Jumat, 02 September 2022

AMALAN SYUKUR

 


Marilah  kita isi dengan pujian-pujian ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rasa syukur kita atas karunia yang begitu besar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Terutama karunia besar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seorang manusia, yaitu karunia iman dan Islam.

Barangsiapa dikasih karunia iman dan Islam, maka seketika itu juga dia telah menjadi orang yang semulia-mulianya manusia. Iman dan Islam adalah tanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala cinta kepada seorang hamba. Iman dan Islam adalah tanda bahwa seorang hamba akan menjadi raja-raja di syurga Allah

Apabila ada iman dan Islam dalam hati sesesorang, maka apapun yang terjadi menjadi baik bagi dia. Kalau kaya baik, dengan kaya dia akan tambah amalannya. Kalau miskin baik, karena miskin akan menjadikan sedikit urusannya di dunia dan di akhirat. Kalau sehat baik, dengan sehat dia tambah kuat untuk berbuat kebaikan. Kalau sakit pun baik, karena dengan sakit akan berguguran dosa-dosanya.

Jadi, apapun baik. Hidupnya menjadikan dia baik, karena bertambah pahalanya. Mati pun menjadikan dia baik pula, karena akan menghadap kepada Tuhannya. Bahkan Para Ulama’ mengatakan, kalaupun di dunia ini kita mendapat kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan kita perlu mensyukurinya, karena kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan yang ada di dunia ini akan mempunyai hikmah yang besar.

Dengan kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan itu kita menjadi kurang betah di dunia ini. Kita akan bertambah rindu kepada negeri akhirat. Amalan kita pun akan bertambah baik. Dengan kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa mendatangkan berjuta-juta kesusahan, kok Dia mendatangkan hanya kesusahan itu, maka itu merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Ibaratnya kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan seribu kesusahan, kok cuman hanya menurunkan seribu kesusahan, padahal Allah kuasa mendatangkan trilyun-trilyun kesusahan, maka kita pun perlu mensyukuri hal itu.

Maka, orang beriman itu isinya bersyukur saja. Kalau dikasih susah bersyukur dan kalau dikasih gembira pun bersyukur. Apapun keadaannya, bersyukur saja. Itulah orang yang paham, yaitu orang yang punya pemahaman kalau dunia ini diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ditentukan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesusahan-kesusahan kepada orang beriman bukan untuk menghancurkannya. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesusahan-kesusahan kepada
orang beriman supaya dia tambah banyak pahalanya, tambah kemuliaannya, dan tambah bersih dosa-dosanya.

Kalau orang itu paham, maka dia akan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kegembiraaan. Dia juga akan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kesulitan.
Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menuruti hajat-hajat kita, bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak kuasa menuruti hajat-hajat kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa memberikan hajat-hajat kita berjuta-juta kali lipat, bermilyar-milyar, dan bertrilyun-trilyun kali lipat. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunaikan hajat-hajat kita sedikit demi sedikit itu untuk apa? Jawabnya, karena ada hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hajat kita yang sebenarnya adalah hajat kita di akhirat nanti. Supaya di sana kita mendapatkan bagian yang sebanyak-banyaknya. Maka, kita duduk dalam keadaan bersyukur, berdiri dalam keadaan syukur. Setiap napas kita, kita isi dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau kita menjadi orang yang bersyukur, maka kebaikan-kebaikan akan datang dari segala arah. Apa saja yang kita syukuri, nanti di akhirat tiba-tiba akan menjadi kebaikan-kebaikan. Begitu pula sebaliknya, apa saja yang kita keluhkan, nanti di akhirat akan menjadi keburukan-keburukan.

Kita syukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nikmat iman dan Islam kita syukuri dengan sebenar-benarnya. Nikmat berupa punya teman-teman yang mengamalkan agama itu juga kita syukuri. Karena berkah orang yang mengamalkan agama itu bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk tetangga-tetangganya, bahkan seluruh umat.

Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebab di kampung kita sudah banyak orang ‘alim dan hafizh al-Qur’an. Nikmat ini perlu kita syukuri, Sebagian ulama’ mengatakan, “Kalau kampung kamu tidak ada yang hafizh al-Qur’an, maka orang-orang kampung itu mendapat dosa semuanya. Dosa gratis tanpa terasa.” Akan tetapi, kalau di kampung kita banyak orang yang hafizh al-Qur’an, banyak ahli ilmu, maka berkahnya akan kembali kepada kita di dunia dan juga di akhirat. Maka, kita syukuri keadaan itu semua.

Kalau keadaan-keadaan ini kita syukuri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah lagi kebaikan dan menambah lagi kebaikan. Untuk itu, semua kebaikan perlu kita syukuri. Entah itu kebaikan dunia ataupun kebaikan agama Kalau kebaikan-kebaikan dunia ini kita syukuri, maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi kehidupan dunia ini. Kalau kebaikan-kebaikan agama ini kita syukuri, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah keberkahan agama.

Apa saja kita syukuri? Contohnya, ketika kita ke masjid. Ketika kita ke masjid yang kita pikirkan bukan hanya ke masjid, tetapi bagaimana ke masjid dengan syukur. Shalat dengan syukur. Ruku’ dengan syukur. Sujud dengan syukur. Sekali sujud apabila diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala itu
lebih mahal daripada dunia dengan segala isinya. Baca Qur’an dengan syukur. Berjumpa dengan orang Islam dengan syukur. Berjabat tangan dengan orang Islam dengan syukur, karena setiap berjabat tangan dengan orang Islam akan menggugurkan dosa-dosa dan akan maqbul do’a-do’anya.

Kita bisa bernapas dengan satu napas harus bersyukur, karena napasnya orang yang beriman itu mahal. Satu napas yang digunakan untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hasilnya akan kita lihat selama-lamanya, berjuta-juta tahun yang akan datang Maka semua napas kita ini, kita syukuri. Kedipan mata kita ini, kita syukuri. Dengungan telinga kita, kita syukuri. Aliran darah kita, kita syukuri. Kalau semua itu kita syukuri, maka akan menjadi amal kebaikan yang akan kita lihat hasilnya selama-lamanya.

















Rabu, 31 Agustus 2022

TIPUAN SYETAN

 


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan siang dan malam silih berganti. Dari siang dan malam itu timbullah bulan-bulan dan tahuntahun. Itu semua merupakan perjalanan bagi seorang manusia menuju akhirat yang selama-lamanya.

Mau tidak mau kita akan digiring oleh siang dan malam untuk menuju tempat yang pasti yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui Para Nabi dan Para Rasul-Nya, yaitu negeri akhirat yang selama-lamanya. Maka, betul-betul rugi orang yang hanya sibuk mencari dunia saja, sehingga dia lupa dengan negeri akhirat yang selama-lamanya.

Rugilah orang yang maju-mundur di dalam amal, sehingga sampai mati tidak ada kesempatan dan tidak ada kesungguhan di dalam membangun akhiratnya.

Kita ini bukanlah manusia pertama di dunia ini, janganlah kita mengira dunia ini akan lama. Kakek-nenek kita dulu ada di dunia, sekarang sudah pergi dari dunia ini. Tetangga kita di kanan kiri kita satu persatu mulai berangkat ke negeri akhirat yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi kita tidak mau berpikir juga.

Setiap kita melihat orang mati, maka seolah-olah dia saja yang mati, saya tidak akan mati. Kalau kita melihat orang-orang yang berangkat ke akhirat, maka seolah-olah mereka saja yang berangkat, saya tidak akan berangkat.

Kalau kita diberi tahu kehidupan Para Nabi dan Para Rasul ’Alaihimussalam yang siang malam memikirkan akhirat, maka kita akan takjub dan heran, seolah-olah yang butuh akhirat itu mereka saja. Sedangkan kita tidak perlu dengan akhirat.

Inilah kebodohan yang telah masuk ke dalam hati kita, masuk ke dalam pikiran dan sanubari kita, yang telah menjadi watak kehidupan kita siang dan malam. Kita tidak pernah bersungguh-sungguh dengan kehidupan akhirat. Sedangkan akhirat itu adalah perkara yang sungguh-sungguh. Kematian itu adalah perkara yang sungguh-sungguh. Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah perkara yang sungguh-sungguh. Maka, mesti kita hadapi dengan sungguh-sungguh pula. 

Hari yang mulia ini waktunya kita berpikir sejenak. Apakah akan ada gunanya dunia ini untuk kita? Ketika malaikat Izrail datang menghantarkan diri kita ke negeri akhirat, apakah jabatan ada gunanya, apakah pengaruh ada gunanya, apakah sawah ladang kita ada gunanya, apakah anak istri kita bisa menolong kita, apakah golongan kita, partai kita, bisa menolong kita? Jawabnya: tidak, sama sekali tidak. Oleh karena itu, mengapa kita terus saja tertipu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an :

“Janganlah engkau tertipu dengan kehidupan dunia. Jangan kamu tertipu dengan sang penipu, yaitu syetan.” (Q.S. Luqman: 33)

Syetan mengiming-ngimingi kita kenikmatan-kenikmatan dunia. Padahal syetan tidak punya dunia ini. Dunia ini milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menakut-nakuti dengan kesusahan-kesusahan. Sedangkan mereka tidak kuasa mendatangkan kesusahan. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kuasa mendatangkan kesusahan.

Maka, janganlah kita menggubris bisikan-bisikan syetan itu. Senantiasa kita mendengarkan dan selalu kita mengingat apa yang telah diiming-imingkan oleh Pencipta alam semesta ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui Para Nabi ‘Alaihimussalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengiming-imingi kita, kalau kita takwa kepada Allah, mengamalkan agama dengan sungguh-sungguh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkati kehidupan kita ini. Allah akan menjadikan kubur kita menjadi pertamanan-pertamanan syurga. Kemudian kita akan masuk ke dalam syurga kekal abadi, selama-lamanya, bersama Para Nabi, Para Rasul dan wali-wali Allah.

Kesusahan-kesusahan dunia yang dibisikkan oleh syetan ke dalam hati kita sebetulnya tidak ada apa-apanya. Kesusahan bagaimanapun tidak akan mungkin terjadi tanpa kehendak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesusahan yang kecil, kesusahan yang besar, hanya terjadi kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala. menghendaki. Tidak usah kamu takut susah. Takutlah kepada yang membikin susah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kenikmatan yang besar dan kenikmatan yang kecil tidak mungkin akan terjadi tanpa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, berharaplah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan berharap kepada yang lain. 

NIKMAT YANG AGUNG

 


Senantiasa kita mensyukuri nikmat Allah Yang Maha Besar yang telah diberikan-Nya kepada kita, yaitu nikmat iman dan Islam. Nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang besar dan sangat besar. Maka, syetan siang dan malam membuat usaha bagaimana supaya manusia itu lupa dengan nikmat yang begitu besar ini. Kalau manusia sudah upa, dia akan mudah dicuri oleh syetan. Dia akan menganggap bahwa nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang biasa-biasa saja. Dia menganggap iman dan Islam adalah nikmat yang biasa-biasa saja sehingga dia pun tidak merawatnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Itulah puncak usaha syetan. Pada akhirnya, nikmat ini, kalau tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa hilang dari dada kita.

Di antara nikmat besar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita adalah kita dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai umat Yang Mulia Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan keberkahan sebagai umat beliau kita menjadi semulia-mulianya umat, karena beliau adalah semulia-mulianya Nabi. 

Karena kita dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala umat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka amalan yang nilainya sedikit bernilai sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kita dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai umat Baginda Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita mendapat kemuliaan mengamalkan sunnah-sunnahnya, kemuliaan meneruskan perjuangannya. Karena tidak akan ada Nabi lagi, tidak akan ada Rasul lagi, setelah Yang Mulai Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka umat ini dapat kemuliaan meneruskan perjuangan Beliau.

Bukan hanya sekadar meneruskan perjuangannya saja, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan umat ini sebagai penanggung jawab perjuangan Yang Mulia Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bukan hanya sekadar dakwah saja, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan umat ini sebagai penanggung jawab untuk membangkitkan urusan dakwah di mana-mana di seluruh dunia. Bukan hanya pengamal agama saja, tetapi sebagai penyeru agama. Bukan hanya penyeru agama saja, tetapi penanggung jawab untuk merintis, memulai, dan membangkitkan kerja agama. 

Itu semua adalah bukan hanya sekadar tugas. Itu adalah kemuliaan. Itu adalah karunia. Itu adalah kehormatan yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat ini. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia yang begitu besar lagi kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita kitab al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang dijamin keasliannya sampai Hari Kiamat. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia ini yang masih asli. 

Al-Qur’an dikaruniakan kepada umat ini agar umat ini senantiasa bisa berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui al-Qur’an. Mendapatkan nasihat asli dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui alQur’an. Maka, sudah semestinya kita mencintai al-Qur’an. Membacanya siang dan malam. Menyemangatkan anak-anak kita untuk belajar alQur’an dan menghapal al-Qur’an. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan Ilmu Para Nabi dalam al-Qur’an. Al-Qur’an isinya adalah ilmu yang bermanfaat di dunia ini dan menjadi cahaya di kubur kita. 

Al-Qur’an menjadi kebanggaan pada Hari Kiamat. Bukan hanya sekadar kebanggaan bagi yang membaca saja, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi kedua orang tua dan keluarganya. Di sana, di akhirat, orang bisa merasa bangga karena anak-anaknya menjadi hafizh-hafizh al-Qur’an. Di sana, di akhirat, orang bisa merasa bangga karena keluarganya menjadi hafizh-hafizh al-Qur’an. 

Orang merasa bangga bisa berdekatan dengan hafizh-hafizh alQur’an, karena berdekatan dengan ahli al-Qur’an ini pun sudah mendatangkan berkah.

Sekarang mungkin belum tampak, tetapi nanti di akhirat orang-orang yang meremehkan perkara ini akan menyesal. Ternyata ilmu agama adalah ilmu yang besar. Ilmu yang akan ada harganya selama-lamanya saat ilmu-ilmu dunia sudah tidak ada harganya. Di mana dunia mau ada harganya, sedangkan dunia sendiri sudah ambruk, alias kiamat.

Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita umur beberapa hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan untuk persiapan pulang ke akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya. Hal itu berarti, Allah Subhanahu wa Ta’ala masih mambuka kesempatan kepada kita untuk bertaubat. 

Umur itu mahal. Sedetik saja umur yang digunakan kita untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa untuk membeli istana-istana di syurga. Sebaliknya, kalau umur ini tidak digunakan kita untuk taat, bahkan digunakan untuk maksiat, kalau kita tidak cepat-cepat bertaubat, maka akan menjadi penyesalan yang tidak akan ada habisnya.

Maka pada Hari Jum’at yang mulia ini, kita cangcut tali wondho memperbaiki niat kita lagi. Syetan datang dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri kita menggoda agar kita menjadi loyo, agar kita terkesan dengan kehidupan dunia ini, dan lupa dengan kehidupan akhirat yang selama-lamanya. Syetan menggoda kita agar terkesan dengan makhluk lupa dengan Pencipta. Syetan menggoda kita supaya terkesan dengan harta benda, lupa dengan amalan-amalan agama.

Padahal, semua itu kalau kita mau merenung, bagaimana kalau kita ini sudah duduk di Padang Mahsyar? Tentu semua tidak akan ada nilainya apa-apa, selain hubungan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, taat kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tangisan kita waktu malam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalan yang dibuat kita hanya sedikit saja yang bermanfaat. Amalan-amalan lainnya semua tidak ada nilainya sama sekali.  

DUNIA TEMPAT UJIAN

 


Semua orang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi, kebanyakan manusia lupa bagaimana caranya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat tersebut. Para Nabi dan Rasul ’Alaihimussalam, bahkan Nabi yang terakhir, yaitu Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semuanya telah memberikan petunjuk kepada manusia bahwasanya syarat pertama

dan yang utama supaya manusia bahagia di dunia dan bahagia di akhirat adalah apabila manusia itu punya hubungan yang benar kepada Penguasa dunia dan Penguasa akhirat, kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang ingin kebahagiaan dunia ini tanpa berhubungan baik dengan Pencipta dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti dia akan gagal. 

Siapa yang ingin kebahagiaan akhirat nanti tanpa ada hubungan baik dengan Penguasa akhirat, Allah Subahanahu wa Ta’ala, pasti dia akan menyesal. Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu salah satu makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Barangsiapa yang takwa, maknanya yakinnya kepada Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala benar, kehidupannya siang dan malam dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar dari segala masalahnya. Hal itu berarti, orang takwa itu juga mempunyai banyak masalah di dunia ini.

Memang dunia ini diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dengan masalah. Namun, akhirnya masalah tersebut diberi jalan keluarnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang benar-benar takwa dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, setiap kesulitan apapun yang dihadapinya akan diselesaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan akhir (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al A’raf: 128)

Janganlah kita berharap hidup tanpa ada masalah. Memang dunia ini diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dengan masalah. Masalah itu bukanlah masalah yang sebetulnya. Masalah itu untuk meningkatkan derajat orang-orang yang beriman. Masalah itu pun untuk menjatuhkan derajat orang-orang yang tidak beriman.

Masalah di dunia ini justru supaya membuat kita sadar bahwa dunia ini bukanlah tempat kita yang sebenarnya. Tempat kita yang sebenarnya adalah akhirat. Masalah-masalah yang datang kepada kita di dunia ini adalah untuk meningkatkan derajat kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masalah-masalah yang datang kepada kita di dunia ini adalah untuk menghapus dosa-dosa yang telah kita buat.

Tidak henti-hentinya musibah datang kepada orang beriman, sehingga akhirnya dia mati dalam keadaan bersih dari segala dosa. Ia menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mendapatkan ridho Allah. Akhirnya ia pun masuk syurga tanpa hisab. 

Akan tetapi, bagi orang yang tidak bertakwa, masalah-masalah itu justru menambah dia semakin jauh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menambah dia makin banyak dosa. Menambah dia kian sengsara di dunia sebelum mendapatkan adzab di akhirat. Inilah kehidupan dunia.

Memang kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang menyenangkan terus-menerus. Tidak ada kehidupan seperti itu. Orang-orang suci pun, Para Nabi dan Para Rasul ’Alaihimussalam juga menghadapi masalahmasalah. Para Shahabat Radhiallahu ‘Anhum pula menghadapi masalah-masalah. Wali-wali Allah jua menghadapi masalah-masalah. Akan tetapi, tetap saja mereka menjadi orang-orang yang mulia di dunia sebelum di akhirat. Maka, janganlah engkau menjadikan masalah-masalah di dunia ini sebagai alasan untuk menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berseru penyelesai masalah adalah kalau kita betul-betul ta’alluq kepada Allah, bergantung kepada Allah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tambah banyak masalah, tambah bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tambah banyak masalah, tambah taat kepada Allah. Tiba-tiba masalah berubah menjadi berkah. Ini adalah dunia. Dunia ini tidak lama. Hari berganti hari. Tiba-tiba akhirat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah sampai di depan mata kita. Dunia akan hilang, akhirat akan datang. 

Kematian akan datang, harta benda akan habis ditinggalkan. Tinggal hisabnya saja yang berkepanjangan. Mati akan datang. Sedangkan kita tidak bisa bertaubat lagi, tidak bisa beramal lagi. Kemudian kita akan menyesal, “Kenapa saya tidak beramal?! Kenapa saya tidak bertaubat?!”

Maka, bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum kematian itu datang. Kematian akan datang di waktu-waktu yang tidak kita sangkasangka. 

Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, akan menjumpai kamu juga. Kemudian kamu semua akan dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bercerita kepada kamu mengenai amalan-amalan kamu di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak perlu laporan kepada siapa saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak perlu bertanya kepada siapa saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah tahu segala-galanya. Justru kalau kita menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang akan bercerita kepada kita, “Kamu dulu berbuat begini, kamu dulu berbuat begini.”

Alangkah beruntungnya kalau orang itu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala ridho, “Dulu kamu senantiasa berbuat apa yang Aku ridhoi.”

Dan alangkah celakanya seorang hamba yang menghabiskan umurnya dalam maksiat. Dan kemudian dia tidak mau bertaubat. Lalu Allah berfirman kepada dia,“Kamu dulu berbuat begini, kamu dulu berbuat begini. Kamu kira Saya tidak tahu?!” Itulah malapetaka yang sebesar-besarnya.

Maka, pada Hari ini marilah kita perbarui niat kita. Bagaimana sisa-sisa umur kita ini hanya untuk tawajuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghadapkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menangis kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kita di dunia menjadi orang-orang yang berkah dan di akhirat menjadi orang-orang yang mulia.  

Selasa, 30 Agustus 2022

ADAB MENZIARAHI KUBUR

 


RAMAI ORANG TIDAK SADAR Dan Tidak Tahu Waktu Afdal Ziarah Kubur.

Terutama kubur ibubapa. Disunatkan menziarah pada hari Khamis selepas Solat Asar, sepanjang hari Jumaat dan hari Sabtu sebelum Zohor. Waktu ini roh ada diperkuburan dan menunggu anak-anak menziarahinya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan daripada Abu Hurarah r.a Hadis rasulullah saw :

Seorang anak yg menziarahi kubur ibubapanya pada hari-hari tersebut diatas akan dicatatkan kepadanya pahala seperti membuat kebaikan kepada kedua ibubapanya semasa hayat mereka. Dan dosa-dosa anak tersebut diampunkan oleh Allah SWT.

Jika anak tersebut adalah seorang yang derhaka semasa hayat ibubapanya, dengan menziarahi kubur ibubapa akan dicatatkan sebagai anak yg taat.

Ketika dikubur :

1. Memberi salam kepada simati dengan panggilan yang biasa semasa hayatnya. Seperti "Assalamualaikum mak/bapa". Roh mendengar dan menjawab salam.

2. Hendaklah kita menghadap kearah muka/kepala simati dan kita membelakangkan kiblat.

3. Membaca quran atau doa-doa yg baik untuk simati.

Al-Fatihah buat insan-insan tersayang yang telah pergi meninggalkan kita.

Aamiin ... 

Isteri Solehah

 


 المرأة الصالحة، إذا نظر إليها سرته، و إذا أمرها أطاعته، و إذا غاب عنها حفظته. (رواه أبو داود)

Maksudnya : Daripada Ibnu Abbas meriwayatkan Rasulullah ﷺ bersabda : " Mahukah kamu aku khabarkan tentang sebaik-baik harta bagi seorang lelaki ? Adalah wanita (isteri) solehah. Apabila kamu melihat kepadanya, dia akan membahagiakan, apabila kamu memberi arahan kepadanya, dia akan mentaati dan apabila kamu tidak berada disisinya, dia pasti akan menjaga maruah dirimu."

 Isteri yang solehah adalah sebaik-baik perhiasan dan harta bagi seorang suami. 

 Tujuan menikah adalah untuk menjadi isteri yang solehah. Keredhaan Allah terletak pada khidmat seorang isteri terhadap suaminya.


 Isteri yang solehah itu bagaimana ? 

 Selalu menyenangkan hati suaminya.

 Dia taat pada Allah, pada Rasulullah dan taat suaminya.

 Isteri yang solehah sentiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik pada suaminya, hatta dia selalu menampilkan yang terbaik yang tercantik ketika dihadapan suaminya agar suaminya senang hati dan cinta kepadanya.

 Memanggil suami dengan panggilan yang disukai oleh suami.

 Selalu memandang suami dengan wajah yang tersenyum 

 يستغفر للمرأة المطيعة زوجها : الطير في الهوى و الحتان في الماء و الملائكة في السماء، ما دامت في رضى زوجها

Wanita yang taat suaminya, burung-burung akan meminta keampunan untuknya, makhluq-makhluq di lautan juga akan meminta keampunan untuknya, dan malaikat di langit akan meminta keampunan untuknya selagimana isteri itu berada didalam redha seorang suami.

 Menyenangkan hati suami itu satu ibadah. Wanita yang faham didalam pernikahan itu adanya redha Allah, maka dia akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya.

 Suami apabila senang dengan isterinya, dia redha akan isterinya maka dia akan melayani dengan penuh kelembutan dan kasih sayang serta memuliakan isterinya.

 Seorang isteri apabila taat suaminya maka dia akan mendpaat kemuliaan disisi Allah.

 Ikutilah keindahan dan kemuliaan akhlaq Sayyidah Khadijah Al-Kubro didalam pernikahannya bersama Rasulullah ﷺ. Beliau bahkanenggunakan seluruh tenaga dan upayanya untuk membantu dan berkhidmat kepada Rasulullah. Semua ini kerana beliau telah berbaiat cinta dengan Rasulullah. Demi cinta kepada Rasulullah, beliau sanggup melakukan apa sahaja. MasyaAllah 

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai wanita yang solehah,isteri yang solehah, wanita yang diredhai Allah dan Rasulullah didunia dan akhirat. Berusahalah untuk itu, Allah melihat setiap usaha dan pengorbananmu. Kelak DIA akan menempatkanmu di kedudukan yang mulia disisiNYA. Ameen 

Semoga bermanfaat 

Minggu, 28 Agustus 2022

JANGAN MUDAH BERHUTANG !

 


Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.

Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari.” (HR. Al-Bukhari)

Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.

Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين

“Akan diampuni seluruh dosa orang yang mati syahid kecuali hutang.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!


Wallahu a'lam.