Selasa, 17 Juli 2018

Mulia Bersama Islam

     Apa yang terbayang di benak kamu begitu disodorin kata ‘pedalaman’? Kalo gue sih kebayang-nya: Suatu wilayah yang jauh dari kecanggihan teknologi, jauh dari kesejahteraan, dan para penduduknya yang–maaf- masih udik dan primitif, berpakaian pun ala kadarnya. 

Ada yang rumahnya di pesisir pantai, juga di tengah hutan. Waduh, kita yang terbiasa belanja di minimarket, nongkrongin angkringan gorengan atau warteg, apalagi yang demen maennya di mal pastinya bakal bingung kalo terdampar di pedalaman kayak gitu. 

Pastilah bingung karena terbiasa dengan kemudahan fasilitas yang ada di kota. Nah kalo di pedalaman kadang sinyal hp pun ‘kejap ade, kejap tak ade’ (maksudnya timbul tenggelam gitu) bahkan ada yang tenggelam sama sekali! Jangankan mau online, sms-an aja kudu ke kota dulu kali. Lah emang ada listri? Haduh, help help S.O.S deh!

Tragis! Kalo mikir nasib kita yang terdampar di pedalaman sih nggak abis-abis, Bro n Sis! Tapi coba deh pikirin gimana dengan sodara-sodara kita yang tersebar di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? *mikir mode on*. Sudahlah mereka tinggal di pedalaman, tapi apakah mereka udah dipenuhi kesejahteraannya oleh yang mimpin nih negara? 

Mereka bertahan dengan ‘pakaian adat’ yang alakadarnya dan ini dipertahankan buat melestarikan kebudayaan juga ningkatin pendapatan negara dalam hal pariwisata. Selain itu, yang pasti, mereka juga masih bernaung di rumah-rumah adat mereka yang belum tentu memenuhi kriteria rumah sehat. Dalam hal pendidikan juga masih banyak masyarakat pedalaman yang belum mengenyamnya.  

Padahal, kalo pemerintah meningkatkan fasilitas untuk guru-guru yang ditugaskan mengajar di pedalaman, termasuk fasilitas pendidikan untuk masyarakat pedalaman ditingkatkan, niscaya para guru bisa betah dan masyarakat pedalaman juga nggak ketinggalan informasi dan bisa belajar sebagaimana saudara-saudaranya di perkotaan. 

Bro en Sis, itu baru masalah sandang dan pendidikan. Gimana dengan kesehatan, pangan, akses jalanan yang mulus tanpa hambatan, ketersediaan alat transportasi publik yang mumpuni, air bersih, listrik? Ah, gue pikir kalo kehidupan temen-temen di pedalaman serba minimalis kayak gitu terus, itu namanya pemerintah nggak  peduli sama mereka dan jelas tidak berperikemanusiaan.

     Mana goal-nya? 
Kalo baca tweet nya para inspirator, pasti selalu disebut-sebut yang namanya “GOAL”. Goal  sendiri bisa berarti ‘tujuan’.Gue selalu mikir, apakah pemerintah punya goal buat mensejahterakan rakyatnya yang ada di pedalaman sono? 

Kalo iya, kenapa mereka dipertahankan dalam kondisi mereka yang alakadarnya gitu? Cuma wilayah-wilayah tertentu yang dikasih infrastruktur lengkap. Terus, kalo ada investor mau nambang sumber daya alam di pedalaman selalu dikasih ijin, yang ada justru terjadi bentrok antara penduduk pedalaman dengan pengusaha tambang. Aset lingkungan yang menjadi tempat tinggal masyarakat pedalaman justru tercemar. 

Akibatnya, masyarakat yang terbiasa dengan kehidupan alam yang damai, jadi terusik karena alamnya dicemari oleh zat-zat polutan. Kalo tanah pedalaman ditambang, kemana lagi masyarakat pedalaman akan bercocok tanam? Kenapa bukannya masyarakat pedalaman yang diberi fasilitas untuk bertani sehingga memudahkan cara bertani mereka yang masih manual? 

Ketersediaan air bersih juga masih rawan.  Bagi yang air sungainya masih murni dan jernih, artinya sarana air bersih masih bisa terpenuhi. Tapi gimana dengan yang sudah tercemar dengan polutan bahan tambang atau juga karena wilayah geografisnya termasuk daerah yang sulit air? 

     Di satu sisi, sektor pariwisata terus mendongkrak pendapatan daerah dengan ‘menjual’ keunikan kehidupan daerah pedalaman. Yang dipertanyakan, kalo pendapatan udah masuk kas daerah terdekat dengan wilayah pedalaman, apakah kebutuhan masyarakat pedalaman terpenuhi? Aduh, pusing gue mikirnya, mau jadi apa negara ini? Bro en Sis, tapi benang merahnya udah keliatan kok kenapa goal ini nggak tercapai secara merata. 

Benang merahnya adalah sistem kapitalisme. Waduh mohon maaf ya buat adik-adik yang di SD atau SMP mungkin masih bingung apa itu kapitalisme. Ya, sistem kapitalisme adalah sistem yang berdasarkan kapital atau modal. Banyak orang mengartikan kapitalisme cuma ada di sistem ekonomi, padahal kapitalisme udah mengakar menjadi sistem hidup. 

     Nah, kalo diterapkan dalam kehidupan berarti sistem yang berdasar atas kekuasaa orang-orang yang paling gede modalnya atau kapitalnya.Kalo menurut Ayn Rand dalam bukunya Capitalism : The UnknownI deal , kapitalisme diartikan sebagai suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua kepemilikan adalah milik pribadi. 

     Jadi jangan heran kalo ada pantai pribadi atau malah pulau pribadi. Nggak heran jika kemudian masyarakat pedalaman jadi terusir bahkan teraniaya di wilayahnya, cuma garagara tanahnya dibeli ama orang kaya. Jangan heran juga kalo masyarakat pedalaman dipertahankan kondisi aslinya berhubung di sektor pariwisata berpotensi untuk ningkatin pemasukan duit buat daerah dan negara. Toh, dalam kapitalisme apapun yang dianggap baik dan bermanfaat plus menghasilkan duit (meskipun hal itu haram) dan juga merugikan orang lain (baca: nggak peduli yang dijual atau dibeli sebenarnya berstatus milik perseorangan atau umum), it’s ok aja. 
     Mangunwijaya pun kasih komentar pedes buat kapitalisme dalam eseinya “Mencari Landasan Sendiri”: “ … ternyatalah, bahwa sistem liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan tumbal-tumbal sekian milyar rakyat dina lemah miskin di seluruh dunia, termasuk dan teristimewa Indonesia..” Hmm..beda banget ya ama Islam. Apa bedanya ?

     Menuju kehidupan mulia.

Sobat muda muslim, kita wajib nyadar kalo aturan hidup selain Islam nggak akan pernah bikin tentram. Bener. Mau kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau komunisme, semuanya cuma bikin rakyat tambah melarat. Firman Allah Swt.: ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124) Menurut gue sih, solusi logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Karena apa? 

Karena masalah akhlak, masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, budaya, kesejahteraan rakyat, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Islâmi (hlm. 9–11), yang disebut dengan mabda’ (ideologi) adalah akidah/ keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian melahirkan sistem atau aturanaturan ( ‘ aqîdah‘ aqliyyah yanbatsiqu‘ anhâ nizhâm ). Menurut definisi ini, sebuah akidah/ keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah ; (2) memiliki sistem/aturan. Catet ye! 

     Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang, ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah Swt.: ”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah [5]: 50) So , kalo mau menuju kehidupan yang mulia, ya cuma bersama Islam. 

Bukan dengan ideologi lain. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditem­bus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya se­hingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban).

     Bro en Sis, dalam soal futuhat alias penaklukan negeri-negeri yang dilakukan kekhilafahan Islam berbeda dengan penjajahan gaya Kapitalisme. Islam di bawah kekuasaan Khilafah Islam disebar ke wilayah-wilayah di luar Arab sebenarnya dalam rangka membebaskan dan memuliakan manusia agar mereka dapat kehidupan layak. 

Beda dengan penjajah, mereka datang untuk menguasai apa yang berharga di wilayah jajahan mereka. Kalo bahasa kerennya sekarang, penjajah ada yang pake pola soft power ada yang pake hard power .  Soft power biasanya dalam bentuk ide-ide, kalo hard power dalam bentuk kekerasan fisik. Gitu.

     Bangkit yuk.

Mumpung kamu sekarang masih sekolah, so kenapa nggak pancangkan cita-cita saat ini juga untuk memuliakan hidup umat manusia bareng Islam? Fokuskan belajar dan ibadah juga aktivitas ngaji Islam kamu, jangan lupa sungkem ama ortu supaya ilmu yang dipelajari bisa berguna dalam kehidupan ini demi kemuliaan umat manusia di bawah naungan syariat Islam. 

Terus, jangan lupa bikin Dream Book untuk memacu perwujudan mimpi-mimpimu, supaya dari tahun ke tahun rencana arah perjalanan hidupmu yang jadi pilihanmu udah tersusun rapi. So , Guys! Di tangan kalian insya Alloh, nantinya masyarakat pedalaman akan eksis dengan kemuliaan mereka sebagai manusia ciptaan Alloh Swt karena keberhasilan futuhat Islam yang telah kalian wujudkan (tulis di Dream Book ya !) Amin ya rabbal’alamin. 

Senin, 16 Juli 2018

DIANTARA PENYEBAB SOMBONG


Sipat yang satu ini adalah yang paling dibenci oleh Allah SWT. Bagaimana tidak, sudahlah Allah yang memberi hidup, Allah yang mencukupi rezeki, Allah yang mengurus segala kebutuhan, hidup dan matinya pun ada di tangan Allah. Ia malah berani berlaku sombong dihadapan Allah, hanya karena ia merasa punya kuasa, punya harta, punya segala yang dia tidak sadar bahwa itu hanyalah titipan dari-Nya. Pantas saja orang macam ini dijanjikan Allah masuk neraka.

Berikut adalah beberapa penyebab munculnya sipat sombong yang perlu untuk kita ketahui, agar kita lebih berhati-hati dan supaya sipat tersebut bisa kita hindari.

1. Bertambahnya harta, hal ini sudah tidak asing bagi kita. Karena banyak orang yang dianugerahi keberlimpahan dalam hal harta dunia, justru malah memunculkan sombong dalam dirinya, hingga ia memandang remeh pada orang yang ia anggap berada dibawahnya.

2. Bertambahnya kedudukan/pangkat, karena seringkali ia beranggapan bahwa ia memiliki kekuasaan dan kewenangan atas kebijakan-kebijakan sebab pangkat dan jabatan yang ia punya.

3. Bertambahnya ilmu, orang yang rajin belajar, bertambahnya ilmu pengetahuan terkadang suka keliru dalam bersikap, menganggap yang belum belajar dibawah dia, menganggap diri yang paling hebat, paling pintar. Itu berbahaya.

4. Ini yang jarang di duga, yakni bertambahnya ketaatan. Semakin taat, semakin meningkat amal ibadah, ini bisa menjadi sebab sombong, setan bisa membawa pada hal itu. Rajin ke masjid lihat orang lain yang belum ke masjid. Berkata, "ia belum dapat hidayah seperti kita ya..."
Ia menganggap diri lebih baik dari yang lain, lebih sholeh dari yang lain, lebih taat dari yang lain. Lantaran ibadahnya yang  dirasa banyak dari orang lain, semisal rajin ke masjid, rajin shalat sunah dhuha, tahajjud, rawatib dan rajin berpuasa sunah serta aktif mendatangi majlis ilmu. Maka, berhati-hatilah dalam menjaga hati. Karena setan amat halus bujuk rayunya.

Hendaknya segala yang kita lakukan senantiasa kita sandarkan dalam rangka mencari ridho Allah SWT. Jangan sampai segala amal baik kita sirna dan tak berguna hanya karena sipat sombong yang menyelimuti jiwa. 

"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Luqman 31: Ayat 18)

Minggu, 15 Juli 2018

HUMBLE KINDNESS Tak terlihat, namun memberi manfaat


Dunia ini digerakkan bukan hanya oleh kerja besar para pahlawan yang kita kenal, tapi juga oleh kerja-kerja tulus mereka yang tak pernah dikenal.
Untuk memberi manfaat, tak perlu menjadi yang paling terlihat.
Tak perlu terlalu terobsesi untuk menjadi yang paling dikenal, berambisi lah untuk terus bisa memberi manfaat, meski harus menjadi orang kedua, ketiga, atau bahkan pada posisi yang tak akan pernah dilihat manusia.
Level berikutnya dari AKU adalah KITA.
Stephen Covey menyebutnya; dari kemandirian (independence) menuju ke-salingtergantungan (interdependence).

Bahwa ternyata level tertinggi dalam hubungan antar manusia bukanlah kemandirian, melainkan kesalingtergantungan.
Karena memang pada dasarnya kita saling membutuhkan satu sama lain.
Tidak penting lagi tentang aku, namaku, statusku, orang mengenalku, yang penting adalah kemaslahatan kita.
Tak ada urusan lagi menampilkan diri, yang utama adalah bersama2 sinergi memberi manfaat, menjemput ridho illahi Rabbi.
Karena percayalah, lebih besar, lebih luas, dan lebih lama manfaat yang akan terasa, jika kebaikan dilakukan bersama-sama, dalam hal apapun.
Kita akan selalu butuh saudara yang terus menasehati, sahabat yang terus menyemangati, atau pasangan yang menutupi kekurangan diri.
Meskipun terkadang berat, karena harus mengesampingkan ego pribadi. Namun, akan selalu mudah bagi mereka yang Yakin bahwa Allah Maha Melihat, Maha Menghitung, dan Maha Membalas.
Tak terkenal mungkin di bumi, tapi semoga penduduk langit melihatnya. Saya menyebutnya orang-orang macam ini adalah Manusia Langit.
Teruslah berbuat baik dan berkontribusi dengan segala kerendahan hati.
Layaknya Khalid bin Walid yang tetap berperang sepenuh jiwa dalam satu barisan, meskipun harus merelakan jabatan komandan umum dengan kekuasan dan kebebasan yang utuh, atas instruksi Khalifah Umar ibn Khattab.
Tak terbayang bagaimana konflik batin Khalid ketika itu, menekan ego dirinya, panglima perang tak terkalahkan, tapi ternyata juga siap memberikan kesediaan hatinya untuk patuh demi maslahat.
Meskipun saat itu ia punya kuasa mengajak pasukannya untuk menolak, bahkan meng-kudeta sang khalifah.
Dalam kondisi seperti itu hati kita diuji, benarkah lillah?
Humble Kindness, teruslah berupaya berkontribusi dengan segala kerendahan hati.
Dan pada intinya, semua uraian diatas bisa dirangkum menjadi satu kata; IKHLAS.

Jumat, 13 Juli 2018

TELADAN DALAM KESEDERHANAAN


Suatu hari Umar bin Khattab Ra datang ke rumah Rasulullah Saw. Saat itu beliau sedang terbaring diatas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma, dengan berbantalkan kulit kasar yang berisi serabut ijuk kurma. 

Melihat keadaan Rasulullah Saw yang seperti itu, Umar pun menangis. Kemudian Nabi Saw bertanya, "Mengapa engkau menangis?". Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membekas pada tubuhmu, engkau adalah Rasulullah, utusan Allah. Kekayaanmu hanya seperti ini, sedangkan Kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimang kemewahan."

Lalu beliau pun menjawab, "Apakah engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat nanti?" (HR. Bukhari no.3843 dan Muslim no.1479)

Rasulullah Saw mendorong para sahabatnya untuk bersifat Zuhud, dan lebih condong kepada akhirat. 

Suatu ketika Beliau Saw melaksanakan haji dengan mengendarai pelana dan memakai baju yang harganya tidak sampai empat dirham. (HR. Ibnu Majah no.2890 dari Anak bin Malik Ra)

Namun itu bukan berarti Beliau Saw menyuruh pada umatnya untuk hidup miskin dan serba kekurangan, hal itu beda sama sekali dengan Zuhud. Rasulullah Saw adalah seorang Nabi dan Rasul, ia juga seorang kepala negara (raja/presiden), juga seorang komandan perang dan beliau pula yang memegang kunci Baitul mal (menteri keuangan). Bagian beliau dalam hal harta rampasan perang sangat banyak. 

Jadi amat mudah bagi Nabi jika hanya ingin sekedar memperkaya diri seperti raja-raja lainnya. Namun beliau Saw ingin mengajarkan kepada umatnya untuk tidak menjadikan dunia sebagai prioritas utama, karena akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali bagi orang mukmin.

Semisal saat beliau Saw mendapatkan rampasan perang yang menjadi haknya berupa kambing yang memenuhi antara dua bukit, jumlahnya banyak sekali, sampai sulit untuk dihitung. Namun beliau berikan secara cuma-cuma kepada orang yang memintanya.

Dari Anas bin Malik Ra, berkata, "Pernah datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan meminta kepada beliau. Maka beliau memberinya kambing yang berada diantara dua bukit. Maka setelah orang itu kembali kepada kaumnya ia mengajak kaumnya dan berkata, 'Wahai kaumku, masuk islamlah kalian, karena Muhammad memberi seperti orang yang sama sekali tidak takut miskin." (HR. Muslim no.3312)

Jabir bin Abdullah Ra pun berkata, "Rasulullah Saw tidak pernah ketika diminta sesuatu, kemudian beliau menjawab, "Tidak'." (HR. Bukhari no.6 dan Muslim no.2308)

Benarlah Umar bin Khattab dengan dengan doanya, "Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggaman tanganku, bukan dihatiku." Karena Umar bin Khattab adalah hasil didikan langsung sang Nabi dalam kesederhanaan. Wallahu alam...

Kamis, 12 Juli 2018

AYAH DAN BURUNG GAGAK


Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”

“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama.

 Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.

Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. 

Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.


“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya.

 Apakah sebenarnya yang ingin ayah sampaikan ???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. 

Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya.

 Ternyata benda tersebut sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.

Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. 

Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama.

 Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.

 Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.

Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

Selasa, 10 Juli 2018

APA YANG MAU DISOMBONGKAN !


Apa yang mau kita sombongkan dihadapan Allah SWT yang Merajai seisi Langit dan Bumi?

Apakah harta secuil yang kita miliki?
Ataukah kendaraan terbaru yang kita tunggangi? Atau mungkin pakaian Merek terbaru yang kita kenakan?

Jauh sebelum jaman ini, tepatnya di jaman Nabi Musa AS. hiduplah seorang laki-laki yang alim shaleh dan bertaqwa kepada Allah dan Nabi-Nya, walau hidup dalam garis kemiskinan.

Seiring berjalannya waktu, Allah karuniakan perbendaharaan dunia kepadanya. Ia menjadi seorang yang Kaya Raya. Bahkan Kunci dari gudang-gudang harta tempatnya menimbun harta, sangatlah banyak, hingga berat jika dibawa atau diangkat orang-orang yang kuat macam Ade Ray sekalipun.

Ya, dialah Qorun, sang pemilik Harta Dunia yang namanya Allah SWT abadikan didalam Al-Qur'an. Kisahnya tercantum jelas dalam kitab terakhir bagi umat Nabi Muhammad Saw, sebagai pembelajaran yang bisa diambil hikmahnya.

Anda tahu Bill Gate?
Siapa yang tidak kenal, dia adalah salah satu orang terkaya se-jagat. Penghasilannya lebih dari Rp.2.800.000,-/detik. Bahkan saat ia terlelap dalam tidur malam sekalipun, uang tetap mengalir ke rekeningnya. Setiap saat setiap detiknya.

Namun apa yang Bill Gate miliki, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan harta yang Allah karuniakan kepada Qorun, yang saat itu hidup ditengah kaum Bani Israel pada Jaman Nabi Musa AS.

Namun, karena kecintaan Qorun kepada harta yang Allah titipkan, membuatnya menjadi buta. Bertindak semena-mena dan cenderung Dzalim terhadap sesama. Ia menjadi lalai dalam beribadah dan hanya sibuk mengurusi hartanya.

Benarlah kata pepatah 'Cinta itu buta dan  tuli' , hingga membuat Qorun tak mempan dinasehati. Bahkan pertakaan sombongnya ini diabadikan dalam Al-Qur'an:

"Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 78)

Sehingga Allah SWT menenggelamkannya beserta harta dan rumah yang dia miliki kedalam perut Bumi (Baca Alquran Surat Al-Qasas: 76 - 83).

Lalu dimanakah posisi kita, sehingga kita merasa berhak untuk bersombong diri?
Apakah harta secuil yang kita miliki?
Ataukah kendaraan terbaru yang kita tunggangi? Atau mungkin pakaian Merek terbaru  yang kita kenakan?

Apakah patut kita sombong dihadapan Allah SWT?
__________
Selamat merenung 

KERAJAAN KAPAS


Pekan ini seorang pangeran dilantik menjadi raja. Oleh karena itu, sang raja yang baru tersebut memulai tugas pertamanya dengan berkeliling kawasan di sekitar istana kerajaan.

Sepanjang perjalanan itu kakinya berkali-kali menginjak batu-batu kerikil kecil sampai memar. Maka sang raja memerintahkan kepada menterinya agar jalanan di sekeliling istana dilapisi dengan kapas. Agar kelak saat ia berkeliling lagi kakinya selamat.

Pekan berikutnya sang raja kembali berkeliling meninjau desa-desa di sebelah barat dan timur istana. Lagi-lagi jalanan yang tidak mulus menjadi keluhannya. Sang raja memberi perintah yang sama kepada menteri untuk melapisi jalan-jalan desa dengan kapas.

Begitu pula yang terjadi pada seluruh desa di penjuru utara dan selatan. Dalam satu bulan persediaan para petani di kebun kapas habis untuk melapisi jalanan. Kerajaan itu sudah laksana kerajaan kapas.

Suatu hari sang raja berniat mengunjungi kerajaan tetangga. Seperti biasa ia mengajak menterinya yang setia. Ketika rombongan tersebut sampai di kerajaan tetangga, sang raja melihat kondisi jalan di sana belum berlapis kapas.

Ia lantas bertanya kepada seorang prajurit yang ditugaskan menyambut rombongan tersebut, 

"Bagaimana caranya saya berjalan menuju istana kerajaanmu sedangkan kondisi jalannya seperti ini? Tidakkah kalian berniat untuk melakukan perubahan seperti yang aku lakukan pada seluruh kerajaanku?" 

"Maaf Baginda Raja. Kami sebenarnya juga memiliki masalah yang sama dengan kondisi jalan. Tetapi kami menemukan solusi dengan cara yang lain. Tidakkah Baginda Raja melihat sepatu yang aku pakai ini?" 

"Sepatumu tebal sekali! Memangnya ada apa dengan sepatu itu?" 

"Sepatuku ini telah aku lapisi dengan kapas, sehingga kaki kami tetap selamat! Ketahuilah Baginda Raja, kami juga ingin melakukan perubahan. Tetapi kami sadar, sebelum mengubah kerajaan ini, pertama kali kami harus mengubah diri sendiri terlebih dulu."

Sungguh di luar dugaan. Rupanya perkataan dari prajurit biasa itu mampu menyadarkan sang raja atas kesalahannya selama ini. Ia terlalu berhasrat untuk membuat perubahan pada orang lain, tetapi tidak dimulai dari perubahan dirinya sendiri.

Demikianlah dongeng kerajaan kapas yang tak lekang dimakan waktu tentang hakikat sebuah perubahan. Sebagai seorang muslim, dongeng ini mengingatkan kita pada Surat As-Shaf ayat 2,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"

Lihatlah bagaimana Allah menegur orang-orang yang menyeru perubahan kepada orang lain, tetapi ia sendiri tidak melakukannya. 

Semoga kita semua dimampukan untuk memperbaiki diri sendiri, dan kelak akan menjadi awal untuk perbaikan saudara-saudara kita yang lain.