Selasa, 27 September 2022

Jangan Membiasakan Mengeluh.

 


Manusia memang diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, tapi itu bagi mereka yang tak mau berfikir. Bahwa jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sebenarnya dia sedang diberikan kesempatan untuk bisa ditempatkan-Nya pada posisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun jika kita mengeluh, sama saja telah menyangsikan kekuasaan Allah. Karena secara tidak langsung hal itu menandakan buruknya persangkaan kita pada Allah, sementara Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Padahal;

“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” 

(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)

Maka sebenarnya bila kita mampu mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali dan berusaha berbaik sangka pada-Nya, hal itu akan menjadi penyumbang bagi kebaikan kehendak-Nya pada kita.

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak mengeluhkan masalah 

(Apa yang terjadi pada Anda tidak penting). Tapi mari kita berfikir cerdas dan berusaha ikhlas mencari solusi secara tuntas 

(Yang penting adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda)

Senin, 26 September 2022

KAYA HATI JALAN MENUJU KAYA RAYA

 


Kita perlu cermati banyak di antara orang-orang yang masuk daftar orang-orang terkaya dunia ini yang dikenal sebagai orang yang murah hati. Mereka menyisihkan sebagian kekayaannya untuk berbagai kegiatan sosial (charity), pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. 

Orang terkaya didunia dikutip dari Business Insider sebut saja misalnya Carlos Slim Helu dikenal sebagai filantropis yang banyak membantu kegiatan sosial. 

Bill Gates sangat terkenal karena menyisihkan sebagian kekayaannya melalui kegiatan di Gates & Melinda Foundation. 

Warren Buffet juga sudah lama dikenal sebagai orang yang murah hati karena menyisihkan separuh dari kekayaannya untuk kegiatan sosial. Pada tahun 2012 lalu Warren Buffet menyumbangkan kekayaannya sebesar 3,084 Milyar dollar AS (setara Rp 29 Trilyun) untuk kegiatan amal sosial. 

Zuckerberg dan Chan telah menyumbangkan lebih dari USD 1 triliun untuk pendidikan dan penelitian medis, termasuk sumbangan multi-juta dolar ke rumah sakit San Francisco yang kemudian dinamai Zuckerberg pada tahun 2015.

“Saat Kita Menempatkan Diri Dg SEMAKIN BANYAK MEMBERI,  Maka Kita Akan Berada Dalam ALIRAN SEMAKIN BANYAK MENERIMA.

Dan Akibatnya Kita Berada Di ZONA SEMAKIN BANYAK BERDATANGAN REZEKI BERLIMPAH .” dikutip Motivator Kepribadian Dan Founder Rezeki Healing  Anaz Almansour "

Seperti pepatah tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah dan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan ini sudah dijelaskan dalam firman Allah di surah Al-Baqarah :

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat,” (QS. Al-Baqarah: 265).

Memaknai sebuah pertanyaan tentang kekayaan berawal dengan sebuah sebuah nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

PANDANGAN DAN TUJUAN HIDUP MANUSIA

 


Ada yg lebih Dominan Dunianya

Selalu menempatkan segala urusan dunia diatas segalanya 

Ada yg lebih Dominan Akhiratnya

Menempatkan Akhirat Terlebih dahulu daripada urusan dunia. 

Lalu mana yg anda pilih? 

Karena Hidup ini pilihan

Kehidupan dunia yang sementara ini, apa yang sudah kita persiapkan untuk akhirat yang kekal abadi? 

Renungkan kembali tentang hakekat kehidupan ini yakni 

Darimana kita berasal, 

Untuk apa kita hidup, dan 

Mau kemana kita setelah mati?

Tidak bisa dipungkiri, banyak yang masih menjalani kehidupan dunia dengan semaunya tanpa memikirkan kehidupan akhirat. 

Padahal kehidupan dunia hanya sementara, hanyalah permainan dan senda gurau.

Allah Azza wa Jalla Berfirman 

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?.”  (QS. Al-An’am:32).

Secara fithrah manusia mencintai dunia, karena memang Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan berbagai kesenangan dunia itu indah di mata manusia. 

Allâh Azza wa Jalla Berfirman :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga).  (Ali-‘Imrân/3:14)

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman 

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.  (Al-A’la/87:16-17)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat perbandingan antara dunia dan akhirat. 

PERBANDINGAN antara KEDUANYA BAGAIKAN SESEORANG YANG MENCELUPKAN JARINYA KE DALAM LAUTAN, MAKA DUNIA BAGAIKAN SETETES AIR yang melekat pada jari-jarinya itu. 

Al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu anhu berkata:

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini 

Perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858].

JADIKAN AKHIRAT SEBAGAI PUSAT PERHATIAN DAN TUJUAN HIDUPMU 

Kalau kita sudah mengetahui hakikat perbandingan dunia dengan akhirat, maka seharusnya kita lebih mementingkan akhirat daripada dunia. 

Jangan sampai hanya mengejar kesenangan dunia sehingga mengabaikan bekal untuk akhirat. Jangan sampai dengan ALASAN SIBUK KERJA, 

SIBUK URUSAN KELUARGA DAN ANAK-ANAK, kemudian MELALAIKAN SHOLAT BERJAMAAH di MASJID,  MEMBACA AL QURAN,  MEMPELAJARI ILMU AGAMA, dan IBADAH LAINNYA.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan adalah cara yang terbaik dalam meniti jalan hidup ini. 

Karena Allâh Azza wa Jalla akan memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang berbuat demikian, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan baginya”. (HR Tirmidzi, no. 2465.)

Semoga Allâh selalu memberikan taufiq kepada kita di dalam kebenaran. Al-hamdulillâhi Rabbil- ‘alamin.


Hidup Itu Saling Pandang Memandang

 


Terkadang Kita Melihat Hidup Orang Lain Lebih Bahagia, Padahal Bisa Saja Dia lebih Sulit, Hanya Saja Dia Tidak Mengeluh

Hidup ini adalah anugerah yang diberikan Allah kepada setiap makhlukNya. Namun dalam perjalanan hidup seseorang banyak hal dan kejadian yang kita hadapi. Ada masanya kita senang, susah, sedih, risau, bahagia, tertawa, menangis dan galau.

Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda, dengan tingkat kerumitan yang berbeda pula, tergantung kondisi individu itu sendiri.

Pernahkah kita merasa lelah dengan kehidupan ini? merasa tidak ada jalan keluar atas masalah yang dihadapi? 

Jawabannya, mungkin sebagian besar menjawab 'iya'. Lalu ketika beban hidup ini, ketika masalah yang menerpa, atau ketika ada persoalan kecil saja yang terasa tak mengenakkan hati, terkadang kita mengeluh..

 Mengapa begini, mengapa seperti itu, bagaimana bisa begini, mengapa tidak seperti orang lain, dan keluhan lainnya..

Orang yang mengeluh biasanya karena dia mengalami sebuah persoalan. Dan setiap persoalan dalam hidup ini adalah cobaan atau ujian.

Mengeluh merupakan perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi. Ketika sakit berkeluh-kesah, macet mengumpat, salah malah terkadang mengambinghitamkan orang lain.

Atau ketika ditimpa musibah menghardik Tuhan tidak adil, gaji kecil, belum punya rumah dan kendaraan pribadi acap menyalahkan suami (bagi para istri) atau anak-anak nakal dan bermasalah tidak jarang menyalahkan istri (bagi para suami). Ya, sebagian contoh kecil tersebut adalah manifestasi dari rasa tidak puas.

Sejatinya, mengeluh dibolehkan namun hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala bukan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya semua kejadian sudah menjadi sebuah ketentuan-Nya dan hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi solusi. 

Insha Allah kita semua selalu dalam tuntunan dan Lindungan Allah

Aamiin Yaa Rabbal Alamin

Minggu, 25 September 2022

Berprasangka Baik Pada Allah

 


Manusia dalam hidupnya akan sering berhadapan dengan masalah. 

Ketika masalah belum bisa selesai, penting untuk kita menjaga prasangka baik atau HUSNUDZON. Pada sesama manusia, juga pada Allah Subhanahu wa ta’ala  yang Maha Pencipta. 

Berbaik sangka pada Allah Subhanahu wa ta’ala artinya selalu menyadari bahkwa ketetapan yang kita terima dari Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ketetapan terbaik yang sudah Dia pilihkan. 

Berprasangka baik pada Allah Subhanahu wa ta’ala juga sangat penting untuk perjalanan hidup manusia. Sebab, Allah Subhanahu wa ta’ala akan melakukan hal sesuai prasangka kita kepadaNya. Jika kita selalu berprasangka baik pada Allah, maka kita akan selalu menerima kebaikan begitu pula sebaliknya. 

Dari Abu Hurairah R.A dia berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  Bersabda :

“Allah Subhanahu wa ta’ala Berfirman,

 ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalua dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalua dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”  (HR. Muslim dan Bukhari)

Allah Subhanahu wa ta’ala Berfirman:

fa inna ma'al-'usri yusroo

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"

inna ma'al-'usri yusroo

"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5-6)

Sudah jelas ayatnya, hidup kita ini hanya mengulang/ pengulangan peristiwa terdahulu, hanya saja sekarang masalah itu dibungkus dengan istilah2 keren..

Mau masalah hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial, ideologi? Semua ada dalam kitab itu..

Dia lah Muhammad, Nabi sekaligus Rasul dan sebaik-baik teladan yang merangkum semua risalah kitab2 terdahulu..

Masalahnya mau gak kita

- Mengakui kelemahan kita

- Bersyukur

- Bersabar 

- Taat/Taqwa

- Bertawakal

- istiqomah di jalan Allah 

- Bermunajat

- Selaku Husnuzdon dg segala keputusan Allah

Yang terakhir adalah Mau gak kita jadikan Alquran sebagai pedoman hidup dg selalu membaca,  memahami dan mengamalkannya. 

BERTEPUK SEBELAH TANGAN

 


Dalam lembaran sejarah pernah terjadi peristiwa di mana ada seorang lelaki begitu mencintai perempuan yang didambanya sementara si perempuan sama sekali tidak tertarik dengan lelaki tersebut. Si lelaki begitu mencintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Uniknya, kisah ini terjadi pada zaman Nabi SAW. Iya, pada zaman shahabat. Kisah ini terjadi antara Mughits dan mantan istrinya, Barirah ra.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Sebelum kita merujuk kepada hadits Ibnu Abbas, ada baiknya kita ceritakan terlebih dahulu kisahnya. Pada mulanya Barirah adalah budak mukatab! dan menikah dengan seorang laki-laki hitam yang juga seorang budak bernama Mughits.

Namun setelah Barirah bisa menebus dirinya sekalipun engan bantuan ibunda Aisyah ra, ia pun berubah status menjadi merdeka. Dengan demikian, ia memiliki hak pilih untuk melanjutkan kehidupan rumah tangganya, atau berpisah dengan Mughits, Di sinilah kisah itu bermula; ternyata Barirah memilih cerai dari suaminya, sementara sang suami memohon istri yang sangat dicintainya tetap hidup bersamanya.

Kisah cinta mereka bahkan diceritakan oleh Ibnu Abbas ra. Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa Mughits senantiasa membuntuti dan mengikuti Barirah di gang-gang Madinah, karena mengharapkan Barirah kembali kepada dirinya. Ibnu Abbas bahkan menyebutkan bahwa Mughits berkeliling di belakang Barirah sembari menangis. Berurai airmata hingga air matanya mengalir membasahi janggutnya. 

Mughits memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Tetapi inilah musibah cinta yang paling pahit; Cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta yang berbalas benci. Ketika menyaksikan drama yang terjadi di depan Nabi Muhammad SAW, beliau pun ikut berkomentar tentang cinta dan benci keduanya. Nabi bersabda kepada paman beliau, Abbas, ayahanda Abdullah bin Abbas ra,

يا عبَّاسُ ألا تعجَبُ من حبِّ مغيثٍ بريرةَ ومن بُغضِ بريرةَ مُغيثًا 

“Wahai Abbas, tidakkah kamu heran terhadap kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits." 

Lantaran iba dengan tangis Mughits, Nabi SAW pun mendatangkan Barirah lalu bersabda kepadanya, “Seandainya engkau kembali (rujuk) kepadanya" Barirah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku untuk rujuk? Beliau bersabda, “Aku hanya memberi saran” Barirah menjawab, "Aku sudah tidak membutuhkan dirinya Mughits lagi” (HR. Al-Bukhari no. 5283).

*Dua Pelajaran Penting*

Dari kisah di atas, setidaknya ada dua pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu:

*Pertama*, mendahulukan ketaatan kepada Nabi SAW dan betapa mulianya akhlak beliau SAW. 

Hal ini terlihat dari pertanyaan Barirah kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku untuk rujuk?" Jika perkataan beliau adalah sebuah perintah, Barirah akan memenuhi permintaan beliau, tetapi karena itu bukan perintah—hanya sekadar anjuran—Barirah memutuskan untuk tidak kembali, karena ia merasa sudah tidak membutuhkan suaminya.

Pun, hadits ini menunjukkan bagaimana kemuliaan akhlak Nabi SAW. Beliau tidak menggunakan kedudukannya Sebagai Nabi untuk memerintahkan Barirah rujuk, ia hanyalah memberikan saran saja, bukan suatu kewajiban yang harus ditaati. MasyaAllah.

*Kedua*, memilih sesuai ketentraman hati.

Hadits di atas memang dalam pembahasan bolehnya mantan budak untuk memilih antara tetap menjadi istri dari suaminya yang masih budak atau bercerai dengannya. Namun, kaum perempuan yang merdeka—tanpa sebelumnya menjadi budak—pun berhak memiliki hak pilih antara menerima atau menolak pinangan laki-laki yang ingin menikahinya.

*“WAHAI ABBAS, TIDAKKAH KAMU HERAN TERHADAP KECINTAAN MUGHITS KEPADA BARIRAH DAN KEBENCIAN BARIRAH KEPADA MUGHITS.”* (Sabda Nabi MUHAMMAD SAW)


Melihat Orang Lain Dari Kacamata Berbeda

 


Perlakuan yang tidak adil dalam memperlakukan seseorang dimana  ini merupakan sifat manusiawi yang kita miliki pada umumnya,

Apabila kita senang atau suka kepada seseorang apapun yang dilakukan, kita memberikan dukungan selalu. 

kalau orang yang kita suka tersebut berbuat salah maka kita akan melakukan teguran dengan amat sopan jangan sampai menyakiti hatinya, 

Beda halnya apabila kita tidak suka, merasa tersaingi ataupun merasa dia akan membuat kita ditinggalkan, 

perbuatan baik apapun dilakukannya tetap saja kita tidak akan melihatnya berbuat baik.

" Aku adalah bagaimana anda memandangku, kalau anda memandang aku sebagai orang jahat sebaik apapun perbuatanku tetap saja dalam stigma anda aku ini orang jahat, 

Namun kalau anda mengganggap aku orang baik andai berbuat salah, anda hanya bilang aku sedang khillaf... 

Jadi sebisa dan sebaik mungkin perlakukan orang lain dengan baik tanpa membedakan asal usul dan latar belakang orang tersebut..

Bagaimanapun setiap orang memilik masa lalu yang tidak bisa kita atur dan sedemikian rupa sesuai keinginan kita.. hargai, dan hormati orang lain kalau kita ingin di hormati.

 JANGAN MERASA PINTAR TAPI PINTARLAH DALAM MERASA...