Sabtu, 12 November 2022

Perang Mu'tah Bag 2

 


* Jalannya Peperangan

Demikianlah, peperangan pun berlangsung dengan teramat dahsyat. 3000 orang melawan 200.000 orang. Sesuatu yg tidak masuk akal, tidak rasional, dan bodoh. Di mata manusia. Kenapa pasukan muslim tidak mundur saja? Bukankah ini kebodohan besar? Menyerahkan nyawa pada musuh yg jumlahnya 70 kali lebih banyak?

Namun kekuatan iman berada di atas batas rasional manusia. 

Zaid bin Haritsah berperang dengan gagah berani. Menebas puluhan musuh di hadapannya. Sampai kemudian sebatang tombak mengenainya, dan ia pun syahid.

Dengan sigap, bendera diambil oleh Ja'far. Saudara Ali bin Abi Thalib ini bertempur dengan teramat dahsyat dan di luar batas akal manusia. Ketika tangan kanannya yg memegang bendera ditebas musuh, ia pindahkan bendera ke tangan kiri. Darah memuncrat deras dari tangan kanannya yg terpotong, namun energinya spt tak terpengaruh. Ia bertahan, berusaha melawan dengan tangan kirinya. Sampai kemudian tangan kirinya pun ditebas musuh, dan ia msh mempertahankan bendera di ketiaknya, dengan lengan yg masih tersisa, dan darah yg bermuncratan dari kedua tangannya. 

Ketika akhirnya Ja'far pun syahid kehabisan darah, Abdullah bin Rawahah mengambil alih bendera tsb. Seperti pendahulunya, iapun bertempur dengan perkasa, sampai akhirnya gugur, dan peperangan hari itu berakhir.

Malam harinya,

Pasukan muslim berunding memilih siapa pengganti komandan perang. 3 komandan pilihan nabi sdh gugur. Kini mrk harus memilih sendiri pemimpin mrk. Hasil perundingan, dipilihlah Khalid bin Walid sbg komandan pasukan muslim esok hari.

Khalid bin Walid, si "pedang Allah" pun mengatur strategi perang. Yup, perang ini hampir mustahil dimenangkan. Bhkn teramat sangat mungkin, mrk semua akan mati terbantai. Tapi dengan strategi yg cerdik, minimal mrk bisa membuat takut Romawi, sehingga mereka bisa pulang ke Madinah tanpa dikejar.

Esoknya Khalid bin Walid merubah komposisi pasukan dan mempersiapkan pola baru. Saat romawi melihat perubahan ini, mrk seakan tak percaya. "Wah, rupanya muslimin mendapat bala bantuan". 

Seketika itu pula ketakutan menyergap hati pasukan romawi. Dan mereka pun sekali lagi bertempur. Setelah bbrp lama bertempur, pasukan muslim pun pelahan mundur. 

Sebenarnya, pasukan romawi bisa saja mengejar mereka. Namun itu tidak dilakukan, krn Romawi takut pasukan muslim akan menerapkan suatu tipuan, menarik mereka ke padang pasir, dan menyergap mereka di sana. Maka romawi pun tidak berani mengejar.

*Akhir peperangan

Dari jumlah 3000 orang yg dikirim nabi, hanya 12 orang yg gugur. Sisanya berhasil pulang ke Madinah.

Bersambung....


Perang Mu'tah Bag 1


 Perang Mu'tah adalah perang terbesar dan terdahsyat yg pernah terjadi di masa hidup nabi. Bahkan perang ini lebih dahsyat daripada perang Badar. Bila di Badar pasukan muslim hanya menghadapi musuh yg jumlahnya 3x lipat lebih banyak, maka di Mu'tah, pasukan Muslim harus menghadapi musuh dengan jumlah yg lebih gila lagi: hampir 70x lipat lebih banyak!

Berikut deskripsi singkat Perang Mu'tah:

Kubu: Pasukan Muslim VS pasukan BYZANTIUM/ RUM

Kepala negara: Muhammad saw VS HERACLIUS

Jumlah pasukan: Muslim 3000 VS Rum 200.000 orang.

Lokasi perang: di Mu'tah, antara Yordania-Suriah.

*Latar Belakang Perang:

Pada tahun 8H, rasulullah saw mengirim surat kepada pemimpin Bushra (daerah di bawah kekuasaan Rum). Namun di perjalanan sang utusan dihadang, dan kmdn diserahkan kepada Heraclius. Heraclius pun membunuh sang utusan. Di tahun yg sama pula, pasukan Rum membunuh 15 orang sahabat nabi di Dhat at Talh.

Ini merupakan hinaan luarbiasa besar bagi Madinah. Dalam perpolitikan dunia masa itu, membunuh seorang utusan sama artinya dengan ajakan perang. Ditambah lagi pembunuhan 15 org sahabat nabi, cukuplah alasan buat nabi untuk memberikan pembalasan pada kesombongan Heraclius. Genderang perang pun ditabuh. 3000 pasukan muslim dipersiapkan. Itu adalah jumlah pasukan terbesar sepanjang hidup nabi. Sebelumnya tdk pernah pasukan muslim terkumpul sebanyak itu, kecuali pada perang Ahzab.

*Kontroversi Sebelum Pemberangkatan.

Banyak orang arab seputar Madinah mencibir keberangkatan pasukan muslim ini. Perlu diketahui, pasukan Heraclius saat itu adalah pasukan terkuat di dunia.

Beberapa tahun sblmnya mereka sudah pula menaklukkan pasukan Persia, sebuah kerajaan superpower di timur tengah. Apalah arti pasukan muslim yang baru juga berdiri 8 tahun, dengan teknologi militer pas-pasan, dibandingkan pasukan superpower Romawi yg tiada bandingannya di dunia? Yg sdh berdiri ribuan tahun, dengan kecanggihan militer tiada banding? Itu sama saja bunuh diri. Demikian pendapat bangsa Arab.

Tapi nabi punya pendapat lain:

Kehormatan Islam harus dijaga.

Romawi harus tahu, bhw mereka tidak boleh sembarangan membunuh umat islam.

Maka Bismillah, pasukan pun diberangkatkan.

*Komandan Pasukan Islam

Nabi menetapkan Zaid bin Haritsah sbg pimpinan utama. Bila gugur, maka digantikan sepupu nabi, Ja'far bin Abu Thalib. Bila ia pun gugur, maka digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Demikian ketetapan nabi.

* Awal Peperangan

Pasukan muslim terkejut ketika melihat jumlah pasukan Romawi yg demikian banyaknya. Tepat seperti dugaan bangsa Arab, pasukan Romawi hampir mustahil dikalahkan. 3000 org melawan 200.000?  1 org melawan 70 orang? Mustahil. Ini sama saja pembantaian. 

Pasukan muslim sempat berencana untuk berbalik ke belakang, atau setidaknya duduk menunggu bantuan bala tentara datang. Namun Abdullah bin Rawahah menguatkan.

"Wahai sahabat, apa yg tidak kalian sukai dlm perang ini sesungguhnya sesuatu yg kita cari. Yaitu mati syahid. Kita tidak berperang karena jumlah, kekuatan, dan banyaknya personil. 

Tapi kita berperang untuk membela agama ini. Maka berangkatlah, krn di sana hanya ada 2 kebaikan: menang, atau mati syahid."

Demikianlah, akhirnya mrk secara bulat menjalankan saran Abdullah.


Bersambung

Semangat Hidup


 Kalau di masa lalu kita belajar waktu adalah uang, mulai saat ini kita  belajar... 

"waktu adalah nafas".

"waktu adalah ibadah".

Waktu adalah nafas yang setelah terlewat tidak akan bisa kembali…

Waktu adalah ibadah karena setiap detik harus bernilai ibadah. 

Apa pun aktivitasnya.

Manusia sesungguhnya hanya pengendara di atas punggung usianya. 

Digulung hari demi hari, bulan  & tahun tanpa terasa.

Nafas kita terus berjalan seiring jalannya waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian.

Sesungguhnya dunia lah yang makin kita jauhi & liang kuburlah yang makin kita dekati.

Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang usia kita. 

Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, 

Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.

Karena itu, "Jgn biarkan hari ini berlalu tanpa kebaikan yang bisa kita lakukan". 

Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua.

Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat mati tidak pula harus sakit.

Teruslah... 

Berbuat baik

Berkata baik 

Walau tak banyak orang yang mengenali kebaikan kita, tapi kebaikan yang kita lakukan adalah kebahagiaan dimana perbuatan baik kita akan terus dikenang oleh mereka yang kelak kita tinggalkan.

Jadilah seperti akar yang tidak terlihat, tapi tetap menyokong kehidupan. 

Jadilah seperti jantung yang tidak terlihat, tapi terus berdenyut setiap saat tanpa henti. 

Hingga membuat kita terus hidup sampai batas waktunya untuk berhenti.

Jumat, 11 November 2022

LIMA KALI SEHARI, KITA DIINGATKAN UNTUK APA?


 Kita semua yang pernah belajar fiqih tentang shalat pasti mengetahui bahwa i'tidal dan duduk di antara dua sujud, disebut sebagai dua rukun pendek. Keduanya harus dilakukan dalam tempo yang pendek atau sedang. Tidak boleh terlalu lama. Apabila dua rukun tersebut sengaja dilakukan terlalu lama, maka shalat kita batal!

Hikmahnya adalah kedua rukun tersebut ada sebagai sarana beristirahat sejenak bagi orang yang shalat. Kita diberi kesempatan untuk perpanjang bacaan Al-Qur'an ketika berdiri, begitu pula berlama-lama saat rukuk dan sujud sepanjang yang kita mau. Oleh karena itu, Allah menyiapkan rukun shalat yang  pendek yang terletak di antara rukun-rukun shalat yang panjang tersebut agar kita bisa beristirahat.

Alangkah hebatnya hikmah yang Allah simpan dalam shalat tersebut. Hidup ini bagai shalat, di mana kita tak bisa terus-menerus bergerak, melainkan harus ada waktu istirahat sejenak. Hidup butuh jeda. Inilah aturan pertama.

Namun perlu diingat, bahwa rukun shalat yang pendek adalah terlarang untuk dilakukan berlama-lama. Sama seperti istirahat dalam kehidupan. Cukuplah sejenak saja. Inilah aturan kedua.

Apabila kita termasuk orang-orang yang senang bermalas-malasan, nyaman sebagai generasi rebahan, enjoy untuk bersantai dalam jangka waktu panjang, bisa dibilang kita baru mengerjakan shalat dari luarnya saja. Namun nilai-nilai yang terkandung dalam shalat belum lagi kita amalkan.

Tak heran jika Al-Qur'an mengaitkan shalat dengan rasa malas. Karena di dalam gerakan shalat ada pelajaran yang besar untuk menjauhi malas. Ingat, yang harus kita penuhi adalah beristirahat, bukan bermalas-malas. Istirahat berbeda dengan malas. Perhatikanlah sifat orang-orang yang ingkar kepada Allah dalam surat At-taubah ayat 54 ini.

وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ

_"Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas."_

Wahai orang-orang yang mendirikan shalat, jangan kelamaan istirahat dalam hidup. Bangunlah, bergeraklah. Lakukanlah usaha demi usaha agar kita meraih puncak cita-cita. Apakah duduk-duduk saja bisa mengantarkan kita ke puncak? Mungkin, tapi butuh waktu yang sangat lama dan resiko gagal yang sangat besar. Seperti dikatakan orang bijak,

_"Ada dua cara mencapai puncak pohon: Memanjat batangnya, atau duduk-duduk di atas benih sampai pohon itu tumbuh besar."_

Apapun profesi Anda, berlarilah sekencang-kencangnya setiap hari. Coba tengok bagaimana kehidupan alam liar di Afrika. Apabila fajar datang, rusa menyambut pagi sambil bertekad untuk berlari kencang. Karena jika ia tak melakukannya ia akan mati dimangsa.

Pada waktu yang sama, apabila fajar datang. Singa menyambut pagi sambil bertekad untuk berlari kencang. Karena jika ia tak melakukannya ia akan mati kelaparan. Tak peduli Anda adalah rusa atau singa, Anda tetap harus berlari sekencang-kencangnya hari ini!


TIADA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR

 


“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu maka Alloh akan membuat mudah baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Saudaraku, di dalam Al Quran Alloh Swt. menjanjikan bahwa siapa saja di antara hamba-Nya yang menuntut ilmu secara ikhlas maka Alloh akan mengangkat derajatnya. Maasyaa Alloh. Oleh karena itu, janganlah kendur semangat dalam menuntut ilmu, pantang redup dalam belajar.

Karena hidup di dunia ini tiada bisa dijalani dengan selamat kecuali oleh orang yang mengerti ilmunya. Demikian juga akhirat, tidak bisa diraih dengan kemenangan kecuali oleh orang yang memahami ilmunya. Manusia bisa selamat dan bahagia di dunia dan akhirat adalah dengan ilmunya. Demikian yang Rosululloh Saw. wasiatkan kepada kita.

Oleh karena itu, meski sekolah itu ada tingkatannya, demikian juga dengan pendidikan tinggi pun ada stratanya, akantetapi itu bukan berarti kegiatan belajar kita dibatasi oleh waktu. Sungguh, tiada batasan usia untuk kita menuntut ilmu. Jangan pernah minder dalam belajar hanya karena usia kita sudah lebih tua daripada umumnya, karena yang sebenarnya rugi adalah orang yang tidak mau belajar.

Imam Asy Syafii ra. pernah mengatakan, “Orang yang tidak mau merasakan beratnya belajar walau sebentar, maka ia harus menahan pedihnya kebodohan.”

Sepanjang hayat dikandung badan, marilah senantiasa semangat menghadiri majlis ilmu. Karena Rosululloh Saw. bersabda, 

“Barangsiapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu, berarti dia berada di jalan Alloh hingga pulang.” (HR. Tirmidzi)

Semoga Alloh Swt. senantiasa memberi kita petunjuk sehingga kita semakin antusias dalam memperkaya diri dengan ilmu. Semakin banyak ilmu, niscaya kita akan semakin ringan menjalani hidup ini. Insyaa Alloh.


KITA SELAMAT, MEREKA JUGA IKUT SELAMAT


 Ibrahim An-Nakha'i adalah salah seorang sahabat yang hidup dimasa Thabi'in, antara tahun 670—710 M. Beliau seorang yang faqih, dari kota Kufah. Beliau juga termasuk murid dari Alqama ibnu Qays yang juga merupakan murid dari Ibnu Mas'ud ra., seorang sahabat Rasulullah. Pernah bertemu dengan keluarga dan sahabat nabi, termasuk diantaranya Anas bin Malik ra. dan Aisyah ra. binti Abu bakar.

Adapun Ibrahim An-Nakha'i sangatlah faqih dalam bidang teologi, ahli hukum dan senang mempelajari tentang ajaran—ajaran Islam (wikipedia dot org).

Diceritakan bahwasanya Imam Ibrahim An-Nakha’i ra. adalah seorang yang bermata juling, dan muridnya, Sulaiman ibn Mihron adalah seorang yang penglihatannya juga lemah.

Ibn Al-Jauizy dalam kitabnya Al-Munthadham meriwayatkan dari mereka berdua:

Suatu hari keduanya sedang melewati salah satu jalan di kota Kufah, Iraq, menuju ke Masjid Jami’. Tatkala mereka berdua sedang berjalan, Imam Ibrahim memanggil muridnya dan berkata: “Wahai Sulaiman, aku mengambil jalan ini, dan engkau ambillah jalan yang lain." 

"Sesungguhnya aku khawatir kalau kita berdua melewati orang-orang, mereka akan mengatakan: Orang juling kok menuntun orang yang lemah penglihatannya, sehingga mereka jatuh pada perbuatan dosa gara-gara meng-ghibahi (ngomongin) kita."

Maka muridnya menjawab: “Wahai Imam, biarkan saja mereka meng-ghibahi kita, toh mereka akan mendapat dosa dan sebaliknya kita akan mendapat pahala.”

Ibrahim An-Nakha’i langsung menjawab: "Subhanallah! Lebih baik kita selamat dan mereka juga selamat dari pada mereka mendapat dosa dan kita mendapat pahala."

Itulah sekelumit kisah dari Ibrahim An-Nakha'i yang bisa kita ambil hikmahnya. Hal ini sering kita temui dalam hidup keseharian. Tanpa disadari, kadangkala tindakan kita bisa "membuka" peluang bagi orang lain untuk ber-ghibah (membicarakan) kekurangan diri kita. 

Meskipun dosanya akan kembali buat orang lain, namun bagaimana sebaiknya kita tetap berhati-hati dalam tindakan dan menjauhi sikap egois agar orang lain juga ikut selamat, bersama-sama mendapatkan pahala.

Mungkin akan terasa berat, namun itulah sikap teladan sesungguhnya..…

Hikmah:

1. Jiwa yang sangat mulia, begitu bersih dan peduli pada orang lain. 

2. Jiwa yang tidak menghendaki keselamatan hanya untuk dirinya sendiri.

3. Berharap dirinya selamat dan orang lain juga ikut selamat bersamanya.


Semoga bermanfaat  

Kamis, 10 November 2022

KISAH BUDAK HITAM KEKASIH ALLAH Part 2

 


Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.” Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan. Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan. 

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini akan terasa indah, ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun Anda telah mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia.

Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

Itulah kisah tentang budak hitam yg ternyata doanya makbul dan tidak ingin ibadahnya kepada Allah diketahui oleh seorangpun juga.

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

KISAH BUDAK HITAM KEKASIH ALLAH Part 1

 


Ibnul Mubarak (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya: “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. 

Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan: “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. 

Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata: “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar.

Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan:“Marhaban (selamat datang ) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.

Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin.

Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya.

Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.


Bersambung

MENCINTAI ALLAH

 


Nikmatnya ibadah, nikmatnya sholat, nikmatnya shaum, nikmatnya sedekah, nikmatnya ikhlas, hanya akan terasa bagi orang-orang yang sangat senang untuk dekat dengan Allah.

Demikian juga dengan kesabaran menghadapi episode kepahitan hidup, kesabaran menghadapi bertubi-tubinya cobaan, kesabaran menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan, ini juga hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang senang cinta dengan Allah Swt. 

*Semakin cinta kepada Allah, maka semakin bisa menikmati apapun yang Allah sukai.*

Kita sudah sangat sering membaca, mendengar, menyimak, kisah-kisah orang yang begitu mencintai dunia hingga di dalam hatinya tidak ada lagi tempat untuk mengingat Allah, apalagi mencintai-Nya. 

Dalam Al Quran, Allah mengingatkan kita mengenai hal itu supaya kita tidak celaka akibat perbuatan kita sendiri yang lebih mencintai makhluk daripada Sang Khaliq.

Ada orang yang lebih mencintai karirnya sehingga berbagai cara dia lakukan meskipun itu adalah perbuatan yang tidak Allah ridhai.

Ada juga orang yang begitu mencintai pasangan hidupnya, seolah dialah segalanya, seolah tak bisa hidup tanpanya, ia lebih takut pada pasangannya, daripada kepada Allah Swt.

Orang yang beriman adalah orang yang rasa cintanya kepada Allah lebih besar daripada rasa cinta kepada makhluk-Nya. Sehingga kemudian Allah ridha dan cinta kepada mereka.

Allah karuniakan kepada mereka rasa tenang, rasa cinta yang menentramkan, pertolongan dan berbagai keberuntungan.


Rabu, 09 November 2022

Iman itu terkadang menggelisahkan.

 


Setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. 

Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah.

Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa.

Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga

CERITA PENUTUP

 


Pada suatu hari, seorang sahabat bertandang ke rumah Rasulullah. Kemudian sang sahabat menyerahkan bingkisan hadiah sebagai seorang tamu. Tetapi kemudian ia berkata, "Wahai Rasul, kalau bisa barang-barang ini dibayarin yah."

 أوَ لم تهده لي

"Bukannya barang ini hadiah untukku?" Rasulullah menjawab.

Dengan tersipu malu sang tamu berkata, "Sebetulnya aku sedang tidak punya uang, tapi aku ingin kasih hadiah untukmu wahai Rasulullah, jadi tadi barang tersebut belum aku bayarin sama penjualnya."

Rasulullah tertawa mendengar penjelasan tamunya itu. Rasul sudah tak heran lagi dengan tingkahnya, karena lelaki di hadapannya itu adalah Sahabat Nu'aiman bin Amr yang terkenal humoris di Madinah. Kisah di atas dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Al-Imam Ghazali.

Mari kita awali tahun ini dengan kisah-kisah jenaka yang terjadi pada masa Rasulullah, sahabat, maupun masa para tabi'in. Rehat sejenak, sambil tersenyum agar semakin optimis menyambut tahun yang baru. 

Kisah berikutnya terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, saat seorang lelaki shalat dengan gerakan terburu-buru. Melihat hal tersebut sang Khalifah yang sedang memegang tongkat menghampiri, "Shalat macam apa itu? Ulangi sekali lagi!"

Si lelaki segera shalat kembali, kali ini dengan gerakan yang lebih tenang. Khalifah Ali masih menunggunya hingga ia selesai shalat, "Nah begitu kan bagus! Menurutmu mana yang lebih baik, shalat yang pertama tadi atau shalat yang kedua ini?" 

"Tentu saja yang pertama! Karena shalat pertama aku lakukan karena Allah, sedangkan shalat kedua aku lakukan karena tongkatmu." Jawab lelaki itu dengan wajah yang ketus diikuti Khalifah Ali yang tak dapat menahan senyumnya mendengar jawaban lelaki tersebut. 

Adapun yang terjadi kepada Al-Imam Asy-Sya'bi berbeda lagi. Ulama dari kalangan tabi'in ini suatu hari kedatangan seseorang yang banyak bertanya. 

"Wahai tuan, apakah iblis itu punya istri?" 

"Benar."

"Kalau begitu, apa dalilnya?" 

"Surat Al-Kahfi ayat 50, 

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ

Patutkah kalian mengambil Iblis dan keturunannya sebagai pemimpin."

"Kalau begitu, siapa nama istrinya?" 

"Maaf, aku tidak hadir saat acara pernikahannya."

Sang ulama menjawab dengan kalem pertanyaan tersebut. Tentu saja orang yang didepannya tertawa mendengarnya, ia menyadari bahwa dirinya terlalu banyak bertanya. Kisah di atas dikutip dari kitab Siyar A'lamun Nubala.

Hidup sesekali memang harus diselingi tawa dan senyum agar lebih hidup. Semoga Allah memaafkan segala khilaf kita di tahun lalu, dan memberi semangat baru pada tahun yang akan menjelang. 


SURGA....

 


Surga adalah tempat terindah untuk para hambaNya yang indah. 

Surga ialah transit terakhir dalam perjalanan hidup kita.

Surga, baunya saja begitu didambakan._

Setelah berhasil melewati fase kehidupan, kita akan dihadapkan dengan dua tempat. 

Tempat terburuk dan tempat terindah. Neraka vs Surga. 

Kita pasti mengharapkan surga menjadi tempat tinggal kita selamanya.

ما لا عين رأت ولا أذن سمعت و لا خطر على قلب بشر

*"Keindahan Surga itu tak pernah diliat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak akan terlintas di hati seseorang."*

Seberapa indah? 100% indah. 

Apapun yang kau mau, pasti akan kau dapati disana. 

Rumah besar? Makanan lezat? Jalan-jalan keliling dunia? Semuanya ada.

Tentunya tidak ada pusat pariwisata yang mampu menyaingi keindahannya. 

%Dikatakan semua orang di surga berumur 33 tahun, dan akan terus menetap serta tidak bertambah tua._ 

*Selain itu, surga memiliki beberapa pintu. Diantaranya, pintu shalat, jihad, puasa, dan sedekah.*

Lalu, pintu mana yang akan kita masuki? 

_Surga juga mempunyai tujuh tingkatan._

*Yang paling tinggi adalah Surga Firdaus. Setelah itu 'Adn, Khuld, Na'im, Ma'wa, Darus Salam, dan diakhiri dengan Darul Jalal.*

Poin penting bagi seluruh penduduk surga adalah ketika Allah menyerukan,

أحل عليكم رضواني فلا أسخط عليكم بعده أبدا !

_"Aku halalkan atas kalian keridhaanKu. Maka Aku tidak akan murka pada kalian lagi setelah ini, selamanya."_

Ya Allah... Betapa nikmat dan leganya hati mendengar seruan tersebut. 

Sudah! Yakinlah. Segala letihmu dalam memegang teguh imanmu, akan terbalas penuh di surga nanti. 

*Surga tempat dimana tidak ada keluh kesah, jerih payah, sakit hati, dan gelisah.*

Jika sebegitu indahnya, marilah bangkit dan lupakan segala lara kita. 

Jangan pusing memikirkan dunia! Karena dunia ini memang tempatnya pusing. 

Tapi perbaikilah hubungan dengan Tuhan, untuk menggapai surga, tempat ketenangan hati dan jiwa.

*Ingat! Dirimu sedang dinanti oleh surga.* 

*Tidak inginkah kamu berusaha memenuhi penantiannya?*

Selasa, 08 November 2022

Manusia itu begitu aneh..


 Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menakuti manusia dengan neraka.. tapi justru yang lebih ditakutkan manusia hari ini adalah kemiskinan. 

Padahal kemiskinan itu adalah alat ketakutan yang dipropagandakan oleh setan..

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Alloh menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Alloh Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 268)

Kenapa Alloh tidak pernah menakuti manusia dengan kemiskinan..?? sebab sudah jadi janji Alloh akan mencukupi seluruh rezekinya manusia dan seluruh makhluk.

Kita lebih khawatir dan percaya dengan konspirasi setan. Padahal ngakunya beriman.

Kita lebih manut dengan rasa takut yang diinginkan setan. Namun terhadap rasa takut yang Alloh kabarkan, kita sama sekali tak perhatian.

Ketakutan akan kemiskinan hanyalah ilusi. 

Padahal, bagi hati yang penuh syukur dan keikhlasan.. kemiskinan tak akan begitu menyiksanya tatkala dijalani.

Sebab banyak kita lihat, 

yang nyatanya masih bisa hidup bahagia dan baik-baik saja meski kemiskinan dekat dengannya bertahun-tahun.

Ia bisa tertawa dengan anaknya.

Sayang kepada istrinya.

Sehat badannya.

Bisa ibadah 5 waktu dengan baiknya..

Dan tak jarang kita mendengar cerita, mereka yang miskin bisa berkurban dengan segala kekuatan dana keterbatasannya.

Bahkan terkadang.. kemiskinan bagi sebagian orang justru jadi sebab ia kembali menemukan jalan mengenal Alloh.

Doa makin khusyuk..

Mudah bangun malam..

Gemar puasa dan beramal sholeh.

Maka jangan khawatir dengan kemiskininan.

Jangan khawatir dengan bab Rezeki.. itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Rezekinya sudah diputuskan. Rezekimu sudah dijamin.

Resesi tak akan mengurangi rezekimu.

Terpuruknya ekonomi dunia bukan penghalang bagi malaikat pengantar rezeki untuk tetap mengunjungimu.

Dan Alloh tak akan kehabisan cara untuk mengantarkan rezeki sampai kepadamu meski para ahli berkata bahwa krisis akan tiba.

Fokuslah pada urusan ibadah, karena sekali lalai.. neraka menunggu.

Bahkan.. jikapun harus dalam keadaan miskin, kita masih akan mampu menahannya sehari dua hari.. bahkan mungkin lebih dari itu.

Tapi jika neraka yang kita dapatkan.. tak akan sanggup kita bertahan walau hanya sekejap mata.

AMALAN KELAS ATAS .


 Banyak yang tanya.. 

Amalan apa yang bisa jadi sebab mudahnya urusan...??

Kita bahas sedikit..

Tabiat manusia itu cenderung mengikuti syahwatnya..

Lebih seneng males. 

Lebih sering pelit. 

Lebih seneng ujub dan riya'.

Lebih seneng makan dan tidur.

Lebih seneng yang enak-enak saja..

Dan semua itu, jika terus dituruti.. ujungnya akan membawa manusia ke lembah kehinaan, hilangnya keberkahan hidup. Dan akhirnya sempit rezeki. Urusan jadi rusak karena tabiat-tabiat tadi.

Maka siapa saja yang ingin hidup penuh barokah, naik derajat dan kemuliaan. Serta diiringi dengan beragam kemudahan dalam rezekinya. Ia perlu memotong kecenderungan syahwatnya dengan pedang Riyadhoh.

Riyadhoh adalah melatih jiwa untuk terlepas dari tabiat buruk dan kecenderungan pada syahwat.

Dan inti dari riyadhoh adalah menahan lapar dan haus.

Oleh karena itu, siapa saja yang ingin derajatnya ditinggikan, hidupnya dekat dengan keberkahan dan urusannya lapang.

Mulai rutinkan Puasa.

Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan).. Alloh ta'ala berfirman. 

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya”.

Puasa apa saja boleh.

Mau senin kamis.

Mau senin aja.. atau kamis aja.

Mau puasa daud.

Apa saja asal sesuai sunnah.. silahkan.

Sebab syahwat itu hanya bisa lemah dengan rasa lapar.

Mereka yang seneng puasa insyaallah akan terkikis darinya perasaan sombong.

Rontok dari hatinya keinginan kikir..

Dan karena batinnya bersih, insyaallah malas pun akan hilang.

Puasa yang bener pasti justru membangkitkan semangat juang. Lihat para ahlul Badr. Perkasa bro..!! Gak ada lemes-lemesnya.

Puasa itu amalan istimewa untuk orang-orang istimewa. Amalan kelas atas.

Teruntuk yang ingin pahala kebaikan dan derajat tak terbatas. 

Kalau urusan akhirat saja dijamin lewat puasa. Apalagi sekedar urusan dunia belaka.

Maka tak heran.

Simbah-simbah kita jaman dulu gemar prihatin demi kesuksesan anak cucunya. Dan seringkali prihatin yang dimaksud adalah puasa.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu berkata, 

“Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.?  

beliau menjawab :

عليكَ بالصَّومِ؛ فإنَّه لا مِثْلَ له

“Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu”. 

[Hadits Riwayat Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]

Mintalah Surga Firdaus

 


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Di surga itu terdapat seratus tingkatan. Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611)

Dalam hadis lain dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah ﷺ bersabda,

الْجَنَّةُ مِئَةُ دَرَجَةٍ ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِنْهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ. الْفِرْدَوْسُ أَعْلاَهَا دَرَجَةً وَمِنْهَا تُفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ الأَرْبَعَةُ ، وَمِنْ فَوْقِهَا يَكُونُ الْعَرْشُ ، وَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

“Surga terdiri dari 100 tingkatan, antara satu tingkatan dengan yang lain sejauh 100 tahun perjalanan. Firdaus adalah tingkatan surga yang paling tinggi. Darinya memancar empat sungai surga dan Firdaus berada di atas empat sungai tersebut. Di atas Firdaus terletak Arsy. Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Surga Firdaus.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad juz 5 hal 321 no. 23118)

Siapa tidak ingin menjadi penghuni Surga Firdaus? Surga yang digambarkan paling tinggi dan paling sentral di antara surga-surga yang Allah ciptakan.

Keindahannya pun tidak terbayang oleh akal pikir kita. Beratap Arsy Allah yang Mahaindah. Yang siapa pun dikehendaki-Nya, akan berkesempatan menatap wajah-Nya.

Di dalamnya pun terdapat hulu dari sungai-sungai surga. Yang mengalir begitu rupa mengairi kebun-kebun surga, sekaligus menjadi penghiburan bagi para penghuninya dengan warna dan rasa beraneka rupa.

Sungguh Baginda Rasulullah ﷺ telah memotivasi kita, agar ketika berdoa tidak sekadar meminta surga. Tapi mendorong kita bercita-cita dan berusaha menjadi salah satu penghuninya.

Ini artinya, beliau menasihati kita agar ketika beramal saleh, jangan beramal sekadarnya. Atau merasa cukup dengan amal yang biasa.

Karena Surga Firdaus tentu tidak murah harganya. Bahkan dengan amal kita yang biasa, tidak ada jaminan bisa menyampaikan kita ke surga paling bawah.

Maka, selain berupaya sungguh-sungguh melakukan amal terbaik yang Allah ridai, berusaha menjaga hukum-hukumnya serta ikhlas berjuang di jalan-Nya, kita pun terus berdoa agar Allah berkenan mengangkat derajat kita. Karena hanya dengan rida dan anugerah-Nyalah, pintu Surga Firdaus akan terbuka untuk kita. Semoga. 

Senin, 07 November 2022

BAHAGIA


 Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan 

Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan

Orang cinta mengatakan bahagia saat jatuh cinta

Orang bermasalah mengatakan ketemu solusi itulah bahagia

Dan orang yg telah terjerumus dalam Dosa mengatakan bahwa terhenti dari perbuatan dosa itukah kebahagian

Bahagia........ Isi sendiri kebahagianmu....... 

Bahagia itu ialah kesenangan yg dicapai oleh setiap orang  menurut kehendak dan tujuan yang diinginkan  masing masing 

Sudahkah anda bahagia? 

Bahagia itu ada dalam pikiranmu sendiri. 

Bahagia itu anda yg menciptakan dan juga yg menghancurkan. 

Apapun keadaan dan kondisimu,  jika kamu posisikan bahagia maka akan bahagia dirimu. 

JANGAN LUPA BAHAGIA 

BERTEMAN DENGAN ORANG YANG SALAH


 Hati-hati dalam bergaul. 

Jangan sembarangan memilih teman. Sekali memilih teman yang salah taruhannya bisa mempengaruhi kehidupanmu. 

Berteman dengan penjual parfum akan kepercik wanginya..

Berteman dengan tukang sampah akan ketiban bau busuknya..

Berteman dengan penjahat akan jadi penjahat tapi bergaul dengan alim ulama akan membuat kita ketularan salehnya.. 

Jika bergaul dengan orang yang menjadikan maksiat sebagai gaya hidupnya maka kita bisa ikut berbuat maksiat, mencari rezeki dari sumber haram, menumpuk dosa seolah akan hidup selamanya. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga berwasiat agar

kaum muslimin selektif dalam memilih teman. Beliau mengibaratkan teman yang

baik seperti penjual minyak wangi. Saat dekat, meski tak membeli dan memakai

minyaknya, maka seseorang bisa merasakan wanginya.

Sedangkan teman yang buruk diibaratkan seperti pandai besi.

Meskipun jauh darinya, maka panasnya api yang terbawa angin bisa menerpa siapa

temannya. Setelah mendekat, selain rasa panasnya bertambah, seorang teman juga

memiliki peluang yang besar terkena hitamnya arang.

Ibnu Athailah as-Sakandari, seorang bijak yang telah menulis

kitab al-Hikam, juga memberi penekanan khusus terkait memilih teman.

Beliau dalam salah satu kalimat hikmahnya MELARANG kaum

muslimin berteman dengan dua jenis teman. Siapakah mereka?

“JANGANLAH ENGKAU BERSAHABAT DENGAN ORANG YANG KEADAANNYA

TIDAK MEMBANGKITKAN SEMANGTMU.”

seorang teman yang baik adalah ia yang mampu menjadikan sahabatnya semakin bergairah dalam menjalankan semua  kebaikan.

“JANGANLAH BERSAHABAT DENGAN ORANG YANG PEMBICARAANNYA TIDAK

MEMBIMBINGMU KE JALAN ALLAH”

Bergaul dengan orang baik, bener, saleh akan ketularan baik, bener dan saleh juga. 

Teman yang baik akan mempengaruhi pikiran kita yang berimbas pada tingkah laku. 

Teman yang baik akan membawa kita menuju rezeki yang paling utama, yaitu surga firdaus. 

TIGA PERISTIWA BESAR DI BULAN RABIULAWAL

 


Biasanya pada bulan Rabiulawal kaum muslim memperingati Maulid Nabi ﷺ, padahal Maulid Nabi hanya satu dari tiga peristiwa besar yang terjadi tanggal 12 Rabiulawal.

Ketiga peristiwa besar tersebut adalah;

Pertama, maulid (hari lahirnya) Nabi Muhamnad ﷺ;

Kedua, hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah, yakni berdirinya Daulah Islamiyah;

Ketiga, wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, yakni berdirinya Khilafah Islamiyah Rasyidah.

Tiga peristiwa besar pada tanggal 12 Rabiulawal tersebut uraiannya sebagai berikut,

Satu, lahirnya Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi ﷺ dilahirkan hari Senin, 12 Rabiulawal pada tahun Gajah di Makkah. (Rawwas Qal'ah Jie, Sirah Nabawiyah (terj.), hal. 15; Ibnul Qayyim, Zadul Ma'ad, Juz 1 hlm. 28).

Kelahiran Nabi ﷺ sendiri banyak diiringi dengan berbagai keajaiban. Kadi Iyadh dalam kitabnya Asy-Syifa menyebut ada 132 keajaiban. Di antaranya, ketika lahir dan digendong oleh Asy-Syifa Ummu Abdurrahman bin Auf, beliau (Nabi ﷺ) menangis keras dan berkata kepada Asy-Syifa,”Semoga Allah merahmatimu.”(rahimakillah). (Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Mushtafa, hlm. 205).

Kelahiran Nabi ﷺ adalah kelahiran seseorang yang kelak mempunyai banyak keistimewaan di dunia dan akhirat dalam segala aspeknya. Banyak kitab telah ditulis tentang keistimewaan Beliau, seperti kitab Qiyadatur Rasul As-Siyasiyah wa Al-Askariyah karya Ahmad Ratib Armusy (Beirut : Darun Nafais, 1991), yang mencoba menjelaskan aspek kepemimpinan Nabi ﷺ dalam bidang militer dan politik.

Juga kitab Dirasat Tahliliyah li Syakhshiyah Ar-Rasul karya Rawwas Qal'ah Jie (Beirut : Darun Nafais, 1988). Kitab ini mencoba melukiskan kepribadian Nabi ﷺ secara lebih lengkap, tidak hanya aspek kemiliteran dan kepemimpinan, tetapi juga pribadi beliau sebagai guru (murabbi), suami, dan sebagai manusia biasa (aspek kemanusiaan/basyariyah).

Di antara keistimewaan Nabi ﷺ ialah beliau memegang dua kedudukan sekaligus, yakni sebagai nabi sekaligus kepala negara. Imam Taqiyuddin an-Nabhani –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

فكان يتولى النبوة والرسالة وكان في نفس الوقت يتولى منصب رئاسة المسلمين في إقامة أحكام الإسلام

“Maka Nabi Muhammad ﷺ dahulu memegang kedudukan kenabian dan kerasulan, dan pada waktu yang sama Nabi ﷺ memegang kedudukan kepemimpinan kaum muslimin dalam menegakkan hukum-hukum Islam.” (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Hukm fil Islam, hlm. 116-117).

Imam Taqiyuddin An-Nabhani mendasarkan pendapatnya pada dua kategori ayat yang berbeda.

Pertama, ayat-ayat yang terkait dengan tugas tablig (menyampaikan wahyu), seperti QS Al-Maidah: 67, yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS Al-Maidah [5] : 67)

Kedua, ayat-ayat yang terkait dengan tugas menerapkan hukum yang diturunkan Allah (al-hukmu bimaa anzalallah) seperti QS Al-Maidah: 48 dan QS Al-Maidah: 49). Firman Allah Swt.,

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ

“Maka tegakkanlah hukum di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah.“ (QS Al-Maidah [5] : 48)

Jadi, Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya seorang nabi yang bertugas menyampaikan wahyu, namun juga sekaligus kepala negara yang menerapkan hukum Allah kepada masyarakat. (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Hukm fil Islam, hlm. 118).

Tugas kenabian ini berakhir dengan wafatnya Nabi ﷺ. Namun, tugas kepemimpinan negara ini tak berakhir, melainkan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah sebagai kepala negara Khilafah sepeninggal Nabi ﷺ. Sabda Nabi Muhammad ﷺ,

كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء. كلما هلك نبي خلفه نبي. وإنه لا نبي بعدي. وستكون خلفاء فتكثر

“Dahulu Bani Israil segala urusannya selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan nabi lainnya. Dan sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak…” (HR. Muslim, No. 1842)

Dua, hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ.

Bulan Muharam memang ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun Hijriyah. Namun, hijrahnya Nabi ﷺ sendiri tidak terjadi pada bulan Muharam, melainkan pada bulan Rabiulawal.

Beliau mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin tanggal 1 Rabiulawal tahun I Hijriyah (16 September 622 M).

Nabi ﷺ sampai di Quba’ hari Senin tanggal 8 Rabiulawal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis.

Nabi ﷺ selanjutnya memasuki Madinah hari Jumat tanggal 12 Rabiulawal tahun 1 H. (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj.), hal. 232-233; Ahmad Ratib Armusy, Qiyadatur Rasul, hlm. 40).

Dengan demikian, tanggal 12 Rabiulawal itu adalah sampainya Nabi di Madinah. Ini menandai berdirinya Daulah Islamiyah (qiyam ad-daulah al-islamiyah). (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hlm. 48).

Sebelum hijrah terjadi peristiwa Baiat Aqabah II di Makkah antara Nabi ﷺ dan Suku Auz dan Khrazraj dari Madinah. Baiat ini sesungguhnya adalah akad pendirian Daulah Islamiyah, antara Nabi ﷺ di satu pihak, dengan Suku Aus dan Khazraj di pihak lain. (Al-Marakbi, Al-Khilafah Al-Islamiyah Bayna Nuzhum Al-Hukm Al-Muashirah, hlm. 16).

Jadi, dengan baiat tersebut secara hukum (de jure) Nabi ﷺ sudah menjadi kepala negara di Madinah. Namun, secara fakta (de facto) kepemimpinan ini baru efektif setelah Nabi ﷺ sampai di Madinah.

Hijrahnya Nabi ﷺ ke Madinah bukan karena beliau takut akan dibunuh oleh Quraisy. Namun, alasan sesungguhnya adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi ﷺ. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hlm. 47).

Tiga, Wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi ﷺ wafat hari Senin tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 H. (Ibnu Katsir, As-Sirah An-Nabawiyah, Juz IV hal. 507.

Imam Ibnu Katsir berkata, ”Inilah tanggal yang dipastikan oleh Al-Waqidi dan Muhammad bin Saad”. (Lihat pula Muruj Adz-Dzahab, Juz II hal. 304, dikutip oleh Mahmud Al-Khalidi, Qawaid Nizham Al-Hukm fi Al-Islam, hlm. 255).

Wafatnya Nabi ﷺ ini menjadi pertanda lahirnya negara Khilafah Islam Rasyidah. Sebab pada hari yang sama, bahkan sebelum jenazah Nabi ﷺ dimakamkan, umat Islam telah membaiat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah.

Nabi ﷺ meninggal pada waktu Dhuha hari Senin itu tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah. Sementara Abu Bakar Shiddiq dibaiat sebagai khalifah hari Senin itu pula (baiat in’iqad/baiat khashash).

Kemudian pada hari Selasa pagi harinya, Abu Bakar Shiddiq dibaiat oleh kaum muslimin di masjid (baiat tha’at/baiat ammah). Nabi ﷺ sendiri baru dimakamkan pada pertengahan malam pada malam Rabu. ( Lihat kitab Ajhizah Daulah Al-Khilafah, hlm.13)

Walhasil, pada bulan Rabiulawal telah terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi ﷺ, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah.

Ketiganya wajib kita pahami dan kita jadikan sebagai sumber semangat di masa sekarang, untuk berjuang menegakkan kembali Khilafah. Sebab Khilafah inilah sunah (metode) yang dirintis oleh Nabi ﷺ sebagai Daulah Islamiyah, lalu sunah ini dilanjutkan oleh para Khulafaurasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Semua sunah itu wajib hukumnya kita ikuti, sesuai sabda Nabi ﷺ,

فعليه بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

“Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunah Khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah sunah-sunah itu dengan gigi-gigi gerahammu .” (HR Tirmidzi, No. 2816). Wallahualam.

Minggu, 06 November 2022

MENEBAR SALAM


 Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.” 

(H.R Muslim no. 54)

Menjawab Salam Itu Wajib

Terdapat dua hukum dalam menjawab salam.  Pertama, jika seseorang diucapkan salam ketika ia sedang sendiri, maka ia wajib menjawab salam tersebut karena menjawab salam dalam kondisi sendiri hukumnya adalah fardu’ain.

Kedua, jika suatu kelompok menerima salam maka hukum menjawab salam tersebut adalah fardu kifayah. Fardu kifayah artinya, jika seseorang telah menjawab salam tersebut, hal tersebut sudah cukup dan yang lain tidak mengapa jika tidak membalas salam tersebut.

★ Assalamualaikum, jangan  disingkat, karena 

1. As = Orang bodoh ; 

              keledai

2. Ass  = Pantat

3. Askum = Celakalah 

                     kamu

4. Assamu     = Racun

5. Samlekum = Matilah 

                           kamu

6. Mikum = dari bahasa 

    Ibrani, Mari Bercinta.

_*Semoga bermanfaat...*_

- Salam pendek, 

- Salam sedang dan 

- Salam panjang telah 

  dicontohkan oleh Nabi 

  dan tidak merubah  

  makna aslinya :

 Salam pendek : "Assalamualaikum". 

- Dengan 10 kebaikan.

 Salam sedang : "Assalamualaikum warahmatullah".

- Dengan 20 kebaikan.

 Salam panjang : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". 

- Dengan kebaikan 

  sempurna.

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

- Bila menurut anda ini  ada manfaatnya, 

  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti org yg melakukannya.  (HR. Muslim 3509.)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.


SIAPAKAH SEBAIK-BAIK MANUSIA?


 Terdapat 11 golongan "sebaik-baik manusia " menurut hadis sahih.

1. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." 

(HR. Bukhari 5027 )

2. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya " (HR. Bukhari 6035)

3. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar (mengembalikan hutang)

(HR. Bukhari 2305)

4."Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling boleh diharapkan kebaikannya dan aman dari keburukannya "  (HR. Tirmidzi 2263)

5.  "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap ahli keluarganya" (HR. Ibnu Hibban : 4177)

6. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan (kepada orang lain) dan menjawab salam"

(Shahih Al Jami' 3318)

7. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam meluaskan tempat ( bagi orang masuk dalam saf) dalam sholat."  (Targhib wa Tarhib 1/234)

8.  "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya."

(Shahih al Jami' 3297)

9.  "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." (Shahih al Jami' 3289)

10. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap sahabatnya. Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya"  (Shahih Adabul Mufrod : 84)

11. "Sebaik-baik manusia adalah orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur."

Para sahabat bertanya : Lisan yang jujur kami faham, maka apa yang dimaksud dengan hati yang makhmum?

Baginda bersabda : "orang yang memiliki hati bersih dan bertakwa, tidak ada dosa, tidak berbuat zalim, serta tidak ada kebencian dan hasad" (Shahih al Jami' 3201)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita semua sebagai orang yang terbaik

Aamiin....aamiin

اللهم صل على محمد وآل محمد

REZEKI DAN KEDEKATAN DENGAN ALLAH


 Rezeki itu Allah yang memberikan. Sejatinya rezeki itu sudah ada dan terkira berapa takarannya, tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.

Butuh kecerdasan untuk meraih semua itu agar Allah ridho jika rezekinya kita gapai dengan cara yang disukai Nya.

Menjemput rezeki nya Allah yaitu dengan cara mendoakan rezeki orang lain, dengan berzikir, dengan tekun melafazkan asmaul husna lalu dengan bersyukur dan bersedekah serta bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Apabila seorang hamba telah sampai pada tingkat kedekatan yang begitu dekat pada Tuhannya maka apapun yang diminta di dalam doa akan segera diberikan oleh Allah. 

Layaknya kita jika sudah sangat dekat pada seseorang maka apapun yang kita minta pasti akan di usahakannya, karena tak ingin melihat kita bersedih hati. 

Begitu pula yang dilakukan Allah apabila seorang hamba telah berhasil memilki kedekatan yang begitu dekat pada Allah, maka Allah pun tidak akan membiarkan hamba Nya bersedih hati, terlebih apabila itu masalah rezeki.

Kedekatan seorang Mukmin dengan Allah, mendatangkan manfaat yang sangat besar. Tidak ada doanya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampuni, tidak ada kesulitannya yang tidak dimudahkan. Bahkan, setiap gerak ibadahnya terasa nikmat karena didasarkan pada rasa cinta kepada Zat Yang Mahaagung.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, ''Barang siapa yang mencoba mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Barang siapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Barang siapa yang mendekat kepada-Ku dengan cara berjalan maka Aku akan menyongsongnya dengan cara berlari kecil.'' (HR Bukhari).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.