Jumat, 04 November 2022

HUBUNGAN ERAT ANTARA IBADAH DAN REZEKI


 Ada Kaitan Erat Antara Ibadah dan Rezeki. 

Sesibuk Apa Pun Sempatkan Ibadah, insya Allah kita sudah memahami kaitan antara rezeki dan ibadah. Allah  juga menjamin rezeki semua makhluk-Nya.

Sejumlah ayat Al-Quran dan hadits berikut ini melengkapi dan mempertegas hal itu. Ada kaitan antara iman, takwa, ibadah, shalat, dan rezeki. Jika rezeki seret, mari introspeksi, istighfar, dan segera menuju ampunan Allah SWT.

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS Al-A’raf : 96).

“Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Ma-idah:65-66).

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq:2-3)

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132).

Harapan (roja') adalah kekuatan batin orang beriman. Dengan beriman, takwa, ibadah, terutama sholat, Allah sesuai dengan janji-Nya, tidak akan menahan rezeki kita. 

Jika rezeki seret, pailit, omzet menurun, bisnis lesu, dan sejenisnya, mari introspeksi diri: apakah ibadah kita menurun, sedekah menurun, zakatnya gak dibayar? Jika merasa sudah semua, apakah ikhlas?

Jika merasa sudah semua dan ikhlas, maka yakinlah, Allah sedang menguji untuk rezeki dan keberkahan yang terbaik. Amin..! Wallahu a'lam bish-shawabi.


Kamis, 03 November 2022

DOA YG DIJABAH DALAM KONDISI DARURAT

 


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Doa yang dipanjatkan kepada Allah dalam kondisi darurat akan diijabah dengan cepat; seperti yang terombang-ambing di lautan, saat terancam, dan semisalnya. Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan dan yang menghilangkan kesusahan.”  (QS. Al-Naml: 62)

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia.  Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.”  (QS. Al-Isra’: 67)

Sementara doa seorang mukmin dalam kondisi lapang dan tidak mendesak biasanya ditangguhkan kepada waktu yang tepat. 

Bahkan tertundanya pengabulan doa hakikatnya sinyal kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia suka mendengar doa hamba tersebut.

Hikmah lainnya dari ditangguhkannya doa, karena Allah menginginkan hamba tadi semakin banyak pahala dengan ia selalu berdoa kepada-Nya. Karena doa adalah ibadah. Siapa berdoa, dia sedang melakukan ibadah. Siapa beribadah maka akan diberi pahala atas ibadahnya tersebut.

Berbeda dengan permintaan (dari urusan dunia) yang langsung dikabulkan, penjelasan Imam al-Baghawi di tafsirnya atas QS. Al-Baqarah: 186,

“Dan Allah segera memberi (permintaan) orang yang tidak disukai-Nya karena Allah membenci suaranya (rengekannya).”

Bagi seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakan doa hamba-Nya. Jika doa tersebut sesuai qadha’ dan mendatangkan kebaikan untuknya, maka Dia akan segera mengabulkan permintaannya. Jika Allah tidak mentakdirkan isi permintaannya, Allah simpan pahalanya di akhirat atau Allah hindarkan keburukan semisalnya dari dirinya.

Saat Allah perintahkan berdoa kepada hamba, maka Dia berkehendak mengabulkan doanya dan memberi permintaannya.  Jangan putus asa. Dia maha tahu waktu tepat untuk mengabulkan doa.

Sesungguhnya berdoa lebih mulia dari materi yang diminta dalam doa. Berdoa termasuk ibadah. Terkadang, Allah tunda pengabulan doa supaya hamba semakin banyak berdoa kepada-Nya, karena Allah suka mendengar rintihan doa hamba tadi dan Allah ingin memberi pahala lebih banyak untuknya.

Allah menginginkan ibadah dari kita. Dia suka kalau kita berdoa kepada-Nya dan memperbanyak doa. Sementara kita umumnya lebih suka kepada hasil doa yang berisi kebutuhan dan kemashlahatan diri kita.

Maka pasang 2 terget dalam berdoa; Pertama, sebagai ibadah yang Allah sukai. Kedua, mendapat kebaikan dari Allah.

Jika demikian kita tidak akan pernah berputus asa dalam berdoa kepada Allah. Jika lama permintaan tak dikabulkan, kita husnudzan kepada Allah, Dia sedang memberi kesempatan untuk lebih banyak ibadah kepada-Nya.

Namun perlu diingat, ini hanya berlaku dalam kondisi yang tidak mendesak. Jika dalam kondisi mendesak, maka Allah akan segera kabulkan doa hamba. 

Contohnya, doa Nabi Musa saat terdesak dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, maka Allah segera kabulkan doa Nabi Musa sehingga laut terbelah dan Musa luput dari kejaran musuh Allah.

Begitu juga kisah Nabi Ibrahim saat akan dibakar. Beliau merasa tidak ada yang bisa menyelamatkannya kecuali pertolongan Allah, maka beliau berdoa kepada-Nya dan Allah segera mengabulkan doanya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.


Siapa Aku Di Hadapan Tuhanku


 SUBUHNYA ..

di mana aku berada

masih enak dalam kelambu rindu

sambil berfoya-foya dengan waktu

masa bagaikan menderu

langkah tiada arah tuju

fikiran terus bercelaru

terlupa aku semakin dihujung waktu

siapa aku di depan Tuhanku.


ZOHORNYA ..

aku lebih memikirkan kelaparan

kehausan dan rehatku

aku lebih mementingkan

tuntutan jawatanku

aku bertolak ansur dengan waktu

aku gembira membilang keuntungan

aku terlupa betapa besar kerugian

jika aku mengadaikan ketaatan

siapa aku di depan Tuhanku.


ASARNYA ..

aku lupa warna masa

cepat berubah bagaikan ditolak-tolak

aku masih dengan secawan kopiku

terlupa panas tidak dihujung kepala

aku masih bercerita

tentang si Tuah yang setia

dan si Jebat yang derhaka

siapa aku didepan Tuhanku.


MAGHRIBNYA ..

aku melihat warna malam

tetapi aku masih berlegar

di sebalik tabirnya

mencari sisa-sisa keseronokan

tidak terasa ruang masa yang singkat

jalan yang bertongkat-tongkat

ruginya bertingkat-tingkat

siapa aku di depan Tuhanku


ISYAKNYA ..

kerana masanya yang panjang

aku membiarkan penat

menghimpit dadaku

aku membiarkan kelesuan

menggangguku

aku rela terlena

sambil menarik selimut biru

bercumbu-cumbu dengan waktuku

siapa aku di depan Tuhanku.


kini aku menjadi tertanya-tanya

sampai bila aku akan

melambatkan sujudku

apabila azan berkumandang lagi

aku tidak akan membiarkan

Masjid menjadi sepi

kerana di hujung hidup ada mati

bagaimana jenazah

akan dibawa sembahyang di sini

jika ruangku dibiarkan kosong

jika wajahku menjadi asing

pada mentari dan juga bintang-bintang.


Siapa Aku Di Depan Tuhanku

Jadilah Seorang Insan Yang Pandai Untuk Bersyukur


 Ramai yang menderita apabila hidupnya memburu kasih sayang manusia. Ibubapa menangis apabila anak-anak tidak menyayanginya, anak-anak menangis apabila ibubapa tidak sayanginya, adik beradik berhasad dengki dalam merebut cinta ibubapanya.

Suami isteri dicengkam prasangka bimbang tidak disayangi, teman-teman bergaduh berebut untuk disayangi, pelbagai kekecewaan akan menghantui apabila merasai diri tidak disayangi.

Berpalinglah dari kepenatan memburu kasih sayang manusia, tetapi buru lah kasih sayang Allah. Diri mu dicipta untukNya bukan untuk sesiapa. Sayangilah manusia kerana Allah ﷻ, jadikan kasih sayang sebagai ibadah mu, bukan bertujuan untuk mendapat balasan kasih sayang manusia.

Jika kamu disayangi maka syukurlah diri mu pada Allah ﷻ, jika kasih sayang mu tidak dihargai, maka ingatlah Allah ﷻ tetap dan sentiasa menyayangi mu, cintaNya semakin mendalam pada mu jika segala perbuatan mu adalah untuk mencari CintaNya.

Kosongkan hati mu selain dari Allah ﷻ, jika engkau betulkan hati mu kepada Allah ﷻ, nescaya Dia akan betulkan hati-hati manusia kepada mu, jika engkau berpaling dari dunia, dunia akan mendatangi mu.

Jangan sekali menyalahkan takdir, takdir sudah terbaik untuk mu, namun apabila engkau tak dapat menerima takdir yang menguji mu hingga engkau melakukan hal yang salah mengikut emosi mu, maka engkau binasakan diri mu, bukannya Allah ﷻ yang zalimi mu. 

Kesalahan membawa hidup penuh penyesalan. Namun selagi nafas masih berjalan pada diri mu, bermakna Allah ﷻ memberi peluang membetulkan kesalahan mu. Jika mereka yang engkau bersalah telah meninggal dunia, maka tebuslah kesalahan mu,  lakukan amal yang baik sebagai hadiah untuknya. Di atas dunia kita tak boleh bahagiakan mereka, insyallah Allah ﷻ memberi peluang untuk kita bahagiakan mereka di akhirat.

Gunakan anugerah nafas untuk membetulkan kompas kehidupan. Jadikan segala kelakuan mu memburu cinta Allah ﷻ dan Rasul ﷺ, nescaya engkau akan mendapat kebahagiaan yang hakiki.

Rabu, 02 November 2022

DOA YG DIJABAH DALAM KONDISI DARURAT


 Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Doa yang dipanjatkan kepada Allah dalam kondisi darurat akan diijabah dengan cepat; seperti yang terombang-ambing di lautan, saat terancam, dan semisalnya. Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan dan yang menghilangkan kesusahan.”  (QS. Al-Naml: 62)

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia.  Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.”  (QS. Al-Isra’: 67)

Sementara doa seorang mukmin dalam kondisi lapang dan tidak mendesak biasanya ditangguhkan kepada waktu yang tepat. 

Bahkan tertundanya pengabulan doa hakikatnya sinyal kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia suka mendengar doa hamba tersebut.

Hikmah lainnya dari ditangguhkannya doa, karena Allah menginginkan hamba tadi semakin banyak pahala dengan ia selalu berdoa kepada-Nya. Karena doa adalah ibadah. Siapa berdoa, dia sedang melakukan ibadah. Siapa beribadah maka akan diberi pahala atas ibadahnya tersebut.

Berbeda dengan permintaan (dari urusan dunia) yang langsung dikabulkan, penjelasan Imam al-Baghawi di tafsirnya atas QS. Al-Baqarah: 186,

“Dan Allah segera memberi (permintaan) orang yang tidak disukai-Nya karena Allah membenci suaranya (rengekannya).”

Bagi seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakan doa hamba-Nya. Jika doa tersebut sesuai qadha’ dan mendatangkan kebaikan untuknya, maka Dia akan segera mengabulkan permintaannya. Jika Allah tidak mentakdirkan isi permintaannya, Allah simpan pahalanya di akhirat atau Allah hindarkan keburukan semisalnya dari dirinya.

Saat Allah perintahkan berdoa kepada hamba, maka Dia berkehendak mengabulkan doanya dan memberi permintaannya.  Jangan putus asa. Dia maha tahu waktu tepat untuk mengabulkan doa.

Sesungguhnya berdoa lebih mulia dari materi yang diminta dalam doa. Berdoa termasuk ibadah. Terkadang, Allah tunda pengabulan doa supaya hamba semakin banyak berdoa kepada-Nya, karena Allah suka mendengar rintihan doa hamba tadi dan Allah ingin memberi pahala lebih banyak untuknya.

Allah menginginkan ibadah dari kita. Dia suka kalau kita berdoa kepada-Nya dan memperbanyak doa. Sementara kita umumnya lebih suka kepada hasil doa yang berisi kebutuhan dan kemashlahatan diri kita.

Maka pasang 2 terget dalam berdoa; Pertama, sebagai ibadah yang Allah sukai. Kedua, mendapat kebaikan dari Allah.

Jika demikian kita tidak akan pernah berputus asa dalam berdoa kepada Allah. Jika lama permintaan tak dikabulkan, kita husnudzan kepada Allah, Dia sedang memberi kesempatan untuk lebih banyak ibadah kepada-Nya.

Namun perlu diingat, ini hanya berlaku dalam kondisi yang tidak mendesak. Jika dalam kondisi mendesak, maka Allah akan segera kabulkan doa hamba. 

Contohnya, doa Nabi Musa saat terdesak dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, maka Allah segera kabulkan doa Nabi Musa sehingga laut terbelah dan Musa luput dari kejaran musuh Allah.

Begitu juga kisah Nabi Ibrahim saat akan dibakar. Beliau merasa tidak ada yang bisa menyelamatkannya kecuali pertolongan Allah, maka beliau berdoa kepada-Nya dan Allah segera mengabulkan doanya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.

SEDEKAH ITU MENDATANGKAN KEBERKAHAN HIDUP


 Tidak ada ceritanya orang yang terus menerus bersedekah akhirnya jatuh miskin. Yang ada justru sebaliknya.

Mereka yang bersedekah, terus menerus bertambah kaya. Lihatlah sosok  sahabat Abdurrahman bin Auf yang walau sudah menginfaqkan ‘segunung’ hartanya di jalan Allah, ternyata hartanya makin berlimpah dan berlimpah.

Karena Allah Pasti Mengganti

Allah memang menjanjikan penggantian yang layak pada semua infaq dan sedekah yang kita keluarkan, seperti dalam firmanNya, 

“… Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya,” (QS Saba’ : 39).

Sedekah atau Infaq yang diberikan nyatanya memang dibalas Allah dengan yang jauh lebih baik.

“Segeralah kamu bersedekah, karena bala bencana itu tidak dapat mendahului sedekah,” (HR. Al Baihaqi).

Orang-orang yang enggan berinfaq dan bersedekah sesungguhnya menggambarkan  jiwa yang sakit dan iman yang lemah. 

Maka seharusnya bila Anda merasa sehat secara psikologis juga terus menerus membangun iman, infaq dan sedekah adalah amalan rutin yang terus Anda lakukan. 

Sebagian orang beranggapan bahwa mengeluarkan harta dalam bentuk zakat, infak dan sedekah fisabilillah akan mengurangi jumlah nominal harta, bahkan bisa menyebabkan kefakiran. Hal ini wajar, karena sifat dasar manusia adalah pelit. Selain itu, setan selalu menggoda orang yang akan berinfak agar takut kepada kefakiran.

Setan ingin agar manusia tidak mendapat pahala dan kebaikan yang menjadi sarana masuk surga. Allah Ta'ala berfirman:

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs Al-Baqarah 268).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: setan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.

Katanya Allah Ada 1, Kok Make Kata "Kami"


 Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr 9)

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata," (Al-Fath 1)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan." (Al-Qadr 1)

Pertanyaan-pertanyaan seperti judul diatas mungkin pernah kita dengar, dan mungkin juga kita sendiri yang mempertanyakan. Bukankah Islam mengajarkan bahwa Tuhan yaitu Allah itu Esa, namun kenapa memakai dhamir نا yang berarti jamak yang artinya "Kami"? Apakah ini artinya Allah ada banyak atau Islam tidak konsisten dan kontradiksi? Tentunya tidak, mari kita bahas.

Sebagaimana post admin sebelum ini, bahasa Arab dan bahasa Indonesia tidak bisa disamakan. Memang kata rujuk "نا" itu bermakna jamak dan dipakai saat menggambarkan berbilangnya sesuatu.

Beberapa orang mencoba mengartikan ayat ini dengan anggapan bahwa Allah memakai kata "Kami" untuk menunjukkan bahwa Allah bekerja bersama Malaikat, bahwa Malaikat terlibat disana, padahal tentunya jawaban ini kurang tepat dan jawaban yang asli lebih simpel dari itu.

Jawaban yang sebenarnya adalah menggunakan shigat/bentuk معظم لنفسه (Muadzam Linafsihi) yang berarti mengagungkan dirinya sendiri. Jadi kata "نا" itu berfaedah 2 hal "Mutakallim Maal Ghair" dan "Muadzam Linafsihi" maka kata "نا" yang ada di Quran itu bermakna faedah yang kedua yang menunjukkan bahwa Allah sedang mengagungkan diriNya sendiri, dan perkara memakai kata ganti "Kami/نا" sudah umum dipakai oleh para raja dan bangsawan-bangsawan manapun untuk merujuk dirinya sendiri, mengapa? Jawabannya yaitu tadi untuk mengagungkan dirinya sendiri karena dibalik kata "Kami" terdapat kewibaan tersendiri bagi yang memakainya. Jadi jika kalian menemukan kata "Kami" dalam Al-Qur'an ingat, itu bukan berarti Allah lebih dari satu (Subhanallah) melainkan hal itu untuk menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah sendiri.