sekadarnya, sebab hati itu apabila lelah ia menjadi buta.” Mengenai permainan dan hiburan ini para ulama membagi menjadi dua macam. Pertama, hiburan dan permainan yang haram, seperti berjudi, tari-tarian erotis dan dibawakan oleh pria dan wanita di muka umum, juga nyanyian yang berlirik merusak agama, dsb. Kedua, hiburan dan permainan yang boleh (mubah), seperti olahraga, nyanyian dengan lirik yang sopan juga tarian yang dibawakan di hadapan mahram atau suami, bepergian dengan keluarga (tamasya), dsb. Imam Syathibi dalam kitabnya alMuwafaqat jilid II hlm. 195 berkata: “Hiburan, permainan dan keadaan yang kosong dari kesibukan/santai, jika tidak terdapat suatu hal yang terlarang adalah mubah/boleh . ” Lebih lanjut beliau berkata lagi, “Namun demikian hal ini tercela dan tidak disukai oleh para ulama, bahkan mereka tidak menyukai seseorang yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia maupun tempat kembali di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan hasil duniawi atau ukhrawi. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh alHakim dengan sanad shahih, ‘Setiap permainan didunia ini adalah batil, kecuali tiga hal ; memanah, menjinakkan kuda, dan bercanda dengan istri…’” Yang dimaksud batil di sini adalah sia-sia atau tidak berguna. 
   
     Bermain video game ya boleh-boleh saja. Selama tujuannya untuk menghibur diri. Lagipula bermain itu memang memberikan manfaat lho buat kita. Dalam buku Game-Mania yang kebetulan saya tulis, saya mencantumkan pendapat para pakar mengenai manfaat permainan video game ini. Menurut Antropolog UGM Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra permainan berteknologi tinggi seperti halnya permainan elektronik, pada dasarnya tidak bersifat negatif. ‘’Permainan elektronik seperti video game dan permainan sejenisnya, pada dasarnya tidak bersifat negatif. Masalahnya, dalam permainan itu si anak diajak bermain lebih baik, untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Jadi sifatnya, lebih pada memberikan tantangan,’’ jelasnya. Wah, girang banget deh para gamer . Pakar pendidikan anak-anak dan remaja, Kak Seto Mulyadi juga berpendapat bahwa beberapa game juga melatih kemampuan anak mengatur strategi dan taktik. Para gamer juga dilatih untuk mengembangkan kecerdasan moral. Tapi beliau juga berpesan agar orangtua mendampingi anak-anaknya bermain, mengajak berdiskusi, dan mengatur waktu.

Sst, ada bahayanya juga
     Guyz, apapun di dunia ini kalau udah overdosis pastinya berbahaya. Kebanyakan makan bikin perut sakit, kebanyakan minum bikin perut kembung, dsb. Nah, kebanyakan main video game juga sama berbahaya. Ternyata banyak penelitian yang menunjukkan ancaman video game terhadap kesehatan seorang gamer yang udah kecanduan.Dalam buku Game-Mania dituliskan sejumlah gangguan kesehatan yang mengancam para gamer kalo udah kecanduan. Di antaranya:
     Pertama, sindrom pada tangan. 
Pernah ngerasa pegel-pegel pada jari dan tangan sehabis main video game ? Sering? Atiati, brur! Cos , menurut catatan Gavin Cleary seorang dokter di Rumah Sakit Great Ormond Street London , gamer yang memakai joystick atau pad dengan mode getar ( vibrate mode ) selama 7 jam sehari, bisa terkena semacam sindrom berupa pembengkakan dan rasa nyeri pada tangan pemakainya. 
     Kedua, nyakitin otak. 
Wacks! Siapa sih yang mau otaknya rusak? Emang nggak ada yang mau, tapi kenyataannya video game bisa merusak otak. Satu penelitian di Inggris menunjukkan bahwa permainan v i d e o g a m e dapat mempengaruhi komposisi sekresi dopamin di  otak. Perubahan ini diduga terkait dengan tingkat kepekaan otak dalam merespon sejumlah input rangsangan syaraf. Dari analisa terhadap citra hasil pemindaian scanning otak yang dilakukan oleh Dr Paul M. Grasby dan koleganya di Hammersmith Hospital dan Imperial College of Medicine, London, menjejak adanya aktivitas yang memacu pelepasan dopamine. Dopamine adalah satu senyawa kimia yang bertanggungjawab dengan masalah koordinasi gerak dan kegiatan nalar. Oya, kecanduan main game juga bisa memicu penyakit schizophrenia dan depresi, lho. Mau kena schizophrenia? Iy, amit-amit!
     Ketiga, merusak mata. 
 Wah, ini sih untuk nakut-nakutin anak kecil! Suer, ini serius! Bukan cuma untuk nakut-nakutin. Boleh aja para gamer yang udah kecanduan nggak percaya. Tapi simak dulu penuturan DR. Tjahjono Darminto Gondhowiardjo, Dr., Sp.M., Kepala Bagian/KSMF Ilmu Penyakit Mata FKUI/RSCM. Dijelaskan oleh beliau bahwa pada mata yang normal, bayangan benda dari tempat yang jauh akan jatuh dalam titik fokus tanpa mata perlu kerja. Mata kita baru perlu kerja kalau melihat dekat. Soalnya bila melihat dari jarak dekat, bayangan benda akan jatuh di belakang retina atau syaraf mata. “Nah, sekarang kalau kita melihat video game , di sana ada beberapa unsur yang berbeda,” kata dokter yang pernah dianugerahi predikat sebagai peneliti muda terbaik bidang kedokteran pada tahun 1994 oleh LIPI. Apanya yang beda? Satu, jaraknya. Dengan jarak yang demikian dekat, berarti mata harus bekerja berat. Dua, coba bandingkan kerja mata kita antara main video game dengan membaca koran atau buku. Waktu membaca surat kabar biasa yang hitam-putih, maka mata kita tidak akan mendapatkan banyak masalah seperti soal warna. Juga tidak ada masalah kontras, ketajaman dan sebagainya. Tapi pada video game , selalu ada background warna, masalah kontras, juga brightness (kecerahan). Dalam hal ini, anakanak biasanya tidak begitu peduli dengan masalah kontras dan sebagainya itu. 
     Tiga, soal kecepatan. Pergerakan pada layar video game itu diatur oleh kecepatan komputer atau mesinnya. Makin cepat mesin bergerak, makin cepat mata si anak harus mengejar. Tak pelak lagi, matanya tidak pernah punya kesempatan untuk istirahat. Dari jarak dekat, mata si anak terus bekerja, melirik ke kiri dan ke kanan. Begitu pun tangannya, aktif memencet tombol. “Bila dibandingkan orang dewasa yang kerja biasa misalnya membaca atau menulis, maka mata anak-anak itu (para gamer) bekerja dua setengah hingga empat kali lebih berat,” papar dosen teladan ke II dalam seleksi yang diadakan FKUI pada tahun 1995 ini. Nah, gimana masih sayang nggak sama badan sendiri? Main gim boleh-boleh saja, tapi kalau sampai tangan kena sindrom, otak jadi schizofrenia , en mata jadi cape, pikir-pikir lagi. Seorang remaja muslim yang oke, pastinya sayang sama badannya sendiri. Inget lho, badan kita cuma satu-satunya. Susah malah mustahil ada sparepart untuk organ-organ tubuh kita. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pada badanmu ada hak dan sesungguhnya pada matamu ada hak,” (HR Bukhari).
     So , bukannya kagak boleh main videogame. Tapi inget kesehatan, bro! Sebagai peringatan terakhir, ada seorang cowok asal Korea Selatan, 38 tahun, tewas akibat kelelahan setelah main game di internet selama 10 hari nonstop. Menurut polisi, laki-laki itu bermain sepanjang hari dari pagi hingga malam dan bahkan sering melewatkan waktu tidur ( Koran Tempo , 15/12/2005). Ck,ck, ck. Jadi, bukan cuma putaw aja yang bisa bikin orang ‘lewat’ kalau OD (overdosis), video game juga bisa bisa ‘membunuh’ orang. 

     Selain menimbulkan gangguan kesehatan, main video game yang mencapai level overdosis juga menimbulkan efek antisosial. Iyalah, seorang gamer yang udah addicted pastinya malas keluar rumah, ogah ketemu keluarga, belajar jadi loyo. Banyak lho karyawan yang kerjanya amburadul gara-gara kecanduan main game baik di PC ataupun konsol macam PS. Yang juga kudu diwaspadi, nggak sedikit game yang muatannya antisosial seperti kekerasan dan pornografi. Tahun lalu pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa membanned /melarang peredaran game bertitel Manhunt 2 . Ini game konon isinya mengumbar sadisme. Dan masih banyak lagi game-game baik untuk konsol ataupun PC yang peredarannya diawasi ketat oleh sejumlah negara, baik karena mengumbar sadisme, pornografi atau rasialisme.

     Jadi gimana dong? Saran kita neh, utamakan deh kegiatan yang positif, mencerdaskan akal, memajukan umat Islam dan menyehatkan badan ketimbang main video game. Apalagi di Indonesia belum ada tuh badan resmi yang melakukan pengawasan terhadap isi game-game yang beradar. Padahal banyak di antara game itu yang isinya bisa ngerusak generasi muda. Halah, bangsa Indonesia memang telat mulu kalo udah urusan yang bener dan baik. Plus, cenderung cuek, gitu. Kacian deh para gamer . 

Minggu, 22 Juli 2018

Teman-temanku Gangster


     Gang-gang yang menyeramkan ala Yakuza en mafia Italia, ternyata nggak hanya eksis di film, tapi ada deket-deket sini. Ya, jantung orangtua dan para guru sempet dibikin dagdig-dug-der dengan temuan media massa dan kepolisian ada gang-gang yang berkeliaran di lingkungan remaja. Sesuai namanya, gang , mereka banyak terlibat kegiatan negatif; pemalakan, pemukulan bahkan perampasan. Akibat perbuatan gang ini, korban pun berjatuhan. Sebut aja teman kamu yang bernama M Fadhil sampe mengalami patah lengannya karena dianiaya gang sekolahnya, SMA 34 Jakarta. Fadhil bercerita bahwa selain disiksa ia juga sering diminta untuk ngebantu pemalakan di sekolahnya. Sampai kemudian ortunya curiga setelah ia mengalami patah tulang dan ngebolos sekolah (detik.com, 11 Nopember 2007)

Bikin resah 
     Apa yang diterima Fadhil ternyata bukan barang baru di sekolahnya. Meski sekolah unggulan, ternyata nggak gampang menghentikan kekerasan yang terorganisir. Banyak siswa yang udah terlibat dalam lingkaran gang yang kemudian diketahui bernama Gazper itu. Banyak para guru dan orangtua yang nggak berdaya. Seorang guru SMA 34 bercerita bahwa sekolahnya pernah mengeluarkan seorang siswa karena terlibat tawuran, tapi murid-murid yang lain menggalang solidaritas; berdemo dan mencaci-maki guru. Maka, begitu orangtua Fadhil melaporkan anggota gang ini ke pihak kepolisian, banyak guru yang mengirim SMS ucapan terima kasih. Pasalnya mereka nyaris nggak berdaya menghadapi perilaku siswa anggota gang. 
     Sahabat,,bisa jadi nggak ada di satu sekolah, tapi juga eksis di berbagai sekolah. Kalau di SMA 34 Jakarta ada Gazper, di SMA 112 Jakarta ada juga gang Black & White . Sama dengan Gazper, kelompok ini bikin rese. Sebut aja Ibu Yani (50) yang kedua anaknya jadi anggota gang ini mengeluh karena ngerasa udah nggak mampu berbuat apa-apa lagi menghadapi kelakuan dua anaknya. Malah pernah ia dibentak dan ditunjuk-tunjuk anaknya, “Mama jangan ikut campur, cerewet aja kayak anjing kesurupan!” Astaghfirullah! Kegiatan gang di berbagai sekolah selama ini emang identik dengan kegiatan negatif; tawuran, pemalakan, kekerasan antarsiswa ( bullying ), sampai peredaran narkoba. Pelakunya nggak hanya cowok, yang cewek juga ada yang terlibat. Di SMA 34 misalnya sejumlah siswi kelas XII anggota pemandu sorak ( cheerleaders ) menculik dan meneror siswi kelas X hanya gara-gara berebut cowok.

     Aksi gang ini nggak cuma kerjaan anak SMA, sejumlah gang juga dibuat anak-anak SMP. Seperti kagak mau kalah ama kakak-kakaknya di SMA, mereka juga kerap bikin kerusuhan, tawuran, kebut-kebutan dan pemalakan. Disadari atau nggak oleh para anggota gang ini, aksi-aksi mereka berlanjut ke tingkat kejahatan yang lebih tinggi. Awalnya mungkin kriminalitas kelas teri seperti malak atau ngancem, tapi suatu ketika bisa saja berubah jadi perampasan atau perampokan. Pada tahap berikutnya, bisa jadi gang-gang seperti itu menjadi mata rantai peredaran narkoba atau kejahatan terorganisir.

Solidaritas dan kebanggaan 
     Kenapa bermunculan gang-gang seperti itu? Jawabannya ada dua alasan. Pertama soal jati diri. Remaja kan makhluk yang lagi haus pengakuan dan mencari jati diri. Dengan menjadi anggota gang mereka diakui sama orang lain–minimal ama gangnya–dan punya jati diri. Pake jaket kelompok atau atribut-atribut lain termasuk tato. Udah gitu, kalo bisa melakukan tindakan kriminal bukannya malu justru bangga. Ada seorang anggota gang yang ngaku bahwa kalo mereka ketangkep terus masuk penjara, justru nambah pede mereka untuk melakukan tindakan berikutnya. Hmm... dasar muka tembok kulit badak body batu! Alasan lain adalah soal solidaritas.
Manusia kan makhluk sosial, nah karena para pelajar juga manusia mereka pun seneng kumpul-kumpul. Supaya lebih solid maka dibentuklah sebuah ikatan termasuk gang itu adalah ikatan solidaritas para pelajar dan remaja. Seperti diakui oleh para pendiri gang di SMA 34 Jakarta, mereka mendirikan gang itu untuk solidaritas siswa. Bahasa lainnya mengalang kebersamaan. Bahkan kebersamaan itu terus berkelanjutan sampai mereka sudah jadi alumnus sekalipun. 

     Niatnya sih suer emang bagus, tapi selalu aja kebersamaan yang nggak terkontrol bisa berubah jadi gang kriminal. Entah kenapa banyak gang remaja dan pelajar yang kemudian melakukan aktivitas menyimpang. Melakukan bullying dan pemalakan. Beberapa gang malah selalu melakukan perploncoan dengan kekerasan pada anggota baru. Seperti yang kamu lihat di layar kaca, gang bermotor bahkan ‘mewajibkan’ calon anggotanya saling berkelahi. Beneran berkelahi, lho! Solidaritas ngawur itu juga mendorong anggota gang menyerang gang lain. Prinsipnya, beda kelompok sikat! Lucunya, mereka juga bisa memanipulasi solidaritas kelompok untuk kepentingan pribadi; nyerang lawan atau ngerampas barang. Solidaritas yang out of control itu emang berpotensi jadi bibit triad atau mafia. Mereka memplesetkan slogan Presiden SBY; “Bersama Kita Bisa!” So , para pelajar itu nggak takut lagi jadi ‘monster’. Mereka berani malak dan kasar pada orang lain – termasuk guru dan orang tua – karena percaya bakal dilindungi ama kelompoknya. Musibah!

     Makanya banyak guru dan kepsek yang kèder ngadepin perilaku gang. Mereka saling melindungi. Kalau diinvestigasi mereka biasanya melakukan GTM (gerakan tutup mulut). Entah karena setia atau takut. Wajar kalo kemudian anggota gang ini lebih percaya pada gang-nya ketimbang sama orang lain, termasuk orangtua sekalipun. Yang bikin ngeri, mereka juga nggak pandang bulu kalo ingin menyerang orang lain meski itu saudara sendiri. Tapi kesetiaan pada kelompok/gang nggak semata karena saling percaya, tapi juga karena ada unsur ketakutan. Yup, banyak pelajar yang terpaksa jadi anggota gang atau melakukan keinginan kelompok karena dibawah ancaman. Mereka nggak berani menolak karena ogah dibilang cupu (culun punya) atau banci. Ngelapor? Wah, mana berani. Entar dikatain MT (makan temen) atau paling parah bakal dihabisin ama gangnya. Padahal, ketika mereka jadi anggota gang, posisi mereka jadi serba salah; ikutan terus nanti kebawa kriminal, kalo keluar keselamatan terancam. Maju kena, mundur kena.

Emang ada untungnya? 
     Pikir deh, sahabat, ada nggak seh untungnya bikin gang dan jadi member di situ kalo malah nge-rese-in orang lain dan diri sendiri? Ketika mau jadi member kamu udah dikerjain abis. En kalau udah ada di dalam, nggak mudah menolak keinginan gang apalagi minta keluar. Perlu keberanian ekstra, bro! Belum lagi kalo gang itu udah jelas kerjaannya nyusahin orang lain; malak dan bullying . Kepikir nggak kalo itu adalah perbuatan kriminal. Bayangin gimana rasanya kalo kita yang ngalamin seperti itu? Bayangin juga kalo ortumu tahu, apa nggak bakal malu seumur-umur? Yang paling penting, neh, apa nggak takut dan malu pada Allah? Hmm, sehebat-hebatnya anggota gang nggak bakal bisa menahan derita di akhirat kelak. Bukankah kita semua bakal mati en balik menghadap Allah Swt.? Bukankah segala perbuatan kita bakal dibales di akhirat sana? Padahal tindakan kekerasan dan pemerasan jelas dibenci Allah Ta’ala .  Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala pasti akan menyiksa pula orang-orang yang melakukan penyiksaan didunia . ” (HR. Muslim).

     So , jangan mentang-mentang kamu senior atau punya gang lalu meneror orang lain seenaknya, atau malakin orang lain semau kamu. Semua bakal ada balasannya. Bisa jadi ente sekarang sok kuasa dan orang lain takut sama ente, tapi percaya aja Brur, kelakuan ente bakal dibales Allah di hari Kiamat. Rasulullah saw. bersabda: “ Sungguh semua hak pasti akan dikembalikan pada yang berhak pada hari Kiamat, hingga kambing yang tidak bertanduk diberi kesempatan membalas pada kambing bertanduk.” (HR Muslim) Senang berkelompok itu sah aja, tapi kalo udah ngebanggain kelompok apalagi rela mati demi kelompok, itu mah rugi banget. Bukan bagian dari jiwa seorang muslim. Kalo sampe mati ngebelain gang wah nggak bakal masuk ke dalam surga. Rasulullah saw. udah ngingetin dalam sabdanya: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.” (HR Abu Daud).

     Udah deh Brur, sesama muslim itu bersaudara. Pantang mencelakakan sesama. Lagian, apa pantes sesama muslim gebuggebugan dan saling menumpahkan darah? Aduh, Israel masih bercokol dan AS masih berlaga kenapa nggak mereka aja yang kita gempur? Bodoh banget kalo sesama muslim malah saling bunuh. Inget pesan Rasulullah saw.: “Jika dua orang muslim bertemu dengan pedangnya masing-masing maka yang membunuh dan yang terbunuh berada di neraka.” Aku (Abu Bakrah ra.) bertanya, “Ya, Rasulullah! Yang pembunuh sudah pasti, tapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Rasulullah saw. menjawab, “ Sesungguhnya ia telah berniat sungguh sungguh untuk membunuh tema nnya. ” (HR Bukhari).
Apalagi kalo yang terbunuh orang yang kagak punya salah apa-apa. Hanya karena ia bergaul dengan ‘lawan’ gang-mu. Wah, nggak kebayang dosa-dosa yang kudu ditanggung. Firman Allah Ta’ala : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS an-Nisa’ [04]: 93).

Keluar, Bro! 
     Buat kamu-kamu yang udah berada di lingkungan gangster, saatnya beri ‘perlawanan’. Speak out, guyz! Katakan pada kelompokmu bahwa selama ini kalian berada di jalan yang salah. Apalagi kamu-kamu yang muslim nggak pantes ngelakuin perkara yang jahiliyah, pamer kekuatan dan kekasaran. Bicara juga pada ortumu tentang lingkungan pergaulan yang udah nggak sehat itu. Katakan terus terang juga pada gurugurumu, dan minta mereka menyelesaikan urusan ini sampai tuntas. Ini keberanian sejati yang kudu dimiliki seorang remaja muslim. Berani bukan karena banyakan, tapi karena benar. Catet yo! So , ati-ati memilih kawan. Jangan karena takut dibilang nggak gaul, dikatain cupu en banci lantas mengorbankan masa depanmu di tangan para gangster. Lagian, solidaritas yang mereka bilang itu umumnya semu, palsu abiz, coy! Coba aja kalo ada member yang dipenjara mereka
rata-rata menjauh. Apalagi nih, kalau seandainya ada member yang nanti masuk neraka dan diazab sama Allah Swt., apa mereka berani nolongin dan ngelawan Allah? Pastinya kagak lha, yauw! Jadi, nggak ada ruginya kita meninggalkan teman-teman yang perilakunya kayak gangster, gitu. Cari deh teman dan sahabat dalam pertemanan dan persahabatan yang sehat dan bikin kita hepi di dunia wal akhirat. Setuju kan? Harus atuh..hehehehe
 



Sabtu, 21 Juli 2018

Berpacu Melawan Waktu


     Ngomongin soal waktu sebenarnya udah sering banget dibahas ya? Sebab, setiap dari diri kita masingmasing pasti udah punya sistem management sendiri dalam mengatur kebiasaan hidup kita. Jadi sebenarnya kalo mau disamakan modelnya agak susah. Tapi yang terpenting dalam mengatur waktu adalah pastikan sesuai dengan tujuan dan tak ada waktu yang disia-siakan begitu saja. 

Sebab, waktu ini akan terus berjalan. Sang waktu nggak perlu minta ijin sama kita yang lagi bengong, main gaple, main gim, ngobrol nggak jelas, dan aktivitas miskin manfaat lainnya atau malah yang maksiat. Waktu bakalan terus berlari meninggalkan kita yang aktif maupun yang nggak pernah bergerak sedikit pun. 

Sering tak terasa, waktu seminggu sangat cepat, itu kita tahu setelah kita melewatinya. Bagi kita yang melewatinya dengan banyak amal baik insya Allah menjadi tabungan pahala kita kelak. Tapi bagi kita yang melewati hari demi hari dalam seminggu itu hanya dengan bengong dan bertopang dagu saja, rasa-rasanya sangat rugi, apalagi kalo melakukan maksiat, ruginya berlipat-lipat. Allah berfirman dalam al-Quran: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benarbenar berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3).

Waktu tak akan kembali 
     Masih ingat nggak lagunya Raihan yang terinspirasi dari hadis Rasulullah saw. tentang waktu? Yup, gini nih penggalan syairnya: “Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita tak akan menyesal/Masa usia kita jangan disiakan, kerana ia tak ‘kan kembali/Ingat lima perkara sebelum lima perkara/sehat sebelum sakit/muda sebelum tua/kaya sebelum miskin/ lapang sebelum sempit/hidup sebelum mati.” Yup, benar banget. 

Waktu punya karakter nggak bisa dikembalikan. Terus aja berlalu nggak peduli sama kita. Apa pernah kepikiran kita ingin meng-UNDO seperti pada program komputer? Waktu nggak bisa dikembalikan seperti ketika kita main internet dengan cara mengklik tombol BACK agar bisa mengulangi mengeksekusi sebuah situs web misalnya. Nggak. 

Waktu itu boleh dibilang hanya sekali jadi. Itu sebabnya, tugas kitalah yang kudu pandai memilih dan memilah dalam memanfaatkan waktu. Memang waktu adalah semacam ukuran yang kita sepakati bersama. 1 detik, 1 menit, 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 1 windu, 1 dasawarsa, 1 abad, dan seterusnya. Itu adalah ukuranukuran untuk memudahkan kita mengerjakan segala urusan kita. 

Adanya batasan waktu adalah agar kita mau mengaturnya dengan baik. Percuma banget kan kalo kita udah dikasih jadwal, udah sepakat dengan waktu yang dibuat, ternyata kita melanggar sendiri kesepakatan tersebut dengan tidak mentaatinya sesuai urutan waktu dan target. 
     
     Kalo bicara untung-rugi, tentu bagi kita yang nggak bisa memenuhi semua aturan itu akan rugi karena bisa jadi malah nggak melakukan apa-apa selama waktu yang sudah ditentukan kecuali melakukan kesia-siaan saja yang memang bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Nah, pada saat inilah kita udah kehilangan banyak waktu. 

Tentu saja waktu tak akan pernah balik lagi ngasih kesempatan buat kita untuk melakukan yang telah kita tinggalkan tersebut. Yang bisa dilakukan kita paling banter adalah memperbaiki pada kesempatan berikutnya. Tapi tetap tidak mengubah kondisi balik ke belakang. Karena yang terjadi adalah kita memperbaiki pada waktu yang lain dan selama itu pula kita udah kehilangan banyak kesempatan. Aduh, nggak banget deh! 

Nggak percaya? Bayangannya gini nih. Bagi kita yang nggak naik kelas tahun ini karena malas belajar, maka itu kondisi saat ini yang nggak bisa berubah. Tetep nggak naik kelas. Status kita tetap tinggal di kelas sementara teman yang lain udah di kelas berikutnya. Padahal itu terjadi dalam satu waktu, yakni pada kesempatan yang sama. Ya, sekarang ini. 

Kita insya Allah bisa naik kelas tapi itu terjadi nanti pada tahun depan. Beda kan? Jadi jangan main-main dengan waktu ya. Waktu nggak bakalan kembali lagi. Sekali jadi. So , jangan sampe kita merugikan diri kita sendiri garagara nggak bisa memanfaatkan waktu. Sumpah! Guys , seringkali kita merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu. Kayaknya singkat banget. 

Apa karena kita saking asyiknya menikmati hidup? Hmm.. bisa jadi itu emang faktor perasaan kita. Karena terlalu nikmat hidup di dunia. Tapi ingat juga lho, bahwa ada juga di antara teman kita yang sangat boleh jadi waktu berjalan sangat lambat. 

Misalnya, bagi orang yang berada di penjara, yang aktivitasnya nggak banyak dan muter di situ terus, waktu terasa berjalan lambat kayak keong.

     Waktu yang berjalan terasa cepat selain menunjukkan betapa nikmatnya hidup di dunia, juga menunjukkan bahwa kita semangat menjalani hidup. Banyak kegiatan kita lakukan, banyak janji kita buat, banyak prestasi yang terus kita raih, sehingga tak ada waktu untuk melamun ngeliatin jam berputar. 

Karena justru kita seolah sedang berlari melangkahi hari-hari berpacu dengan putaran jarum jam atau hentakan detik penanda waktu digital. Barangkali ini yang membuat kita merasakan waktu berlalu begitu cepat. Hikmahnya, jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan cepat ini dengan kegiatan yang miskin manfaat, atau malah bertabur maksiat. 

Kita nggak bisa balik lagi ke waktu tersebut. Yang bisa adalah memperbaiki dan itu butuh waktu lagi. Sementara mereka yang taat mengatur waktu dengan baik, akan menuai hasil yang bagus pada waktu yang sama dengan yang kita gunakan untuk kegiatan percuma. 

     Oya, karakter waktu yang cukup unik lainnya adalah bahwa waktu geraknya berbanding lurus. Semakin banyak waktu yang disediakan untuk hidup kita, maka sebanyak itu pula waktu yang diberikan. Itu sebabnya, setiap orang yang berbeda usia nggak bisa balapan soal umur. 

Jatahnya udah jelas dan dikasih sama. Tapi tetap sesuai start saat memulai hidup di dunia. Nah, karena nggak bisa balapan soal umur, pernah ada anekdot ketika seorang pemuda yang hendak menikahi seorang gadis pujaannya yang berusia lebih muda 3 tahun darinya. Tapi ayah si gadis nggak setuju lalu memberi alasan: “Boleh kamu menikah dengan anak saya, tapi nanti saat umur kamu dan anak saya sama”. Gubrak! 

Sobat, waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita nggak bisa minta ijin, misalnya mo cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti. 

Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang remeh-temeh, gitu. Nggak banget deh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. Setuju kan?
     
Memanfaatkan waktu 
     Waktu itu sebenarnya nggak bisa dijinakkan. Kalo kuda liar kita latih jadi baik insya Allah bisa. Tapi soal waktu, kita berbuat baik atau nggak, tetap aja jalan. Nggak peduli sama kita dan lurus-lurus saja. 

Nah, mungkin yang diperlukan itu adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dengan efektif. Bagaimana caranya? Pertama, biasakan kita membuat agenda harian. 

Diurut prioritasnya dari yang sangat penting, kemudian penting, dan biasa. Misalnya sekolah/ kuliah tentu menjadi prioritas utama, kemudian ke warnet, barangkali dianggap penting karena misalnya mencari bahan untuk tukul alias tugas kuliah, kemudian yang terkategori biasa misalnya pergi main ke rumah teman. 

Nah, utamakan yang sangat penting terlebih dahulu baru kemudian yang terakhir yang terkategori biasa. 
     Kedua, kita harus komitmen dengan apa yang udah kita buatkan jadwalnya. Karena kebiasaan banyak dari kita adalah menulis semua agenda, tapi nggak dikerjakan. Akhirnya malah keleleran . 

Ketiga, buat target. Ini penting. Apalagi jika yang akan dilakukan adalah “proyek besar” untuk masa depan kita. Jadi harus dibuat batasan waktunya, sehingga rencana yang sudah dibuat itu akan direalisasikan sesuai urutan waktu dan ukuran tahapan tingkat pencapaiannya. Jangan lupa, pastikan selalu ada evaluasi, agar dari waktu ke waktu lebih baik lagi. Gimana kalo kita lagi malas ngapangapain, apa malas bisa dikategorkan sebagai pembunuh kesempatan? Hmm… rasa malas itu saya pikir manusiawi kali ya. 

Soalnya semua orang kayaknya pasti pernah merasakan malas. Itu sebabnya, Rasulullah saw. juga mengajarkan doa agar kita meminta kepada Allah Swt. untuk dihilangkan dari penyakit malas. Maka, kalo pun rasa malas itu mendera kita, pastikan kita bisa mengendalikan diri. 

     Caranya? Jangan terlena dan jangan mengampuni diri sendiri bahwa rasa malasnya itu adalah manusiawi. Nggak gitu. Tapi cari akibatnya, mungkin malas karena capek, maka kita bisa atur waktu dan kegiatan lainnya supaya nggak kecapekan. 

Ketika malas ngapangapain dan akhirnya malah main gim dengan tujuan untuk refreshing silakan saja. Tapi jangan keterusan. Ingat waktu terus berjalan meninggalkan kita. Kalo udah hilang penat dan stresnya segera berhenti main gim. Setelah itu, ya kembali kepada pekerjaan yang harus diselesaikan.  

Oya, sekadar berbagi aja, kebiasaan saya dalam mengatur dan memanfaatkan waktu sejujurnya memang masih banyak kekurangannya. Tapi setidaknya saya berusaha menekan diri sendiri untuk terus komitmen pada setiap kegiatan yang waktunya sudah dialokasikan. 

Jadi saya biasanya membuat jadwal yang saya tulis di buku agenda, di ponsel saya, di organizer program komputer, atau di kertas styrofoam yang ditempel di dinding. Agenda harian, mingguan atau bulanan. Baik yang rutin maupun yang tertentu pas ada momen spesial aja. Untuk kegiatan menulis buku, saya biasanya pake target, sehingga ada alat ukur tingkat pencapaiannya. Itu aja sih yang biasa saya lakukan. Mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman yang sempat baca artikel ini.
     
Sobat, di dunia ini kita berpacu dengan waktu, maka tingkatkan kualitas perbuatan kita, syukur-syukur bisa lebih banyak kita lakukan. Tentu perbuatan yang benar dan baik sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. Untuk apa? 

Ya, untuk masa depan kita di dunia dan di akhirat. Insya Allah. Sebab, jangan sampe umur kita habis, tapi kita banyak maksiatnya. Kematian itu nggak bisa kita ketahui kapan datangnya. Jadi, harap diingat, Malaikat Izrail nggak bakal kirim “pesan kematian” kepada kita melalui SMS dengan bunyi: “Maaf, masa aktif hidup Anda akan segera habis. Sudah terlalu banyak dosa Anda di buku catatan akhirat. 

Sehingga saldo iman berkurang. Segera isi ulang iman Anda sebelum nyawa Anda diblokir.” Hehehe.. kalo dikasih tahu gitu sih enak dong. Yuk, mumpung masih diberikan waktu, kita manfaatkan untuk beramal baik. Kita samasama berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Keep istiqamah dan tetap semangat!

Jumat, 20 Juli 2018

Baik dan buruk, menurut siapa?


Kebenaran/kebaikan itu relatif, demikian slogan yang sering disuarakan oleh para pengusung demokrasi. Kalo kebenaran memang relatif, seharusnya tidak perlu ada penegak hukum di dunia bila penganut demokrasi konsisten dengan slogan ini. Bayangkan saja seorang polisi yang menangkap pencuri dengan alasan merugikan orang lain dan mengganggu ketenangan umum. Bisa saja si pencuri berkilah itu kan kebenaran menurut versi polisi. Sedangkan menurutnya, kebenaran adalah mencari sesuap nasi untuk anak yang menangis di rumah karena tiga hari tidak makan. Maka, tidak seharusnya polisi menghukum si pencuri dong. Lha kalo begini kondisinya, bisa kacau dunia. Sehingga tidak bisa tidak, harus ada standar yang tepat dan pas bagi manusia karena satu sama lain pastilah mempunyai kemauan dan kepentingan yang berbeda-beda.

Standar tepat dan pas ini adalah hukum syara’, yakni aturan Islam. Apa yang baik menurut syara’, pasti baik untuk manusia. Biar kata seluruh dunia mengatakan bahwa berzina itu adalah hak asasi manusia, selama syara’ menyatakan haram, maka haram pula hukumnya hingga hari kiamat kelak. Berkasih sayang dengan lawan jenis akan menjadi halal bila dilakukan setelah akad nikah, bukan sebelumnya.  

Intinya, yang membedakan manusia beriman dan bukan adalah standar yang dipakainya dalam beramal. Kalau sekadar mengaku muslim saja semua orang juga bisa. Kan gampang banget tuh mencantumkan status agama sebagai orang Islam di KTP. Tapi tentang lurusnya akidah dan amal? Ini yang kudu dipertanyakan bagi orang yang suka mengaku-aku muslim tapi nggak pake aturan Islam dalam seluruh aktivitas kehidupannya.

Penanggulangan AIDS akan jauh lebih efektif bila saja perilaku save sex mempunyai satu suara dari seluruh komponen masyarakat: yakni, “No Free Sex”. Tidak lagi ada alasan apa pun bahwa melakukan seks atau tidak itu adalah hak pribadi masing-masing. Setiap individu mempunyai kewajiban mengingatkan saudara, teman, dan sahabat untuk tidak melakukan seks sebelum menikah secara sah. 

Rasulullah saw. tercinta bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Masyarakat kita saat ini justru cuek satu sama lain. Kalo gitu, tinggal nunggu kehancuran karena merasa bahwa kebebasan berperilaku adalah hak asasi manusia. Waduh!

Super Mama yang Sebenarnya


     Acara Supermama di stasiun TV Indosiar cukup menyita perhatian banyak orang. Kelanjutan Mamamia ini diyakini menjadi tontonan favorit karena melibatkan ibu dan anak yang notabene artis berwajah cantik dan ganteng. Kebolehan menyanyi diadu di atas pentas. Sang ibu diminta berpromo tentang anaknya di depan seratus juri votelock agar tidak tereliminasi. Banyolan di sana-sini oleh sang host membuat tontonan ini semakin digemari. Dengan hanya sekitar lima pasang kontestan, acara Supermama membutuhkan waktu sekitar lima jam yaitu mulai pukul 6 hingga 11 malam. Wow! Dengan alokasi waktu sebanyak itu, betulkah acara Supermama mampu menghadirkan sosok mama yang super-duper? Ataukah Supermama ini sekadar lip service dunia infotainment yang jelas-jelas merupakan kepanjangan kapitalis? 
     
‘Sihir’ Supermama 
     Kemampuan menyihir bukan hanya nenek sihir ataupun milik Harry Potter yang emang bercerita tentang pernik-pernik dunia kepenyihiran. Kemampuan menyihir juga dimiliki oleh media bernama televisi dengan berbagai ragam acara unggulannya. 
Supermama hanyalah salah satunya yang dianggap mampu meraup rating tinggi sehingga memancing pemasang iklan untuk berdatangan. So , banyaknya iklan itu bermakna banyaknya duit yang akan berhamburan untuk acara tersebut. 
     Supermama adalah ide brilian untuk menyedot iklan setelah pemirsa dibuat bosan dengan acara pencarian idola semacam AFI (Akademi Fantasi Indosiar) dan Indonesian Idol . Kenapa saya katakan brilian? Karena melibatkan sosok seorang mama atau ibu adalah hal yang sangat alami dibandingkan dengan program apa pun juga. Mama adalah sosok istimewa di hati manusia, siapa pun dia adanya. Sosok ini mampu menggugah sisi lembut manusia secara universal. 
    Kakak saya cowok bisa berkaca-kaca matanya setiap menyaksikan acara Mamamia yang merupakan pendahulu ide Supermama . Kenapa? Ia terharu melihat sosok ibu yang bernyanyi dengan harmonis bersama putrinya. Lalu dosen saya sering menyebut sistem penjurian dalam acara Mamamia dan Supermama sebagai contoh dalam salah satu mata kuliah. Bisa ditebak, beliau ini pastilah fans berat acara tersebut. Sebab kalau nggak, bagaimana bisa beliau menyebutkan setiap perkembangan acara Supermama dengan detil? 

     Dua contoh di atas hanya sedikit bukti tentang keberadaan ‘sihir’ Supermama . ‘Sihir’ yang tanpa sadar mampu menyihir pemirsa untuk duduk manis selama kurang lebih lima jam! Bandingkan waktu sebanyak itu dengan berapa lama kamu belajar, mengaji, menghapal rumus fisika, dan hapalan surat dalam alQuran. Walah, pastinya ‘sihir’ Supermama jauh lebih top. Belum lagi acaranya yang tersela oleh adzan Maghrib, apa iya sih para juri votelock , kontestan Supermama , para host, dan para penonton di studio sempat untuk menunaikan sholat? Nggak tahu pasti deh. Cuma saya meragukan aja.

Mama yang tereksploitasi 
     Ketika melihat acara Supermama, saya langsung merasa iba dengan sosok mulia ini. Gimana nggak bila di sana, sosok yang seharusnya kita hormati dan junjung tinggi ini dijadikan bahan olok-olok. Mama yang latah menjadi semakin gencar digoda agar keluar latahnya. Mama yang periang terus digoda agar semakin terlihat lucu di panggung. Mama yang pendiam pun juga mendapat kritikan karena sikap pasifnya. Duh, mama. Penampilan mama juga dikritik oleh komentator mode dalam hal ini diwakili oleh Ivan Gunawan (di sini berjuluk Madam Ivan). Kritik tentang alis mata yang kurang begini, yang bau kurang begitu, yang kerudung harus begini begitu dll. Penampilan mama yang semula anggun dan sederhana harus tereksploitasi demi kepuasan mata dunia entertainment.
     Belum lagi bila sang mama harus menghiba-hiba di hadapan seratus juri votelock supaya anaknya dipilih sehingga bisa tampil lagi keesokan hari. Sungguh tak pantas seorang mama mengemis sedemikian rupa hanya demi segepok rupiah dan ketenaran sesaat nan semu. Sosok mama yang mulia meluncur bebas ke area yang serba bebas dan tak ada lagi penghargaan atas jasa-jasanya. Menyedihkan! 

     UUD (Ujung-Ujungnya Duit) adalah tujuan dari program serupa meskipun dikemas dalam bentuk apa pun juga. Sangat khas kemasan kaptalismenya yang emang memuja-muja harta dan popularitas meski semu adanya. Nggak berhenti mengeksploitasi para remaja belia dengan kontes-kontes idol dan Miss-Miss apa pun namanya, sosok ibu akhirnya terkena jerat eksploitasi ini. Tampil duet dengan sang anak, bisa anak laki-laki atau pun perempuan, klop sudah acara eksploitasi antara ibu dan anak demi meningkatnya rating. Mama tereksploitasi atas nama kekompakan dengan sang anak. Biar pun sang mama tampil berkerudung yang penting anak masih tetap bisa gaya. Sosok mama sesungguhnyalah hanya sebagai pajangan untuk mendongkrak popularitas sang anak yang masih muda dan segar. Jangan berharap mama akan menjadi bintang dalam acara ini meskipun judulnya Supermama . Bahkan bila ada sosok mama yang menonjol lebih daripada anaknya, maka sang komentator pasti akan menyarankan mama untuk mundur dan memberi kesempatan anaknya untuk maju. Intinya, tetap yang muda, segar dan cantik yang jadi idola. Mama kembali terpuruk meski terpoles sesaat sekadar hiasan si anak tampil. Waduh!

Mama yang berprestasi 
     Super Mama adalah milik semua mama yang mempunyai anak unggul dan bisa dibanggakan. Siapakah anak unggul dan bisa dibanggakan ini? Kalo kamu bertanya pada mama yang di kepalanya hanya duit binti fulus aja, maka jawabnya pastilah tidak sama dengan mama yang di benaknya menginginkan sang anak menjadi pejuang dan pembela Islam. Jauh beda banget. Jauuuh! Lagu yang menjadi themesong Supermama masih memakai lirik terdahulu dari tayangan Mamamia . “Aku dan mama, maju ke depan, menggapai dunia.” Pertanyaannya, benarkah dengan acara itu, mama dan anak mampu maju ke depan untuk menggapai dunia? 
     Lirik lagu Supermama, jujur saja, mampu menggetarkan hati saya. Karena tak jarang banyak sosok mama yang rela ‘menjual’ anaknya ke dunia entertainment dengan alasan mengembangkan potensi dan bakat si anak. Bukannya sibuk belajar dan mengasah akhlak agar mulia, si anak yang masih sangat belia malah akrab dengan blitz kamera, berakting semu di depan sutradara, bahkan keluar masuk acara pesta hura-hura dan pergaulan bebas. Persis banget dengan isi nyanyian untuk menggapai dunia. Namun benarkah dunia bisa digapai hanya dengan acara seperti itu? Lalu, bagaimanakah dengan akhirat? Masih perlukah dunia ‘hereafter’ ini untuk digapai juga? 

     Bayangan yang muncul dalam benak saya tentang menggapai dunia adalah sosok Super Mama yang bukan tereksploitasi di TV demi menarik pemasang iklan. Tapi mereka yang benar-benar menghasilkan anak-anak yang mampu menggapai dunia dalam makna sebenarnya. Bayangan sosok Mama yang muncul adalah mereka sosok-sosok yang mampu melahirkan dan mendidik anak-anak hebat pengguncang dunia selevel penakluk Konstantinopel; Muhammad al-Fatih. Mama yang berkualitas super sehingga menghasilkan anak anak sehebat Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Umar Bin Abdul Aziz, Ibnu Abbas, Shalahuddin al-Ayubi, Imam Syafi’i, Hasan alBana, Taqiyuddin an-Nabhani, Buya Hamka,  dll. Dunia benar-benar di tangan mereka, namun akhirat juga tak dilupakan. Hebat banget!
 
The Real Super Mama 
     Yang dibutuhkan seorang anak hingga mampu mencapai kesuksesan dunia-akhirat adalah the real supermama, bukan super mama palsu, imitasi atau bahkan jadi-jadian. The real super mama adalah mama yang mampu menjadi pendidik anak-anaknya dalam arti sebenarnya. Bukan kompak di atas panggung hiburan nan penuh maksiat, the real super mama adalah sosok mama yang kompak dengan anak-anaknya dalam semua aspek kehidupan yang benar dan baik. Seorang mama hebat yang mampu menghantarkan sang anak menjadi sosok yang hebat. Bagaimanakah sosok riil super mama yang hebat ini? Super Mama adalah ibu yang harus mempunyai kepribadian Islam. Pola pikir dan pola sikapnya hanya Islam saja sebagai standar dalam menjalani kehidupan termasuk dalam hal mendidik anak-anaknya. Bukan seperti yang tersaji pada episode Super Mama palsu di TV ketika mama berkerudung tapi si anak malah mengumbar aurat dengan bebas. 
     Super Mama adalah ibu yang menyadari bahwa mendidik anak dengan baik dan benar sesuai tuntunan Islam adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil. Mama akan mendidik anaknya dengan baik bukan hanya sejak dalam kandungan, melainkan sejak dalam pemilihan jodoh siapa yang bakal menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak. So , mereka milih calon suami yang agamanya kualitas oke. Mama seperti inilah yang nantinya akan melahirkan generasi hebat karena sejak menanam ‘benih’ beliau ini sungguh berhati-hati.

     Super Mama akan dengan sabar memantau perkembangan anak-anaknya sesuai dengan tuntunan al-Quran. Bukan dengan lagu Beethoven yang katanya bisa mencerdaskan otak bayi, tapi mama yang baik yakin bahwa hanya bacaan al-Quran dan majelis-majelis ilmu yang mampu mendidik otak bayi agar berkembang maksimal. Bayi pun tumbuh menjadi anak yang sholih dan sholihah karena berada di tangan seorang mama hebat seperti ini. Super Mama menanamkan kecintaan pada Allah dan RasulNya sejak dini. Mama yang baik akan menyertai perkembangan putraputrinya dengan kemampuan sendiri yang dilandasi keimanan. Bukan menyerahkan ke pembantu atau pun ke rumah penitipan anak. Sosok mama seperti ini ingin memastikan pendidikan anaknya benar-benar sesuai dengan kepribadian Islam. Anak-anak pun tumbuh menjadi pembela dan pejuang Islam sejati. Meskipun banyak lomba Idol di TV, didikan mama super tak akan tergiur demi popularitas semu semata. Jadilah anak-anak ini tumbuh menjadi remaja berkualitas yang mengukir prestasi dengan otak dan akhlak, bukan dengan otot dan gemulai lenggak-lenggok di panggung maksiat. 

     Super Mama memang ada. Tapi sosok ini tak mungkin kita dapati di panggung hiburan yang sifatnya semu dan sementara. Kita butuh sosok panutan super mama yang benar-benar super, bukan polesan kosmetik dan produk kilat dunia entertainment. Kita rindu super mama selevel Khadijah, Aisyah, Khonsa’, Asiyah, Asma’, dan wanita-wanita lain yang memang super. Wanita-wanita ibunda para syuhada yang memang mempersembahkan anakanaknya untuk perjuangan dan kejayaan Islam. Ibunda para ulama, para mujtahid, para mujaddid, dan para pengemban dakwah yang ikhlas inilah yang pantas disebut super mama sejati. 

Kamis, 19 Juli 2018

Perang Melawan AIDS


     Tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS sedunia. Mengapa selalu diperingati? Hmm.. ini tak ubahnya dengan ulang tahun kelahiran seseorang atau lembaga, tanggal penetapan itu konon kabarnya untuk ngukur sejauh mana perkembangan dari perjuangan yang selama ini dilakukan untuk melawan dan memerangi AIDS. Tema tiap tahun juga berubah-ubah seperti ingin memotivasi para pejuangnya dalam memerangi AIDS untuk tetap bekerja keras. 

     Tahun 2007 dan 2008, dua tahun sekaligus, tema Hari AIDS sedunia ini kayaknya lebih keren deh, yakni “Kepemimpinan”. Mengapa tema kepemimpinan yang diusung? “Sejak awal epidemi AIDS, pengalaman telah jelas memperlihatkan bahwa kemajuan terpenting dalam upaya penanggulangan HIV terjadi ketika ada kepemimpinan yang kuat dan berkomitmen. Para pemimpin dapat dibedakan oleh aksi, inovasi, dan visi yang mereka miliki; contoh yang mereka berikan dan bagaimana mereka melibatkan orang lain; selain juga kegigihan mereka dalam menghadapi tantangan dan hambatan.” Pernyataan ini yang tertulis di situs aidsindonesia.or.id. 
     Cukup banyak slogan yang pernah menjadi tema untuk peringatan hari AIDS sedunia ini, tiap tahun berganti-ganti. Misalnya, Join theWorldwide Effort (Ikuti Usaha Kami Bersama) yang dijadikan tema hari AIDS tahun 1988. Tahun 1993 tema yang diambil, “Time to Act” (Saatnya Beraksi). “ Stop AIDS, Keep the Promise” (Hentikan AIDS, Jaga Janjinya) menjadi tema hari AIDS sedunia pada 2005.
     
Perang setengah hati
     Boys and gals , meski upaya perang melawan AIDS udah digelar sejak lebih dari seperempat abad lalu, tepatnya sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1981, ketika seorang gay (homoseksual) didiagnosis terkena HIV yang menyebabkan daya tahan tubuhnya merosot secara drastis, namun sampai sekarang hasil yang signifikan untuk menghempas AIDS tak jua datang. Boro-boro hilang, jumlah penderitanya malah kian berkembang biak dengan cepat. Penyakit mematikan ini tetap menjadi ancaman dunia. Entah sampai kapan. 
     Tapi yang jelas, dilihat dari perkembangan perang dalam upaya melawan AIDS yang dilakukan UNAIDS atau banyak negara dan kalangan pegiat LSM, rasa-rasanya seperti tak akan membuahkan hasil maksimal. Tanya kenapa? Ini bukan soal mendahului takdir atau su’udzan alias berburuk sangka, Bro. Tapi ini soal fakta dan akibat yang bisa kita jangkau dengan pikiran dan perasaan kita secara nyata.
  
     Gimana nggak, upaya pencegahan terhadap penyakit mematikan ini terkesan cuma ngabisin dana doang. Sementara yang dilakukan itu sudah jelas tak akan membuahkan hasil maksimal. Malah terkesan tetap memberi ruang bagi berkembangnya AIDS. Bener, lho! Bro, selama ini perang melawan AIDS itu dilakukan dengan cara “penyembuhan” dan “peredaman”, bukan pemusnahan. Ibarat kalo dakwah tuh cuma a m a r m a ’ r u f doang, sementara nahyi munkar -nya diabaikan. Ya, insya Allah nggak bakalan berhasil maksimal. Ada sih keberhasilan, meski sejatinya hanya tampak di permukaan saja. Sayang banget kan? 
     Iya, masa’ sih kita masih percaya banget untuk meredam AIDS malah memberikan kondom kepada mereka yang berisiko tinggi tertular AIDS macam pelacur dan aktivis free sex ? Benar-benar bikin heran deh, karena yang dilakukan tuh cuma “pengobatan”, itu pun salah prosedur. Lha iya Bang, gimana nggak disebut salah prosedur wong seharusnya jalur utama penyebaran virus itu dihempaskan, eh malah diobati sembari pelaku yang berisiko dibiarkan tetap bermain di arena berbahaya. AIDS, sejauh ini penularannya berkembang pesat melalui hubungan seksual. Maka, korbannya saat ini bukan hanya mereka yang aktif free sex , tapi juga yang pasif tapi berhubungan dengan pasangannya yang doyan free sex dan terinfeksi HIV. Duh, kasihan banget kan? Bahkan banyak bayi yang begitu lahir darahnya udah terkontaminasi HIV. Naudzubillahi mindzalik.

     Ini gara-gara salah prosedur sejak awal. Untuk masalah kebakaran saja misalnya, kita sebenarnya udah tahu yang namanya kebakaran adalah kejadian yang merugikan banyak orang. Untuk pencegahannya selain sistem pengamanan yang bagus dari sumber-sumber yang bisa memicu terjadinya kebakaran, juga dari orangnya yang tentunya berhubungan dengan sumber pemicu kebakaran. Itu sebabnya, upaya yang dilakukan harus mengarah kepada faktor manusia dan juga sistem pengamanan. Untuk faktor manusia, seharusnya diajarin tuh gimana memperlakukan api dan sumber-sumber api, serta penggunaannya untuk berbagai keperluan yang bermanfaat. Hanya saja, karena faktor keteledoran manusia bisa menjadi pemicu kebakaran, maka sistem pengamanan yang tinggi bisa dibuat dan tentunya ada kebijakan khusus dari pemerintah sebagai penanggung jawab berbagai persoalan kehidupan warga negaranya. 
     So , jangan berikan korek api kepada orang-orang yang berpotensi membuat kebakaran atau jangan berikan pisau kepada orang yang berpotensi membuat kerusakan. Maka, jika kondom diibaratkan sebagai pisau, di tangan orang yang baik-baik bisa saja digunakan untuk alat kontrasepsi dalam rangka mengatur jarak kehamilan, misalnya. Tapi gimana jadinya kondom di tangan pelacur atau pelaku seks bebas? Hmm.. udah kebayang kan mau digunakan untuk apa tuh kondom? Apalagi digembar gemborkan kalo kondom bisa cegah HIV/AIDS. O..oo.. makin tancap gas aja tuh kayaknya untuk menggeber syahwat di tempat salah. Persis kayak dulu waktu mewabahnya penyakit sipilis, tempat pelacuran sepi. Tapi begitu Sir Alexander Fleming menemukan penisilin, dan terbukti bisa nyembuhin penyakit kelamin tersebut, tempat pelacuran kembali semarak. Halah, tuh otak udah di taro di dengkul kali ye? Lagian apa nggak ada kerjaan lain selain mikirin seks melulu? Udah gitu salah pula tempat penyalurannya. Musibah besar deh. 

     Itu sebabnya, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah. (Republika, 12 Nopember 1995) Termasuk yang aneh bin ajaib adalah pembagian jarum suntik steril bagi para pengguna narkoba yang udah jelas diakui sebagai pihak yang berisiko kena HIV/AIDS. Bukannya disembuhin total malah dikasih kesempatan untuk menikmati kecanduan. Duh, gimana sih? Serius apa nggak cegah AIDS? 

     Terus nih, dalam hal penanganan pasien AIDS aja, ternyata berbanding terbalik dengan penanganan terhadap pasien flu burung. Kalo ada orang yang terkena virus H5N1 langsung disediakan tempat khusus yang steril biar virus nggak nyebar ke mana-mana. Padahal, belum terbukti kalo tuh virus bisa menular antar manusia. Yang udah terbukti, H5N1 hanya menular dari unggas yang terinfeksi virus tersebut ke manusia. Tapi, apa yang dilakukan untuk melawan AIDS? Meski udah tahu bahwa migrasi virus HIV justru bisa terjadi antarmanusia, tapi kini ada upaya bahwa pasien AIDS disarankan untuk tidak diisolasi di ruang khusus. Boleh dicampur dengan pasien lain. Dengan alasan kemanusiaan, yakni supaya tidak terjadi diskriminasi karena cap ODHA itu umumnya pelaku maksiat meski saat ini nggak mesti, karena banyak istri yang tertular HIV dari suaminya yang pelaku maksiat urusan syahwat. Nah, seharusnya diobati dengan cara dikarantina. Dipisahin dari orang lain atau pasien penyakit lain. Tentu tetap diperlakukan sebagai manusia dan hak-haknya dipenuhi.
     
Babat penyebab utamanya!
 
     Perang melawan AIDS saat ini cuma ngabisin duit sementara hasilnya nggak maksimal. Mission Impossible jika ngelihat praktik di lapangan saat ini. Nah, sebenarnya apa penyebab utama berkembangnya penularan dan penyebaran AIDS? Saya pernah satu forum dalam sebuah acara dengan seorang dokter ketika membahas tentang AIDS. Beliau bahkan menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa virus HIV sangat efektif menular melalui hubungan seksual. Virus HIV terkumpul dalam jumlah banyak di darah dan juga di cairan sperma dari orang yang udah terinfeksi virus ini. Jadi, kalo pelacuran dan seks bebas tidak dihentikan, sang virus akan mencapai koloni dalam jumlah banyak di tubuh-tubuh manusia. Naudzubillahi mindzalik! 
     Oya, ada baiknya kamu simak nih pengakuan jujur seorang penderita AIDS, “Sebab narkoba dan seks bebas merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling gampang,” katanya di Pekanbaru, Kamis. Lelaki berusia 31 tahun yang mengaku bernama Boy ini telah tiga tahun menderita HIV/AIDS akibat dari pergaulan bebas dan kecanduan narkoba jenis putau. (republika.co.id, 17 Mei 2007) Bro, kalo udah tahu penyebab utama, maka seharusnya itu yang kita kejar untuk dibereskan, bukan akibat sekundernya. Betul? 

     Logika yang gampang gini deh. Kalo genteng rumah kita bocor, terus kalo musim hujan itu pasti nggak bisa nahan guyuran air hujan, maka prosedur cerdas yang harus dilakukan adalah mengganti genteng yang bocor kan? Bukan mengantisipasi dengan nyiapin ember buat mewadahi air hujan di tempat yang bocor. Apalagi kalo kemudian prosedur itu mengakibatkan efek samping lain, dan bikin banjir seisi rumah. Apa nggak repot? Ribet banget tuh. Lagian apa nggak malu diledek sama Gus Dur: “Gitu aja kok repot?” Nah, biar nggak repot, ganti saja gentengnya. Beres kan? Yup, karena AIDS ini bukan semata masalah kesehatan, tapi juga lebih disebabkan perilaku budaya dan gaya hidup yang diakibatkan oleh sistem sekularisme yang membolehkan manusia untuk menjadi liberal sesuai kehendak hati dan pikirannya dengan mengabaikan norma masyarakat dan termasuk norma agama, maka yang harus diganti dan dikampanyekan adalah penggantian sistem kehidupan. Mumpung tema hari AIDS sedunia 2007 dan 2008 ini adalah “Kepemimpinan”, gitu lho. Terus, diganti dengan apa? Jawab Sendiri ya........