Rabu, 16 November 2022

5 Hal Yang Akan Mengayakanmu Di Masa Depan


 Alhamdulillah..

Ternyata kebahagiaan dunia itu salah satunya adalah mengetahui ada begitu banyak orang yang menyayangi kita.

Lalu itu menjadi wasilah mengalirnya doa-doa baik yang tulus untuk kita. Rasanya..?? Masyaallah.

Benar dulu kata guru saya,

Berjuanglah untuk membuat dirimu disayangi banyak orang. Karena itu adalah Rezekimu yang sebenarnya di masa depan.

Orang bisa bangkrut atau kehilangan uang..

Bisa jatuh karena kehilangan bisnis.

Namun selama ada banyak orang yang menyayanginya, ia akan selalu bisa cepat bangkit dan bertumbuh kembali.

Karena salah satu rahasia kebangkitan tercepat adalah dengan hadirnya banyak orang di sekitar kita yang masih percaya dan selalu mendukung kita.. bahkan di saat kita sedang dalam kondisi terburuk.

Jangan fokus kepada satu dua orang yang benci sampai lupa ada begitu banyak orang yang menyayangi.

Dan untuk bisa disayangi banyak orang.. 

Lakukan 5 hal ini :

1. Jadilah pribadi yang santun dan menyenangkan.

Sebab orang lain tak suka dengan pribadi sombong.. karena orang sombong pun nggak suka sama orang sombong.

2. Jujur dan amanah.

Ini adalah mata uang yang paling berlaku di semua belahan dunia. Semakin kamu jujur dan amanah, maka nilaimu akan selalu tinggi dimana saja.

3. Selalu tebarkan manfaat.

Jangan ada yang keluar dari lisanmu, pikiranmu, tanganmu, hartamu.. kecuali itu bertujuan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Ini hukum tabur-tuai.

Terbiasa berbagi manfaat, kelak akan mendapatkan banyak kemudahan.

4. Jangan pernah mengeluh di hadapan publik. Sebab orang tak akan pernah memberikan simpatinya kepada mereka yang suka mengeluh.

Justru simpati akan selalu datang kepada mereka yang punya alasan mengeluh, namun ia menjalani hidupnya dengan tegar dan penuh optimisme.

5. Berusahalah sekecil apapun untuk selalu berpikir meringankan kesulitan orang lain.

Tidak harus dengan harta. Dengan apapun yang kamu punya.

Karena dunia ini akan selalu menyayangi dan menjaga mereka yang peduli kepada orang lain.


Selamat mencoba..

Selasa, 15 November 2022

PENYEMBUH

 


"Telah datang (Quran sebagai) mau'izhah dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada dalam dada, hidayah & rahmat bagi mukminin." {QS10:57}

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana sombong tak sembuh jika mesra melafal kalam Sang Maha Gagah.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana riya' tak sembuh, jika berhadapan langsung Sang Maha Luhur.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana dengki tak sembuh, jika berbincang dengan Sang Maha Pemurah.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana kecewa tak sembuh, jika disimak Sang Maha Lembut & Mengerti.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana duka tak sembuh, jika menghayati firman Sang Maha Penyayang.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana ketamakan tak sembuh, jika berpinta pada Dzat Yang Maha Kaya.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana keraguan tak sembuh, jika bergaul dengan Dzat Yang Maha Benar.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana galau tak sembuh, jika menyeksamai ucapan Sang Maha Bijaksana.

"..Dan Quran itu jadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; bagaimana syahwat liar tak sembuh, jika merenungi kata-kata Penyedia Surga.

"..Dan Quran itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; maka hati gersang & jiwa haus diteduhkan oleh keakraban Yang Maha Suci.


Dosa dan Maksiat


 AKU tahu bahwa ilmu itu takkan pernah menyatu dengan maksiat, tapi tetap saja aku tak bosan-bosan melakukannya. Itulah mengapa kebodohan tetap membersamaiku

Aku tahu dosa itu candu, tapi aku masih meyakinkan diriku, bahwa ini dosa yang terakhir, tak ada lagi dosa setelahnya, aku sadar itu mantranya syaitan, tapi aku terus tertipu.

Aku paham perkara melalaikan itu menjauhkanku dari hal yang harusnya aku capai. Tapi hal-hal yang remeh itu sangat-sangat menyenangkanku, sementara prestasi menjauhiku.

Meski banyak dosaku, aku enggan beristighfar. Meski meluber kesalahanku, aku tak henti membuat yang baru. Terus-menerus tinggalkan tanggung jawab padahal akan dihisab.

Entah bagaimana hidup ini bila Allah adil kepadaku. Bila satu kebaikan dibalas satu, satu dosa dibalas satu. Maka takkan punya kesempatan aku berdiri di hadapan Ar-Rahmaan.

Tak ada yang membuatku berharap kecuali ampunan Tuhanku. Tapi aku malu meminta ampunan-Nya setelah apa yang aku lakukan pada-Nya, mengabaikan dan meremehkan-Nya.

Bertambah-tambahlah rasa malu itu, tatkala aku menemukan Tuhanku menanti diriku senantiasa, kapanpun aku siap, kapanpun aku mau, sebetapapun aku jauh melangkah.

Kalimat itu menghancurkanku. “Bila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku”. “Aku dekat”. Sedekat itu hingga Tuhanku langsung berbicara padaku.

Kini aku bertanya pada hatiku. Sampai kapan engkau ingin begini? Sampai kapan engkau terus mengabaikan Tuhan yang tak henti-hentinya mencintai dan menyayangimu? 

Apa makna usia bagi cinta?

 


Bagaimana jika seorang pemuda gagah yang diambil putra oleh lelaki mulia, menikahi pengasuh ayah angkatnya? Aneh memang, sungguh wanita itu seangkatan neneknya. Apa yang menyebabkan dia merundukkan hati dan kemudaan untuk menjadikannya pasangan jiwa?

Tapi dalam hidup; mungkin memang ada yang lebih tinggi dari cinta. 

Mungkin itu yang ditemukan si pemuda dalam sabda ayah angkatnya, "Siapa yang ingin menikahi wanita ahli surga", ujar Sang Nabi suatu hari, "Nikahilah Umm Aiman."

Maka Zaid pun maju, tanpa ragu.

Dulu saat Sang Nabi ditinggal wafat Bundanya, Ummu Aiman yang menggendongnya dari Abwa' ke Makkah. Kelak dia imani risalah bocah asuhannya itu. Sementara Zaid ibn Haritsah adalah sahaya Khadijah yang dihadiahkan pada Rasulillah; jadilah dia pemuda utama di barisan cahaya.

Kita takjubi nikah bersenjang umur ini; juga karena dari pernikahan mereka akan lahir Usamah ibn Zaid. Kelak dia menjadi panglima agung di usia 18 tahun, yang Abu Bakr dan 'Umar menjadi prajuritnya. Zaid ibn Haritsah menikahi Umm Aiman yang nyaris seusia neneknya, semata karena Allah dan RasulNya. Gairahnya adalah surga. Cintanya adalah cahaya.

Maka pada setiap betikan niat yang menggerakkan untuk menikahi seseorang; tanyakan pada hati kita, apa yang paling menyalakan minat. Seperti nasehat Imam Asy Syafi'i bagi yang bingung atas banyak pilihan ketika semua tampak baik; "Ambil yang paling menyelisihi hawa nafsumu!"

Mari belajar juga pada seorang wanita; namanya Nailah binti Al Farafishah Al Kalbiyah, yang menikah atas upaya Tamadhar, istri 'Abdurrahman ibn 'Auf. Mempelai pria; 'Utsman ibn 'Affan belum pernah melihatnya hingga akad terucap; sebab percaya sempurna pada 'Abdurrahman dan istrinya.

Begitu berjumpa, 'Utsman terkejut dan bersegera menyatakan, "Aku membebaskanmu dari ikatan ini jika kau tak ridha atas keadaanku!"

"Apa maksudmu duhai Dzun Nurain?", tukas Nailah, "Demi Allah aku tak ingin sedikitpun membatalkan ikatan pernikahan yang suci ini!"

"Tapi pastinya kau takkan menyukai ketuaanku", sahut 'Utsman.

"Justru aku ini suka suami yang lebih tua", jawab Nailah tersipu.

'Utsman lalu membuka surbannya, memperlihatkan geripis kebotakan di rambutnya. "Bukan hanya tua, diriku telah jauh menjadi tua bangka."

Nailah mendekat dan mencium kening 'Utsman. "Masa mudamu sudah kauhabiskan di sisi Rasulillah, duhai lelaki yang dua kali berhijrah. Betapa berharga bagiku jika Allah mengaruniakan kesempatan mendampingi sisa usia muliamu, hingga kelak menghadapNya, insya Allah."

Usia Nailah menjelang 18 tahun ketika itu, dan 'Utsman yang pemalu mendekati 80 tahun. Nanti Allah akan karuniakan tiga putra pada mereka.

Inilah lelaki pemalu yang menjaga kesucian diri; yang mandinya menutup semua pintu-jendela, di bilik tersembunyi berselubung tabir. Lelaki ini, Malaikatpun malu padanya; tunduk pandangnya, panjang qiyamullailnya, syahdu tilawahnya, luas dermanya, jernih batinnya. 

Ada sahabat muda yang tak sengaja menatap wajah jelita lalu berjumpa 'Utsman tanpa cerita. 'Utsman dengan firasat tajamnya berkata, "Bertaubatlah, sungguh di matamu kulihat ada bekas zina."

Nailah mendampingi lelaki hebat ini hingga wafatnya di tangan orang-orang zhalim. Dua jemarinya putus kala memerisai tubuh 'Utsman. 

Kelak Amirul Mukminin Mu'awiyah melamarnya. Teguh Nailah menjawab, "Tak ada yang mampu menggantikan kedudukan 'Utsman di hatiku."

Pada Zaid, pada Nailah; kita belajar tentang cinta yang tak tersekat umur dan wujud. Cinta itu berhulu dan bermuara di keabadian surga.


Senin, 14 November 2022

APAPUN KATA YANG KITA KELUARKAN, PUNYA KESEMPATAN UNTUK DILIHAT DAN DITIRU ORANG LAIN


 Sayyid Abbas Al-Maliki adalah ulama ternama di Mekkah pada masanya. Beliau guru sekaligus khatib di Masjidil Haram, serta mufti Mazhab Maliki. Beliau wafat tahun 1353 H dan mata rantai keilmuannya dilanjutkan oleh anak keturunannya hingga hari ini.

Suatu waktu beliau pergi ke Mesir mengunjungi alim yang terkenal yaitu Syeh Ali Al-Qathi di dusun Qathiah. Setelah kedua orang salih ini berbincang-bincang menumpahkan rasa rindu, Syeh Ali berkata,

"Wahai Sayyid, tolong doakan penduduk kampung kami ini."

"Memangnya ada apa wahai Syeh?" Tanya beliau.

"Penduduk kampung ini sering bermusuhan dan tidak bertegur sapa." Syeh Ali menjelaskan kerisauannya.

"Boleh jadi karena nama kampung ini Qathiah. Bagaimana kalau engkau mengganti namanya menjadi Muthiah?"

Saran beliau rupanya disambut baik. Qathiah dalam bahasa Arab artinya putus. Sedangkan Muthiah berarti patuh. Syeh Ali mengerti bahwa "putus" memiliki kesan yang negatif. Bisa berarti putus silaturahmi, putus rezeki, putus karunia, dan sebagainya.

Sebaliknya kata "patuh" mengandung nilai positif. Karena menyebut patuh saja langsung pikiran kita membayangkan patuh pada perintah Allah.

Singkat cerita kampung itu lambat laun hidup dalam kerukunan dan ketenangan. Syeh Ali pun kemudian dikenal sebagai Syeh Ali Al-Muthi.

Kisah sederhana ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya berkata positif. Bukankah dahulu kota tempat hijrah Rasulullah bernama Yastrib yang artinya "menghardik"? Tetapi Allah menyebutnya sebagai Madinah sesuai firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 120.

مَا كَانَ لِأَهْلِ ٱلْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ ٱلْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا۟ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا۟ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ

_"Tidaklah patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul."_

Dengan demikian jelaslah bahwa membiasakan diri untuk berkata positif bersumber dari Al-Quran. Maka kita harus melatih kebiasaan ini dari sekarang. Apalagi di era digital seperti ini, ketika semua orang merasa bebas untuk melayangkan komentar negatif di media sosial. 

Jari jemari mereka seolah semakin ringan dan tanpa beban mengetik kata-kata kebencian karena mereka meniru dari komentar-komentar yang sebelumnya. Entah bagaimana seorang muslim mudah sekali mengabaikan teladan dari Al-Quran dan berganti mengikuti contoh dari para _haters_ yang tidak mereka kenal sama sekali.

Mari kita ledakkan kebiasaan untuk berkata positif di media sosial. Mulai dari satu orang diikuti seribu orang, kelak seribu diikuti oleh sejuta orang. Maka di masa mendatang, berapa banyak orang-orang yang tidak lagi berujar negatif karena tidak ada lagi yang menjadi contoh untuk mereka tiru.

Mana milik kita.

 


Pada suatu hari ketika Aisyah r.a menghidangkan makanan kesukaan Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam yaitu paha domba.

Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam bertanya:

”Wahai Aisyah, apakah sudah engkau berikan kepada Abu Hurairah tetangga kita ?

Aisyah r.a menjawab:

“Sudah ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam bertanya lagi:

”Bagaimana dengan Ummu Ayman?”

Aisyah r.a kembali menjawab:

“Sudah ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah  Sholallahu 'Alaihi Wasallam bertanya lagi tentang tetangga- tetangganya yang lain, apakah sudah di beri masakan tersebut, sampai Aisyah r.a merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam .

‘Aisyah r.a kemudian menjawab:

“Sudah habis ku berikan, Ya Rasulullah … yang tinggal hanya apa yang ada di depan kita saat ini …”

Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam tersenyum dan dengan lembut menjawab:

*"Engkau salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”* (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

*"Kelak di hari akhirat manusia akan berkata, ‘Inilah harta bendaku! Padahal tidak ada harta benda yang di perolehnya di dunia kecuali tiga hal:*

*Apa yang ia makan akan keluar dari tubuhnya menjadi kotoran.*

*Apa yang ia pakai akan menjadi rusak.*

*Dan Apa yang di sedekahkan akan menjadi kebaikan yang kekal baginya.”* (HR. Muslim)

Tidak ada yang tau kelak kita akan masuk Surga atau Neraka.


 Kata guru saya, surga atau neraka itu hak mutlakNya Allah. Jangan mudah memberikan penilaian terhadap orang lain. Si ini buruk, si ini baik. 

Ingat, kisah pelacur yang masuk Surga gara gara menolong anjing kan? 

Apakah selama hidup pelacur itu buruk? Iyaaaa tentu saja buruk. Dari kacamata kita. Tapi kita tidak tau apakah setiap malam dia menangisi dosa dosanya atau tidak. 

So, don’t judge people from the cover. 

Sedangkan kita terlalu pede mengatakan diri kita lebih baik. Hanya gara gara penampilan kita lebih baik dan lebih syar’i. Tapi kita lupa menghijabi mulut kita. 

Dalam islam, jika kamu tidak bisa berkata baik, maka lebih baik diam. Pilihannya cuma 2 itu, berkata baik baik atau diam agar selamat. 

Ingat, iblis diusir dari surga bukan dia gag taat sama Allah. Iblis adalah makhluk yang sangat taat sama Allah. Tapi dia merasa lebih baik dari Adam. 

Jangan sampai karena merasa lebih baik, habis semua pahala yang kita punya. Dan ujung2 nya kita akan jadi orang merugi di dunia dan di akherat. Na’udzubillah.... 

Kalau kita mudah memberikan penilaian bahwa yang berhijab syar’i itu pasti lebih baik. Jangan ya. Hanya gara gara pakaian saja, kita merasa jadi lebih baik. Padahal belum tentu diri kita ini baik. 

Coba berfikirlah bahwa banyak muslim di dunia ini yang tidak berhijab syar’i. Temen2 saya dari mancanegara mereka hanya menutupi rambut cuma dengan scraft. Apakah kelak mereka semua akan masuk neraka??

Surga neraka itu hak mutlakNya Allah. Allah ridho gag sama diri kita? 

Ingat kisah seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan, ketiganya masuk neraka. 

Hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim, An-Nasa'i, Imam Ahmad dan Baihaqy ini meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya. 

Kenapa?

Karena ternyata mereka baik hanya di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini orang orang bahwa merekalah yang akan menjadi penduduk surga. 

Namun hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Dan ketiganya Allah tetapkan masuk neraka.

Astagfirulloh.... Astagfirulloh 

So, jangan mudah memberikan penilaian terhadap orang lain. Yang kita anggap buruk, belum tentu buruk di mata Allah. 

Kita gag mungkin masuk surga, karena dosa kita terlalu banyak. Yang membuat kita masuk surga karena belas kasih Allah sama kita. 

No judge people hanya gara gara pakaiannya yang tidak syar’i. No, No ya

Berkata baik baik, berbuat baik baik, berdoa yang baik baik. Jangan bosan jadi orang baik. InshaAllah Allah akan memberikan kita tempat terbaik